RSS

Tag Archives: #15harimenulisdiblog

.Everything Happens For A Reason.

.weheartit.

 

Setiap kali saya sedang bersedih, bingung, atau merasa keadaan sudah tak tertahankan lagi, saya mengingat quotes ini:

 

“Someday everything will make perfect sense. So for now, laugh at all the confusion, smile through the tears, and keep reminding yourself… everything happens for a reason.”

- Kami Dawn Asay -

 

Ya. Everything happens for a reason. Suatu hari nanti, ketika menengok kembali ke belakang, kita akan mengerti mengapa Tuhan menakdirkan kita begini.

Jadi, tersenyumlah.

Hidup cuma sekali. Mari kita nikmati.

Selamat hari ini! :)

 

(hil)

 
Leave a comment

Posted by on October 14, 2011 in quotes

 

Tags:

Menciptakan Masa Depan, Bersamamu.

.weheartit.

 

Will you marry me?”

Aku terpaku. Hah?

Dia tersenyum. Mengulang dengan tegas.

“Maukah kamu menikah denganku?”

Aku terdiam. Mungkin terbelalak. Menikah?

Usiaku 23. Dia dan aku memang sudah lama saling mengenal. Sekitar enam tahun. Tapi itu pun sebatas teman biasa. Sebatas teman kuliah biasa.

Kami baru dekat selama dua bulan. Itupun hanya sebatas bbm. Karena, pekerjaanku dan pekerjaannya ada di dua kota yang berbeda. Sekarang, kami tinggal di dua kota yang berbeda dengan jarak yang membentang.

Dan dia sekarang mengajakku… menikah?

Melihatku yang hanya terdiam seribu bahasa, dia memutuskan untuk menjelaskan.

“Aku tahu kamu terkejut. Aku juga takkan terkejut jika kamu menolakku sekarang. Aku tahu ini kedengarannya gila…”

Aku masih diam. Menunggu dia menyelesaikan penjelasannya.

“…Aku sudah sangat yakin padamu. Aku juga tak tahu mengapa. Yang aku tahu, aku ingin menikah denganmu. Dan aku siap menikah denganmu.”

“Tapi… kita kan…”

“Ya, aku tahu. Kita bahkan belum pacaran kan? Ini bahkan pertama kali kita bertemu untuk berkencan setelah dua bulan hanya bbm-an,” potongnya sambil tertawa.

Aku menatapnya seolah dia sudah gila. Sewaktu kami bbm-an saja, aku tidak yakin dia pedekate denganku. Jadi, bagaimana mungkin tiba-tiba dia mengajakku menikah, di kencan pertama kami ini? Apa dia sudah gila?

Seolah dapat membaca pikiranku, dia melanjutkan, “Aku tahu kelihatannya ini gila. Aku juga tak percaya aku bisa melakukan hal segila ini. Tapi satu yang pasti, aku ingin bersamamu. Aku tak ingin hanya sekali dalam sebulan kita bertemu. Aku tak ingin hanya bertemu dalam media bbm. Aku ingin bertemu denganmu setiap hari, setiap saat, setiap waktu.”

Dia menjelaskannya dalam satu tarikan napas. Cepat sekali. Sehingga kurasa aku sedang melayang-layang di alam mimpi. Sebelum akhirnya aku tersadar akan satu hal.

“Kamu… belum tahu siapa aku dan bagaimana keadaanku. Kamu yakin mau menikah denganku? Kamu pasti akan mundur begitu tahu latar belakangku,” ujarku defensif.

Aku mungkin akan dengan mudahnya berkata iya, kalau saja tidak memikirkan hal-hal yang memberatkanku. Memangnya dia bisa menerimaku seutuhnya?

“Aku akan mengenal dirimu seiring berjalannya waktu. Aku tak peduli apa latar belakangmu. Aku tak keberatan dengan apapun masa lalumu. Yang aku inginkan, menciptakan masa depan. Bersamamu. “

Yang aku inginkan, menciptakan masa depan. Bersamamu.

