.Langit Biru.

.weheartit.

 

Kutatap langit di balik jendela kafe.

Biru.

Aku suka duduk berlama-lama di kafe ini. Di minggu pagi yang cerah, ditemani oleh segelas teh hangat. Entah itu jasmine, chamomile, tarik, atau thai tea.

Aku suka mengamati birunya langit dan awan yang berarak. Kemudian melamun panjang. Kalau ada yang bisa mengalihkan pandanganku dari birunya langit, itu hanya satu.

Nah, itu dia.

Ting!

Denting pintu kafe berbunyi, pertanda dia melangkah masuk. Selalu tepat pukul 8 pagi. Lalu, seperti biasa dia akan memesan kopi dan duduk di sudut itu. Dan aku bisa leluasa mengamatinya dari sudut ini.

Sejak pertama aku mendapatinya masuk ke kafe ini. Pandangan kami secara tak sengaja bertemu. Aku langsung terpana. Seakan pergerakan orang-orang di sekitarku membeku sejenak. Seperti gerakan slow motion dalam film-film.

Rambut yang tersisir rapi ke belakang. Kaus polos yang selalu berlapis hoddie jacket abu-abu. Earphone selalu terpasang di telinga. Sepatu kets abu-abu yang sama. Dia pastilah selesai lari pagi.

Pada pertama pandangan kami tak sengaja bertemu, dia melempar senyum ramah padaku.

Satu detik. Dua detik. Sebelum akhirnya dia berpaling ke arah waitress untuk memesan kopi.

Padahal aku yang sama sekali orang asing. Kami tak saling mengenal. Namun dia tersenyum padaku. Hmm.. mungkin, itu memang kebiasaannya. Melempar senyum ramah pada siapapun yang dia temui.

Tapi senyum itulah yang menawan hatiku. Senyum yang membuat garis matanya tertarik sedikit menyipit. Seolah mata ramahnya ikut tersenyum.

Dan pada detik pertemuan tatapan yang tak sengaja itulah, aku terpana.

Jatuh hati padanya.

Ah, andai aku bisa mengenal dirinya.

***

Kupercepat langkahku menuju kafe di sudut jalan itu. Kafe 24 jam langgananku. Kafe tempat aku memesan kopi favoritku seusai lari pagi di hari minggu.

Ting!

Kubuka pintu kafe. Tanpa perlu mencarinya, aku bisa merasakan dia ada di sudut sana. Dia yang kuperhatikan sejak sebulan yang lalu selalu di situ tiap pagi di hari minggu.

Perempuan manis dengan senyum khas. Senyum ramah yang menampilkan gigi gingsulnya.

Rambutnya yang sepundak, kadang tergerai, kadang di kuncir kuda. Dengan kaus polos yang berganti warna. Dia selalu duduk menopang dagu di sudut dekat jendela.

Inilah alasanku masuk ke kafe ini.

Aku jatuh hati pada pandangan pertama tatapan kami bertemu. Aku tak peduli bagaimana reaksinya. Yang aku tahu, aku ingin memiliki senyum itu setiap hari.

Ini kali keempat aku melihatnya. Kali ini, aku tak akan duduk diam di tempatku lagi. Aku sudah membulatkan tekad. Karena senyumnya mengusik malam-malamku.

Dengan santai kudatangi dia. Dia mendongak terkejut ketika mendapatiku berdiri di hadapannya.

Aku tersenyum, “Hai, boleh gabung? Saya bosan duduk sendiri.”

Senyum ikut mengembang di wajahnya. Itu dia. Senyum yang sama. Senyum yang menghias mimpi-mimpiku.

Dia mengangguk dan mengulurkan tangan. “Hai.. Langit.”

Sedetik aku terpaku.

“Namamu.. Langit?”

Dia kembali mengangguk, seolah sudah biasa mendapat pertanyaan itu.

Kali ini, aku tersenyum lebih lebar.

“Namaku, Biru.”

***

 

 

ditulis oleh @hildabika

Advertisements

2 thoughts on “.Langit Biru.

  1. Pingback: Sah « I. Love. Life

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s