“Halo, siapa namamu?”
Kudongakkan kepala dari novel yang sedang kubaca.
Sepasang mata ramah berwarna hazelnut sedang menatapku lekat-lekat. Senyum jenaka tercetak di wajah berkulit putih bersih itu, dihiasi satu lesung kecil di sebelah kiri.
Hmmm.. tampan. Senyumnya sepertinya sudah tak asing bagiku.
Biasanya, aku akan menanggapi semua pria tak kukenal yang mencoba berkenalan denganku di bandara seperti ini, dengan senyum malas, bahkan hanya anggukan sekilas. Biasanya setampan apapun orangnya, aku terlalu malas untuk membalas.
Itu biasanya.
Namun, entah mengapa, kali ini senyum riang dan hangat yang akrab itu menarik perhatianku seperti magnet.
Kusambut uluran tangannya. “Hai. Namaku Langit.”
“Langit?” Alis tebalnya naik sebelah ke atas. “Nama yang cantik. Secantik sang pemilik nama.”
Aku otomatis tertawa. Pria muda berambut gondrong ini pede sekali. Baru berkenalan, sudah berani gombal.
“Apa kau selalu merayu semua wanita yang kau ajak berkenalan?”
Giliran dia yang tertawa.
Seketika aku terpana memandang tawanya yang lepas. Tawanya benar-benar tidak asing.
Mirip sekali…
Ah, kugelengkan kepala, mengusir pemikiran yang menyamakan pria ini dengan tunanganku sendiri.
“Maaf. Kebiasaan burukku. Terlalu terus terang,” ujarnya sambil mengacak-acak rambutnya sendiri.
Mata hazelnutnya berkilat menatapku. Membuatku tersipu malu.
“Aku bosan,” celetuknya tiba-tiba.
“Namamu bosan?”
Dia tertawa lagi. “Kamu lucu… Ah iya, namaku Bintang. Maksudku, aku bosan menunggu kakakku datang menjemputku dan aku tidak membawa apapun yang bisa dibaca atau didengarkan. “
“Oh… karena itulah kamu mengangguku?”
“Memangnya kamu merasa terganggu?” Cengiran jenaka itu muncul lagi.
Aku tersenyum. Pria ini menarik. Hmm… Aneh. Tidak biasanya aku menanggapi orang asing seperti ini.
Tapi, tidak ada salahnya jika mengobrol sambil membunuh waktu hingga tunanganku menjemputku, bukan?
***
“Kakakmu sudah datang?” tanyaku ketika dia menutup teleponnya.
“Sudah, dia di depan sana. Aku akan ke depan mencarinya. Sampai ketemu lagi kapan-kapan. Telepon aku jika kau tak bersama tunanganmu,” candanya sambil tertawa dan melambaikan tangan.
Aku ikut tertawa. “Bodoh! Sampai jumpa!”
Memandang punggungnya yang berjaket abu-abu itu, entah kenapa, terbersit perasaan sedih berpisah dengannya. Sudah satu jam berlalu sejak dia tadi pertama menanyakan namaku. Tadi kami asyik mengobrol — walaupun obrolan ringan tentang hobi kami yang sama, travelling — hingga lupa waktu.
Kenapa aku jadi tidak rela berpisah dengannya? Aneh. Aku bahkan tak mengenal siapa dirinya, selain namanya. Bintang.
Aku menertawakan diriku sendiri.
Ponselku berbunyi. Ah, tunanganku. Ternyata dia juga sudah sampai.
Tak lama kemudian, Biru, tunanganku menghampiriku dengan senyum lebar.
Melihat senyumnya, tiba-tiba aku teringat dengan Bintang.
Bodoh! Segera kuhapus bayangan tentang Bintang dan memeluk Biru erat-erat.
“Sayang, seperti janjiku, aku akan memperkenalkanmu dengan orang yang istimewa. Dia juga baru datang hari ini,” ujar Biru sambil mencolek hidungku.
Aku mendongak dalam pelukannya, “Oh ya? Siapa?”
“Adikku,” Biru tersenyum lebih lebar sambil menoleh ke belakang. Memanggil seseorang.
Dan dia muncul di hadapanku.
Lagi.
Senyum jenaka yang sama. Rambut gondrong yang sama. Jaket abu-abu yang sama.
Namun, begitu melihatku, senyumnya lenyap dalam sekejap.
Mukanya memucat.
Kami sama-sama terpaku. Saling memandang selama beberapa detik, sebelum akhirnya dia kembali tersenyum dan menyapaku sambil mengulurkan tangan.
“Halo calon kakak ipar, siapa namamu?”
***
*ditulis dalam rangka #15HariNgeblogFF hari ke-1
(hil)

beenimnida
January 12, 2012 at 11:17 am
aww…
…
…
aww!
hildabika
January 12, 2012 at 4:35 pm
Awwwww
Wahyu Siswaningrum
January 12, 2012 at 11:55 am
pedihnyaaa..
hildabika
January 12, 2012 at 4:36 pm
Ehehehe.. Iya nih mba, entah kenapa saya demen nulis kisah yang romantis tragis :p
Rachma Lestari
January 12, 2012 at 2:43 pm
Kalo Bintang mau dimadu, gak papa sih ya mbak
:p
hildabika
January 12, 2012 at 4:40 pm
Ahahahaa… jangan, ntar jadi kayak lagu dong, dimadu cinta :p
)
Tapi Langit memang suka sama dua-duanya nih *belum menentukan ending kisah Langit-Biru-Bintang*
safitapermatasari
January 12, 2012 at 4:25 pm
aduhh… >.<
Langit. Bintang. Biru.
hildabika
January 12, 2012 at 4:42 pm
hihiihihi… iya
Kisah Langit-Bintang-Biru ini juga ada di posting “Langit Biru” (di blog ini) dan cerpen Sepotong Rindu (di kumcer Sepotong Rindu)
*siapa tahu mau baca, hehehe
Inge
January 12, 2012 at 9:50 pm
wah, sudah tunangan tapi belum mengenal semua anggota keluarganya ya…hehheheehehe
hildabika
January 13, 2012 at 2:49 am
terima kasiiih atas like-nya, inge
salam kenal 
iya, soalnya Biru melamar Langit hanya 2 minggu setelah mereka berkenalan, nah Bintang saat itu di luar negeri. Jadilah ini pertemuan pertama Langit dan Bintang. *kisah lengkapnya nanti rencananya mau aku jadiin jadi novel, hihihihi
любовь Чанмин (@Mrs_MINimarket)
January 17, 2012 at 10:07 am
yaaaaahh.. koq gitu
hildabika
January 17, 2012 at 4:30 pm
iyaa.. sedih yaa? hehehe