Passion

...do it with passion...

Do it with passion.

.

“Nobody can be successful unless he loves his work.”

(David Sarnoff, CEO of RCA)

.

“You never achieve success unless you like what you are doing.”

(Dale Carnegie)

.

“Apa sih yang bikin kamu bertahan sampai sekarang?”

“Kok kamu mau? Kalau aku sih, udah nggak kuat hil. Males banget kerja kayak gitu,”

“Kok kamu bisa tahan lama? Apa resepnya?”

Pertanyaan-pertanyaan semacam itu sudah sering saya dengar terlontar dari mulut teman-teman saya. Wajar mereka bertanya begitu

..

Saya bekerja di DetEksi Jawa Pos ini sudah lebih dari dua tahun.

Bukan waktu yang singkat, mengingat perputaran pekerja di sini sangat cepat.

Belum lagi tekanan kerja yang sangat berat.

Begitu banyak waktu yang tersita.

Teman-teman saya berguguran satu persatu.

Terus, mengapa saya keukeuh bertahan hingga detik ini?

.

Hmmm…

Sebenarnya, jawabannya simpel.

Dan sudah sering saya utarakan pada mereka yang bertanya-tanya itu;

“Karena saya suka menulis.”

.

Oke, mungkin terdengar remeh.

Tapi kekuatan “passion alias semangat” dan “rasa suka/cinta” itu memang sangat besar dan dahsyat.

.

Gini deh,

Orang yang jatuh cinta punya passion yang besaaar sekaliii…

Karena cinta dan passion-nya itu, orang terlemah mampu mendaki gunung dan menyebrangi samudera demi orang yang dicintainya.

Karena cinta dan passion-nya itu, orang rela melakukan apa saja demi orang yang dicintainya

Ya kan?

Cinta bisa bikin lemah jadi kuat

Cinta bisa bikin tidak mampu jadi mampu

Kekuatan cinta maupun passion itu memang dahsyat

Nah, kekuatan itulah yang membuat saya bertahan

Bukan… bukan cinta ke manusia. Tapi cinta pada apa yang saya kerjakan.

.

Weiitss… Jangan salah…

Saya juga pernah merasa down, depresi, mau menyeraaahh, dan berjuta emosi negatif lainnya.

Saya pernah mau berhenti (bukan hanya sekali, tapi berkali-kali), saking lelahnya.

.

Saya pernah bilang ke seseorang, “Udah cukup… nggak tahan. Aku mau berhenti. tapii… aku cinta banget nulis. Menulis itu seperti bernapas bagiku,”

Dia bilang,

Menulis itu seperti melangkah. Semua keputusan ada di tanganmu. Kalau kamu mau sampai pada tujuan, maka kamu harus mau melangkah. tapi kamu juga bisa diam aja di tempat dan tetap berada di titik yang sama. Semuanya terserah kamu,”

Dia juga bilang,

“Kalau kamu ingin kuat, kamu fokus saja. tanamkan, kamu cinta pada apa yang kamu kerjakan. Kamu cinta nulis kan?”

Dan…

Berhasil!

Dia benar *sigh! dia selalu benar*

.

Saya dapat bertahan menghadapi :

Susahnya setengah mati cari baju untuk halaman De-Style, keliling seluruh mall di Surabaya sampai kaki mau patah. Belum lagi membawa dan menggotong-gotong semua properti dan baju itu sendirian. Harus bisa mix and match sendirian.

Susahnya berjam-jam permotretan.

Susahnya mengartikan naskah musik-yang-sama-sekali-tidak-kita-kenal-dan-mengerti.

Susahnya tekanan deadline layout halaman saat pemberitaan. Pertandingan selesai jam 18.30, naskah sudah harus dilayout jam 19.00, jadi harus bisa menulis cepat dan akurat dalam waktu setengah jam saja.

Susahnya memeras otak untuk mencari angle naskah yang bagus.

Susahnya menahan sakit hati kalau dimarahi bos, apalagi kalau itu bukan kesalahan kita, tapi kesalahan orang lain dan kita kena getahnya.

Dan masih buanyak (bahkan ribuan) contoh susahnya, susahnya, susahnya lagi.

.

Saya bisa bertahan dari semua itu karena adanya passion atau cinta yang kuat pada menulis.

Kalau tidak ada passion/cinta itu, mungkin sudah dari dulu-dulu saya hengkang.

.

Oke, kalian pasti berpikir, hmmm… suka nulis kan bisa dimana saja

Yup! kalian benar.

Nah, untuk itulah saya punya alasan-alasan lain yang mendukung saya tetap di sini.

Jadi nih, misalnya saya sudah menemukan lima alasan untuk resign,

saya juga menemukan sepuluh alasan untuk bertahan.

.

Belakangan ini, keinginan untuk resign itu menguat lagi

Tapi, lagi-lagi… atas dasar passion dan cinta itu saya masih terus bertahan.

.

Jadi, intinya saya ingin menegaskan pada kalian.

Jangan pernah lupakan passion dalam setiap hal yang kalian lakukan.

Entah itu menulis, menggarap skripsi, bekerja di bank, apapun itu.

Dengan passion, semangat yang tak pernah padam itulah kita dapat bertahan dan meraih sukses

Percayalah 😉

.

.

Love,

(hil)

.

Advertisements

One thought on “Passion

  1. Pingback: Do it with Passion | I. Love. Life

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s