“Aku parah ya?”
Pertanyaanmu membuatku menoleh ke belakang. Agak tinggi di undakan pasir di belakangku, kamu sedang berbaring menatap langit. Menerawang jauh dengan tatapan sedih karena putus untuk ke-entah-berapa-kali dengan entah-ke-berapa-lelaki. Rambut panjangmu menjuntai di tepian undakan pasir itu.
“Parah?”
Aku mendekat dan bersandar pada undakan pasir itu. Menghadap ke lautan luas, berlawanan arah denganmu.
“I’m a mess. Damsel in distress yang nggak pernah ketolong sama pangeran manapun. Makanya aku nggak pernah bertahan pacaran dalam jangka waktu lama. Nggak ada yang cocok,” kamu menggerutu panjang lebar.
Aku tertawa.
“Kamu kan cowok. Menurutmu, aku cewek yang kayak gimana?”
“Kamu? Hmmm…”
“Jawab yang jujur! Kamu kan sahabatku. Harus jujur!” tuntutmu.
Aku terdiam sejenak memikirkan semua tingkahmu.
“Hmmm.. Kamu memang cewek yang parah. Suka bertindak sesukamu.”
“Kamu jujur banget ih!”
“Katanya suruh jujur?”
“Iya sih… Hmm… Ya udah, lanjut!”
“Makanmu banyak banget. Aku aja kalah.”
“Makanan enak nggak boleh ditolak!”
“Nggak bisa masak.”
“Apa gunanya kamu yang pinter masak?”
“Lebih suka beli buku ketimbang beli make-up.“
“Aku bahkan nggak bisa pakai eyeliner!” kamu mengaku sambil terkikik geli.
“Keras kepala. Bandel. Nggak mau nurut nasehat orang.”
“Makanya kuliahku nggak beres-beres ya.”
“Petualang. Spontan. Nekat pergi sendirian kemanapun kamu mau meskipun nggak ada yang nemenin.”
“Eh iya ya…”
“Nggak bisa bangun pagi kalau nggak dibangunin.”
“Kamu bener-bener tahu semua tentang aku ya! Hihihi…” Kamu tertawa geli.
“Lebih memilih begadang menulis ketimbang tidur.”
“Nulis asyik sih!”
“Kalau ketawa, ngakaknya kedengeran sampe ke ujung gang.”
Kamu mengikik lagi.
“Pokoknya kamu cewek paling parah yang aku pernah kenal.”
“Parah banget ya aku?”
Aku berbalik menghadapmu, mendekat ke kepalamu. Menatapmu dalam-dalam.
“Oleh karena itu, menikahlah denganku.”
Kamu tersentak, mendongak menatapku yang berada di atas kepalamu.
“Apa?”
Aku mendekat ke wajahmu hingga jarak hidung kita hanya beberapa senti.
“Kamu memang parah. Tapi aku lebih parah lagi, karena tak bisa berhenti mencintaimu yang parah ini.”
“…”
“Menikahlah denganku. Mau?”
***
*FF terakhir dalam rangka #15HariNgeblogFF hari terakhir. Oh iya, nanti testimoninya saya posting di post setelah ini ya ![]()

Ririn
January 27, 2012 at 8:00 am
Arrrggggh!!
suka sama tulisan yang ini ..#parah
hildabika
January 27, 2012 at 8:02 am
Hihiihihihii
Makasiiiiiii
chemistryofray
February 7, 2012 at 7:35 am
ini sifat aku udah kayak gini semua tapi kok..
ngga ada yang ngajak aku nikah ya
:S
hildabika
February 7, 2012 at 10:23 am
Suatu saat nanti, di kesempatan yang tepat. Pasti ada
Hihihihihi
chemistryofray
February 8, 2012 at 5:15 am
ngga apa – apa, masih muda ini
hihi