Aku terpana. Terhipnotis oleh kata-katanya.

Dia masih menatapku lekat-lekat. Dan aku bisa melihat kesungguhan di situ.

Kehangatan menjalar di tubuhku seketika.

Aku tersenyum. Ah, mungkin aku juga sudah gila.

“Yes. I do.”

***

 

(hil)

 
2 Comments

Posted by on October 14, 2011 in Fiksi

 

Tags:

.Rumahku.

.weheartit.

 

Aku sering membayangkan, bagaimana kelak rumahku bersamamu nanti.

Rumah mediteranian dengan atap tinggi, jendela lebar, dan pilar-pilar?

Rumah oranye mungil berdinding batu bata dengan kebun cantik di halaman?

Rumah futuristik yang simpel dan elegan dengan kaca-kaca transparan?

Apakah di tepi pantai? Apakah di apartemen di pusat kota? Apakah di atas bukit?

 

Namun, kemudian aku tersadar.

Seperti apapun rumah kita nanti, tidak akan menjadi masalah bagiku.

 

Rumahku yang sesungguhnya, adalah di manapun kamu berada.

Karena, di manapun kamu berada. Di situlah hatiku ada.

 

Rumahku itu. Kamu.

 

(hil)

 
2 Comments

Posted by on October 13, 2011 in love

 

Tags:

.Kotak.

.weheartit.

 

Pada suatu masa, kisah kita pernah ada.

Kisahku denganmu.

Namun, aku ingin bergerak maju. Berpacu dengan waktu yang terus melaju.

Tak selamanya aku akan menoleh ke arahmu.

Yang bisa kulakukan:

Menyimpan semua kenangan tentang kita. Dalam sebuah kotak.

Kumasukkan semuanya hingga tak bersisa. Lalu, menguncinya rapat-rapat. Meletakkannya di tempat yang tepat.

Karena aku sadar, semakin aku mencoba melenyapkannya, semakin aku melihat dengan jelas bahwa kotak itu masih ada.

Jadi, kubiarkan saja di situ. Bukankah tiap kenangan punya tempatnya sendiri-sendiri?

Kutinggalkan kenangan tentangmu di situ. Lama-lama akan berdebu. Termakan waktu.

Lambat laun, tanpa kusadari, kau sudah terlupakan dengan sendirinya.

Kau lihat? Aku sudah membuka kotak baru. Siap membuka kenangan yang baru. Lembaran baru yang memang sudah tertulis untukku.

Dan yang pasti, bukan denganmu.

 

Dari mantanmu,

(hil)

 

*Sebuah tulisan untuk mereka yang berjuang melupakan mantannya. Semakin kau mencoba melupakannya, semakin kenangan itu akan menghantammu. Jadi, biarkan saja. Kenangan itu akan memudar dengan sendirinya. Tanpa kau sadari. Suatu saat nanti.

 
2 Comments

Posted by on October 11, 2011 in love

 

Tags:

.Fà che piova.

.weheartit.

Fà che piova (Let it rain)
Fà che il cielo mi lavi il dolore (Let heaven wash away my pain)

Tik. Tik. Tik. Rintik hujan menari manis.

Kenangan menyeruak seketika. Ada rindu yang menguar hangat dari tiap tetes hujan di luar jendela. Rinduku yang melimpah ruah padamu. Kau, yang menjadikan aku pukul 3 pagimu, dulu.

Selalu seperti itu. Hujan mengingatkanku padamu. Padamu yang seperti candu, mampu membuatku kembali memikirkan dan merindumu. Lagi dan lagi.

Padahal, kau benar-benar biasa. Tidak istimewa. Lalu, mengapa hatiku tak mampu melepasmu? Ah, mungkin, karena kau hadir di saat aku sedang berada di titik terbawah. Saat aku terbelenggu di titik terlemah. Kau selalu ada. Seperti sejuknya hujan yang membasahi tanah hati. Itulah mengapa aku seperti tertarik oleh daya gravitasimu.

