…segelas air putih…

...segelas air putih...

...segelas air putih...

menanti seorang yang biasa saja
segelas air di tangannya, kala kuterbaring… sakit
menantang malam, tanpa bimbang lagi
demi satu dewi yang lelah bermimpi
dan berbisik: “Selamat tidur, tak perlu bermimpi bersamaku…”

(Curhat Buat Sahabat by Dewi ‘Dee’ Lestari)

Akhir-akhir ini insomnia akut kembali menyerang saya.
Karena mata saya tetap tak bisa terpejam, kemarin saya pun memutuskan mencari-cari sesuatu yang bisa saya baca.
Tanpa sengaja pandangan saya jatuh pada Rectoverso hasil karya Dee.
Ada satu cerita dalam buku ini yang saya sangat suka. Judulnya, Curhat Buat Sahabat. Ya yang penggalan puisinya saya kutip di atas itu. Penggalan puisi favorit saya…
Hmmm… melihat penggalan puisi karya Dee itu, saya jadi ingat sebuah mimpi…

***

Tik tok… tik tok

Sunyi…

Jam di dinding saya menunjukkan pukul 00.00 WIB tepat
Saya tetap terbaring diam di tempat tidur
Menahan pusingnya kepala saya
Tisu bertebaran disekitar saya
“Huachih…”
“Uhuk…”
Bersin dan batuk bergantian menyerang.
Saya kan sudah minum obat flu? Kenapa nggak mempan sih? Kenapa saya malah nggak bisa tidur??

Perut saya sakit.
Aah.. iya… saya cuma makan roti sisa semalam.
Ransum saya habis. Saya malas keluar kos. Untuk bangun saja kepala saya masih pusing, gimana mau keluar?

Sudah dua hari ini saya sakit.
Biasanya kalau saya sakit, saya melarikan diri ke Sidoarjo, ke rumah tercinta.
Kali ini beda kasus. Mama dan papa saya sedang melayat ke Jakarta, nenek saya dari papa telah berpulang ke sisi-Nya, meninggal dunia.
Alhasil, saya pun mencoba bertahan di kos-kosan ini.
Sendirian.

Pusing kembali menyerang.
Saya melirik handphone yang tergeletak di samping bantal.
….
Tak ada tanda-tanda dia menelepon atau sms.
Padahal dia orang pertama yang saya beri tahu ketika saya sakit kemarin.
Sayangnya, sampai detik ini dia tidak membalas sms saya. Menelepon juga tidak.

Tiba-tiba ada rasa sakit yang berbeda menyerang ulu hati saya.
Dia sedang asyik menatap langit, hilda…
Mungkin dia sedang menari bersama bidadarinya…

Dentuman-dentuman menghantam kepala saya.
beberapa kalimat yang baru-baru ini saya dengar, kembali tergiang di telinga saya.
“Waktu aku bertanya tentangmu ke dia, dia malah cerita tentang bidadarinya”
“Kok kayaknya cuma kamu yang berusaha untuk hubungan kalian. kok dia malah cuek-cuek aja?”
“Dia sms ke teman kita itu, bilang kangen katanya. Kok dia bisa gitu ya?”
Kalimat-kalimat itu terus terngiang di kepala saya.
kepala saya pusing.
Mata saya panas…
tak bersyukurkah dia memiliki saya?
Tes…
Tes…
air mata ini terasa panas.
perih.

“uhuk…”
batuk itu terasa menyesakkan dada saya.
Saya kembali menatap handphone disamping saya.
….
….
Pusing itu kembali menyerang…
mungkin karena sedang sakit ya… entah kenapa saya begitu sentimentil begini…
biasanya orang sakit kan sangat sensitif dan rapuh…

dua hari.
saya sakit.
tapi tak sedikitpun dia peduli.
“Dia malah enak-enakan ketawa disini. Happy-happy aja tuh. Kok tega ya? padahal kamu kan lagi sakit? jadi pengen nabok,” ucapan salah seorang sahabat lainnya juga terngiang…

ah.. sudahlah…
sudahlah…
saya lelah… lelah…
Saya menyerah….

puisi-nya Dee benar…
Usai tangis ini, saya bertekad dalam hati…

menanti seorang yang biasa saja
segelas air di tangannya, kala kuterbaring… sakit
menantang malam, tanpa bimbang lagi
demi satu dewi yang lelah bermimpi
dan berbisik: “Selamat tidur, tak perlu bermimpi bersamaku…”

Tes…
Tes…

Tik Tok… tik tok…
setengah satu…
sunyi…
Suara dari televisi berseliweran, tapi saya seakan tak dapat mendengarnya…
lapar…
saya ingin bubur ayam bang dudung…

tiba-tiba handphone saya bergetar…
menarilah dan terus tertawa… walau dunia tak seindah surga…(message alert)
“lg apa?
Bntr lg q krmhmu.
Tak cariin bubur… blm mkan kn?
Tggu y… Ok?”

kamu…

saya masih memandangi handphone dengan tak percaya…
kamu?
Bagaimana bisa?

Kamu…
kamu yang akhir-akhir ini entah bagaimana bisa masuk ke hidup saya..
dan selalu membuat saya tertawa (padahal kamu bukan badut kan ya?)
kamu…

“Hah?? apa? Jangan, jangan, nggak nggak usah…
rumahmu kan jauuuuh banget dari rumahq?”

