Menciptakan Masa Depan, Bersamamu.

.weheartit.

 

Will you marry me?”

Aku terpaku. Hah?

Dia tersenyum. Mengulang dengan tegas.

“Maukah kamu menikah denganku?”

Aku terdiam. Mungkin terbelalak. Menikah?

Usiaku 23. Dia dan aku memang sudah lama saling mengenal. Sekitar enam tahun. Tapi itu pun sebatas teman biasa. Sebatas teman kuliah biasa.

Kami baru dekat selama dua bulan. Itupun hanya sebatas bbm. Karena, pekerjaanku dan pekerjaannya ada di dua kota yang berbeda. Sekarang, kami tinggal di dua kota yang berbeda dengan jarak yang membentang.

Dan dia sekarang mengajakku… menikah?

Melihatku yang hanya terdiam seribu bahasa, dia memutuskan untuk menjelaskan.

“Aku tahu kamu terkejut. Aku juga takkan terkejut jika kamu menolakku sekarang. Aku tahu ini kedengarannya gila…”

Aku masih diam. Menunggu dia menyelesaikan penjelasannya.

“…Aku sudah sangat yakin padamu. Aku juga tak tahu mengapa. Yang aku tahu, aku ingin menikah denganmu. Dan aku siap menikah denganmu.”

“Tapi… kita kan…”

“Ya, aku tahu. Kita bahkan belum pacaran kan? Ini bahkan pertama kali kita bertemu untuk berkencan setelah dua bulan hanya bbm-an,” potongnya sambil tertawa.

Aku menatapnya seolah dia sudah gila. Sewaktu kami bbm-an saja, aku tidak yakin dia pedekate denganku. Jadi, bagaimana mungkin tiba-tiba dia mengajakku menikah, di kencan pertama kami ini? Apa dia sudah gila?

Seolah dapat membaca pikiranku, dia melanjutkan, “Aku tahu kelihatannya ini gila. Aku juga tak percaya aku bisa melakukan hal segila ini. Tapi satu yang pasti, aku ingin bersamamu. Aku tak ingin hanya sekali dalam sebulan kita bertemu. Aku tak ingin hanya bertemu dalam media bbm. Aku ingin bertemu denganmu setiap hari, setiap saat, setiap waktu.”

Dia menjelaskannya dalam satu tarikan napas. Cepat sekali. Sehingga kurasa aku sedang melayang-layang di alam mimpi. Sebelum akhirnya aku tersadar akan satu hal.

“Kamu… belum tahu siapa aku dan bagaimana keadaanku. Kamu yakin mau menikah denganku? Kamu pasti akan mundur begitu tahu latar belakangku,” ujarku defensif.

Aku mungkin akan dengan mudahnya berkata iya, kalau saja tidak memikirkan hal-hal yang memberatkanku. Memangnya dia bisa menerimaku seutuhnya?

“Aku akan mengenal dirimu seiring berjalannya waktu. Aku tak peduli apa latar belakangmu. Aku tak keberatan dengan apapun masa lalumu. Yang aku inginkan, menciptakan masa depan. Bersamamu. ”

Yang aku inginkan, menciptakan masa depan. Bersamamu.

Aku terpana. Terhipnotis oleh kata-katanya.

Dia masih menatapku lekat-lekat. Dan aku bisa melihat kesungguhan di situ.

Kehangatan menjalar di tubuhku seketika.

Aku tersenyum. Ah, mungkin aku juga sudah gila.

“Yes. I do.”

***

 

(hil)

Advertisements

2 thoughts on “Menciptakan Masa Depan, Bersamamu.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s