Itu pula sebabnya, kenangan tentang kau dan hujan membuatku takut. Takut jika hujan datang, aku akan teringat lagi padamu, lalu merindumu. Dan kemudian, sudut mataku akan basah. Hatiku akan melemah.

Maka, aku menghindari hujan. Aku menyingkir, berteduh, berlindung, seolah tiap tetesnya bisa melukai kulit hatiku. Seakan dengan berlindung dan menghindarinya, kenangan tentangmu tak kan muncul lagi.

Terus dan terus begitu. Sampai di satu titik, aku akhirnya tersadar. Bahwa hujan mengajariku sesuatu.

Mengajariku untuk berani merelakan dan meninggalkan masa lalu. Memahami bahwa tiap tetesnya diciptakan oleh Tuhan untuk menghapus semua kesedihan di masa lalu.

Aku duduk diam membayangkan. Ketika langit mendung, yang menandakan kesedihan sudah terlalu pekat di hati. Hujan akan turun. Menghapusnya hingga bersih. Lalu, akan datang mentari yang bersinar cerah. Pertanda hari baru telah tiba. Hari baru penuh cinta.

Hujan yang turun serasa berbisik, “Tinggalkan kenangan tentangnya. Kemarilah. Biar aku membasuh semua luka.”

Ya. Kali ini. Aku tidak akan bersembunyi lagi. Aku akan membiarkan hujan turun. Menghapus semua kenangan tentangmu. Sampai habis terkikis.

Fà che piova (Let it rain)
Fà che il cielo mi lavi il dolore (Let heaven wash away my pain)

Dan sekarang, ketika aku menari di bawah hujan. Merasakan tiap tetesnya merasuk di kulitku. Aku menyadari sesuatu :

Tak ada lagi rasa tentangmu. Tak ada lagi rindu untukmu.

(hil)

 

*judul dan kutipan lagu, saya ambil dari “Let it rain” by Bon Jovi & Jon Bon Jovi

 
3 Comments

Posted by on October 10, 2011 in hujan

 

Tags:

.Hanya Satu: Kamu.

.weheartit.

 

Denting jam dinding Gedung Biru bergema, pertanda tengah malam telah tiba. Sambil melangkah dari lantai empat menuju parkiran, kutatap langit di atas sana.

Bulan dan bintang bersinar cerah. Ini hari bahagia, begitu bisik mereka. Ah, mereka benar rupanya.

Sebuah kejutan kecil menyambutku di parkiran. Kamu duduk manis di dalam mobilmu, menjemputku sepulang rapat larut malam yang menguras pikiran.

Seluruh lelahku menguap seketika. Mendapati dirimu tengah tersenyum dan memandangiku mesra.

“Selamat ulang tahun, dek!” bisikmu.

 

Lilin-lilin kecil menyala. Kamu mengucap doa.

Semoga bahagia selalu, begitu katamu. Kutiup lilin sambil mengucap amin.

Tak ada bunga. Tak ada hadiah yang dipita.

Tapi, kehadiranmu di malam itu, dengan kue tart cokelat pilihan ibumu, serupa kembang api di tahun baru. Membuatku tersenyum haru.

 

“Maaf, aku tak membawa hadiah apa-apa,” ujarmu.

Aku tersenyum simpul menatapmu. Kamu dengan segala kesederhanaanmu. Dengan semua kejutan kecil itu. Menawan hatiku.

 

Kamu tahu? Tanpa kamu sadari kamu sudah membawa hadiah terindah untukku.

Hadiah paling istimewa. Hanya ada satu di dunia.

Dirimu.

 

Ya. Yang kumau hanya satu:

Kamu.

(hil)

 

 

 

 

*seharusnya postingan ini ditulis tanggal 19 Februari 2010 :’)

 
4 Comments

Posted by on October 9, 2011 in love

 

Tags:

.Berdansa di Depan Jendela.

.weheartit.

Memandang keramaian di malam minggu.
Di sudut jendela ini, aku merindumu.

Hei, kamu yang jauh di situ.
Datanglah kemari, genggamlah jemari.