(message sent)

handphone saya kembali bergetar…
“q kn udh pindah rumah, hahahhaha… udh. Tnggu aja…”

hah?
Oke, kali ini saya benar-benar terkejut…
bagaimana kamu bisa tahu saya sedang ngidam bubur ayam??

tiba-tiba handphone saya bergetar lagi
Kali ini bukan kamu…
tapi sms dari sahabat saya.
Seorang sahabat yang tahu saya sedang sakit-sendirian-dan-belum-

makan dan ikut mangkel pada dia yang sama sekali tidak peduli pada saya
“tenang aja, sebentar lagi ada pangeran berkuda putih menyelamatkan tuan putri”

saya terpaku menatap sms dari sahabat saya itu…

jadi… benarkah itu?
Kamu bakalan kesini?
….
Saya melirik jam dinding
jam satu malam….
rumah kamu kan jauuuuuhhhh???

saya-yg-masih-pakai-daster segera mendobeli daster bali saya dengan long pants, kardigan, dan jilbab…
jantung saya berdebar kencang…
ini mimpi apa bukan sih?

saya hanya duduk terdiam,
masih dengan tebaran tisu di kamar,
dengan pusing yang berdentum-dentum
dengan handphone di tangan

handphone yang bergetar hampir saja saya lempar saking kagetnya
“q ddpn rmhmu…”

meski masih sedikit pusing, saya melangkah keluar kamar, membuka pintu depan…
dan disitulah kamu…
dengan sepeda motormu, bukan kuda putih
dengan jaketmu, bukan kostum kerajaan
iya… kamu memang bukan pangeran…
tapi kamu ada disitu…
didepan pintu pagar rumah saya
dengan satu senyumanmu…

plus bubur ayam…
oh.. plus… tiga emplek obat Anadex…
dan… tiga botol Aqua…
oh ada lagi ternyata…
vitamin C….

sejenak saya terpaku…
larut dalam haru…
mata saya terasa panas…
saya menutup mulut saya…
untung saat itu malam…
saya mendongak ke atas dan mengerjap-ngerjapkan mata…
semoga kamu tidak melihatnya….

saya cuma mampu berucap, “terima kasih ya…”

tapi kamu masih disitu, dan malah masuk kehalaman saya
“aku mau lihat kamu sampai ngabisin bubur itu, sampai kamu minum obatnya. Aku tungguin. Harus sampai abis,” katamu

saya tertawa…
iya pak dokter…

kamu dan saya duduk di teras kos-kosan saya.
Padahal waktu itu lampunya mati sebelah dan nyamuk merubung kepalamu..
Tapi kamu tetap duduk menunggui saya makan

ah.. bubur ayam hati… kamu hafal kesukaan saya ya…
hmmm.. enak…

kamu bercerita…
saya tertawa…
pusing itu telah melarikan diri entah kemana…

muka kamu lucu sekali saat bercerita sambil tanganmu yang menghalau nyamuk-nyamuk itu merubung kepalamu…
“maaf ya banyak nyamuk”
“Nggak.. emang akunya yang belom mandi kok”
hahaha… kamu selalu berhasil membuat saya tertawa ya…

obat…
“kok bisa dapet obat ini? Emang ada apotik yang masih buka?”
“tadinya mau beli di darmo, tapi tutup.. akhirnya ke … bla.. bla… belok ke… bla…”
saya menatapmu yang bercerita di mana apotik itu…
iya… saya tak tahu jalan apa itu…
tapi bagi saya… itu berarti…
kamu mau mencarikan apotik yang masih buka jam satu pagi hanya untuk membelikan obat bagi saya…

mata saya panas lagi…
terima kasih ya…

sesuai janjimu, kamu baru beranjak pulang saat saya sudah menghabiskan bubur itu dan menelan obatnya.
“ini bukan mimpi kok…” candamu…
hahahhaa… dasar… kamu tahu aja saya sedang membatin apa.

Saya menatapmu pergi sambil masih menenteng obat, vitamin C, dan botol Aqua yang kamu beri.

Saya masuk ke kamar.
Bersiap tidur…
Handphone saya bergetar lagi
“lgsg tdr, biar obatny bkrja. Met bobo…
ga usah mimpi apa-apa, biar nyenyak, hehehe…
cpt sembuh!”

menanti seorang yang biasa saja
segelas air di tangannya, kala kuterbaring… sakit
menantang malam, tanpa bimbang lagi
demi satu dewi yang lelah bermimpi
dan berbisik: “Selamat tidur, tak perlu bermimpi bersamaku…”

saya terpaku menatap sms-mu…
met bobo… ga usah mimpi apa-apa, biar nyenyak…

iya saya sudah lelah bermimpi…
lelah menanti pangeran yang asyik menatap langit…

hmmm…
mungkinkah ini sedang terjadi pada saya??
kamu menantang malam, tanpa bimbang lagi.
bukan segelas air putih memang…
tapi tiga botol Aqua…

dan bubur ayam…

… ditambah obat…

… vitamin c juga…

di dini hari buta itu, saya memejamkan mata untuk tidur dengan seulas senyum…

***

hmmm… mimpi yang indah ya?
Hmmm… rasanya saya tidak ingin terbangun…

tapi saya kan harus bangun…
hoaaahhmm….
perlahan… saya membuka mata…

begitu membuka mata, yang terlihat adalah…
sisa botol Aqua yang belum saya minum, obat, dan vitamin C…
hmmm…

handphone saya bergetar…
dari kamu
“gmn? Da enakan?”
*tersenyum*

(hil)

special for: sahabat saya, terima kasih telah minta tolong padanya malam itu =)
dan kamu…
kamu pasti tahu siapa dirimu =)

Advertisements

3 thoughts on “…segelas air putih…

  1. ceritanya mirip bgt sm poem dee y?!
    lucu…bs kebetulan gt!
    pangeran jaman skrg emg uda bertransformasi semua.
    ahahah…

    sy jg paling suka poem itu! poem pertama di buku rectoversa dee..

    “Bersamaku tak perlu bermimpi..”
    kata-katanya dalam bgt! >,<

    salam kenal y!
    tulisan na bgus! ^^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s