.Mari Bermain.

.weheartit.

1992

“Heli, guk guk guk, kemali, guk guk guk, ayo lali-laliiiii…” nyanyinya riang gembira di atas becak.

Kunciran ekor kudanya bergoyang-goyang manis seirama dengan lagu. Panasnya udara seakan tak jadi masalah. Yang terasa hanyalah hembusan angin yang mengiringi kayuhan becak yang ditumpanginya siang itu.

2011

Holly sh*t!” erangnya.

Sepeda motornya oleng, karena ban yang tiba-tiba bocor, sekaligus hampir terserempet sepeda motor lain di tengah ruwetnya jalan raya. Panas mentari makin membakar kulit dan emosinya. Lengkap sudah penderitaannya. Dituntunnya sepeda motor dengan menggerutu.

1992

“Nggak! Aku mau ke cekolah cekayang! Huhuhu…” Tubuh mungilnya tergugu. Kesal setengah mati ketika sang bunda tidak memperbolehkannya berangkat ke Taman Kanak-Kanak.

Padahal, dia sudah tak sabar untuk mewarnai lagi. Tidak sabar mendengar kelanjutan peragaan boneka si Unyil dari gurunya. Ditatapnya seragam dan perlengkapan sekolahnya dengan sedih.

“Ini tanggal merah, sayang. Libur dulu ya sekolahnya. Besok masuk lagi ya.”

Dia tetap cemberut. Sebal dengan tanggal merah. Membuatnya tak bisa masuk sekolah.

2011

Ditatapnya jam dinding dengan bimbang. Ah, kesiangan lagi. Tugasnya baru sempat dikerjakan seperempat. Dosennya killer pula. Ugh, amit-amit.

Ditariknya selimut menutupi kepala. Diketiknya Blackberry dengan cepat.

“PING! Titip absen yaaa. Please, pleasee. Kamu baik deh. Makasii *kisskiss.”

1992

“Huaaaaaa… Mama, mamaaa! Feliii nakaal, aku dicubiittt..”

Tangisnya pecah, berlari ke arah pelukan bundanya. Mengadu karena ada anak laki-laki iseng menjahilinya.

Dipeluknya bundanya erat-erat.

2011

Tes. Tes. Tes. Air mata mengalir di pipi mulusnya. Tanpa jeda. Tanpa suara.

Lelaki buaya! Hatinya terlilit sakit. Seperti dicubit-cubit.

Dipeluknya bantal erat-erat.

1992

Ditatapnya ice cream warna-warni itu dengan damba. Sayang hidungnya sedang mampat. Dia pilek. Sang bunda melarangnya makan kudapan itu. Es klim! Es klim! Es klim! Di kepalanya hanya terngiang-ngiang kata-kata itu. Dia mau ice cream sekarang juga!

2011

Ditatapnya tumpukan berkas dan buku setebal bantal di hadapannya. Tugas kantor dan kuliah membuat kepalanya pecah. Masalah A, B, sampai Z menyesak seakan mau meledak di kepalanya. Belum lagi tuntutan tinggi dari orang-orang di sekitarnya. Kepalanya berkunang-kunang. Pusingnya bukan kepalang.

——–

Segalanya terasa lebih mudah, ketika sakit yang kita rasakan hanya karena seseorang mencubit kulit kita, bukan mencubit hati kita.

Segalanya terasa lebih mudah, ketika kita hanya menggambar indahnya dunia, bukan meneliti permasalahan ekonominya.

Segalanya terasa lebih mudah, ketika yang ada di kepala kita hanyalah es yang mencair manis di mulut, bukannya tumpukan masalah yang bikin kepala kita terserang angin ribut.

Segalanya terasa lebih mudah, ketika kita berumur empat tahun, duduk di taman bermain, dan hanya main-main.

——-

Jadi, mari bermain-main sebentar ke masa kanak-kanak.

Ketika panasnya udara menyerang garang, kenapa tidak mencoba bersenandung riang?

Ketika dia menginjak-injak dan mencubit hatimu, menangislah sepuasmu.

Lalu, buang ke tempat sampah bersama tisu bekas air mata. Karena itu artinya dia tidak berharga untuk kita cinta.

Ketika semua masalah mendesak kepala hingga mau pecah, mari dinginkan sejenak dengan lembutnya es yang melumer di lidah.

Ayolah, hidup tidak akan asyik jika semua berjalan mulus dan tak ada masalah!

Hadapi saja dengan gagah. Susah? Ya iyalah. Gagal? Ya sudahlah. Ambil saja semua hikmah.

 

                                 .weheartit.

This world is our playground.

Mari bermain!

(hil)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s