Suatu saat nanti, kita akan berdansa di depan jendela.
Atau sekedar duduk berdekapan di ambangnya, dengan cinta yang menyala-nyala.

Yang menunggu di sudut rindu,
(hil)

 
Leave a comment

Posted by on October 8, 2011 in love

 

Tags:

Untuk Yang Maha Mendengarkan

.weheartit.

 

Tuhan,

Saya tahu saya masih jauh dari yang disebut hamba yang taat.
Saya tahu saya masih sering sekali bandel dan melanggar aturan-Mu.
Tapi kali ini saya benar-benar mohon pada-Mu.

Bolehkah saya memesan sebuah kebahagiaan?
Untuk kedua orang tua saya.

Hati saya teriris perih merasakan tetesan air mata bunda di punggung saya, ketika beliau memeluk saya dari belakang dan menceritakan semua beban.
Dada saya sesak melihat tubuh ayah yang makin kurus mengering termakan pikiran.

Tuhan, tolong bahagiakan mereka berdua.

Saya sadar mungkin cobaan dari-Mu untuk keluarga kami ini, karena Engkau sayang pada kami, Tuhan.

Kata ayah saya, “Soalnya mamamu mau diberi tempat tertinggi sama Allah, jadi diuji dulu sama ini.”
Benar kan, Tuhan?

Tuhan, boleh ya saya memesan kebahagiaan?
Untuk orang tua luar biasa yang saya miliki.
Mereka memang tidak sempurna. Tapi, saya sangat mencintai mereka, dengan segala ketidaksempurnaan saya.

Saya sering berandai-andai. Andai kebahagiaan bisa dipesan. Saya tidak tahu lagi dimana lagi saya bisa memesan kebahagiaan, jika bukan pada Engkau, Sang Pencipta kebahagiaan itu sendiri.

Saya yakin Engkau mendengarkan. Terima Kasih, Tuhan.

—–

Sebuah pesan untuk Tuhan Yang Maha Mendengarkan.

ditulis di bawah terik mentari Jogja, dalam diam, dalam doa, dalam-dalam,

(hil)

Sebuah kehangatan di tengah dinginnya Bromo.

 
2 Comments

Posted by on October 7, 2011 in family, love

 

Tags:

.Dalam Bundar Telur Dadar.

Aku percaya, cinta itu sederhana. Bisa ditemukan di mana saja dan dalam bentuk apa saja.

- Dominique Diyose -

 

Cinta itu sederhana.

Sesederhana pelukan, kecupan, dan kompresan ibu ketika saya demam tinggi.

Sesederhana ayah yang menjemput saya di dini hari dengan sepeda motor dan membonceng saya dengan tubuh kurusnya.

 

Cinta itu sederhana.

Tak harus sempurna. Tak melulu mewah.

 

Dan pagi ini,

Saat menggigil kedinginan dan kehabisan sesisir roti,

Saya menemukan cinta dan kehangatan yang luar biasa, meski sederhana.

Saya menemukannya,

Dalam bundar telur dadar.

(hil)
Suatu pagi nanti, saya dan kamu akan berbagi telur dadar
dengan dada berdebar dan cinta yang berpendar.
*Kutipan Dominique Diyose saya ambil dari buku Life Traveler by Windy Ariestanty :)
 
Leave a comment

Posted by on October 6, 2011 in life, love

 

Tags:

.Mari Bermain.

.weheartit.

1992

“Heli, guk guk guk, kemali, guk guk guk, ayo lali-laliiiii…” nyanyinya riang gembira di atas becak.

Kunciran ekor kudanya bergoyang-goyang manis seirama dengan lagu. Panasnya udara seakan tak jadi masalah. Yang terasa hanyalah hembusan angin yang mengiringi kayuhan becak yang ditumpanginya siang itu.

2011

Holly sh*t!” erangnya.

Sepeda motornya oleng, karena ban yang tiba-tiba bocor, sekaligus hampir terserempet sepeda motor lain di tengah ruwetnya jalan raya. Panas mentari makin membakar kulit dan emosinya. Lengkap sudah penderitaannya. Dituntunnya sepeda motor dengan menggerutu.

1992

“Nggak! Aku mau ke cekolah cekayang! Huhuhu…” Tubuh mungilnya tergugu. Kesal setengah mati ketika sang bunda tidak memperbolehkannya berangkat ke Taman Kanak-Kanak.

Padahal, dia sudah tak sabar untuk mewarnai lagi. Tidak sabar mendengar kelanjutan peragaan boneka si Unyil dari gurunya. Ditatapnya seragam dan perlengkapan sekolahnya dengan sedih.

“Ini tanggal merah, sayang. Libur dulu ya sekolahnya. Besok masuk lagi ya.”

Dia tetap cemberut. Sebal dengan tanggal merah. Membuatnya tak bisa masuk sekolah.

2011

Ditatapnya jam dinding dengan bimbang. Ah, kesiangan lagi. Tugasnya baru sempat dikerjakan seperempat. Dosennya killer pula. Ugh, amit-amit.

Ditariknya selimut menutupi kepala. Diketiknya Blackberry dengan cepat.

“PING! Titip absen yaaa. Please, pleasee. Kamu baik deh. Makasii *kisskiss.”

1992

“Huaaaaaa… Mama, mamaaa! Feliii nakaal, aku dicubiittt..”

Tangisnya pecah, berlari ke arah pelukan bundanya. Mengadu karena ada anak laki-laki iseng menjahilinya.

Dipeluknya bundanya erat-erat.

2011

Tes. Tes. Tes. Air mata mengalir di pipi mulusnya. Tanpa jeda. Tanpa suara.

Lelaki buaya! Hatinya terlilit sakit. Seperti dicubit-cubit.

Dipeluknya bantal erat-erat.

1992

Ditatapnya ice cream warna-warni itu dengan damba. Sayang hidungnya sedang mampat. Dia pilek. Sang bunda melarangnya makan kudapan itu. Es klim! Es klim! Es klim! Di kepalanya hanya terngiang-ngiang kata-kata itu. Dia mau ice cream sekarang juga!

2011

Ditatapnya tumpukan berkas dan buku setebal bantal di hadapannya. Tugas kantor dan kuliah membuat kepalanya pecah. Masalah A, B, sampai Z menyesak seakan mau meledak di kepalanya. Belum lagi tuntutan tinggi dari orang-orang di sekitarnya. Kepalanya berkunang-kunang. Pusingnya bukan kepalang.

——–

Segalanya terasa lebih mudah, ketika sakit yang kita rasakan hanya karena seseorang mencubit kulit kita, bukan mencubit hati kita.

Segalanya terasa lebih mudah, ketika kita hanya menggambar indahnya dunia, bukan meneliti permasalahan ekonominya.

Segalanya terasa lebih mudah, ketika yang ada di kepala kita hanyalah es yang mencair manis di mulut, bukannya tumpukan masalah yang bikin kepala kita terserang angin ribut.

Segalanya terasa lebih mudah, ketika kita berumur empat tahun, duduk di taman bermain, dan hanya main-main.

——-

Jadi, mari bermain-main sebentar ke masa kanak-kanak.

Ketika panasnya udara menyerang garang, kenapa tidak mencoba bersenandung riang?

Ketika dia menginjak-injak dan mencubit hatimu, menangislah sepuasmu.

Lalu, buang ke tempat sampah bersama tisu bekas air mata. Karena itu artinya dia tidak berharga untuk kita cinta.

Ketika semua masalah mendesak kepala hingga mau pecah, mari dinginkan sejenak dengan lembutnya es yang melumer di lidah.

Ayolah, hidup tidak akan asyik jika semua berjalan mulus dan tak ada masalah!

Hadapi saja dengan gagah. Susah? Ya iyalah. Gagal? Ya sudahlah. Ambil saja semua hikmah.

 

                                 .weheartit.

This world is our playground.

Mari bermain!

(hil)

 
Leave a comment

Posted by on October 5, 2011 in life

 

Tags:

 
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.