Run Hilda, Run!

.weheartit.

 

You can take everything I have. You can break everything I am
Like I’m made of glass. Like I’m made of paper
Go on and try to tear me down. I will be rising from the ground
Like a skyscraper. Like a skyscraper

Bukan. Saya bukan sedang patah hati atau apa.

Ini bukan tentang cinta. Ini tentang hidup dan all that sh*t.

Kadang masalah dalam hidup begitu rumit hingga masalah tentang cinta terasa remeh.

Kadang, saya bahkan tidak sempat untuk mengurusi cinta-cintaan.

Atau kadang, saya malah sengaja menggalaukan diri dalam masalah cinta, untuk ‘mengalihkan perhatian’ dari segala masalah hidup.

Tapi, seperti lirik lagunya Demi Lovato yang saya kutip di atas, saya tidak akan menyerah.

Go ahead. Jatuhkan saya. Saya akan bangkit dan berdiri lagi, like a skyscraper.

Satu yang saya tahu pasti. It will pass.

Segala cobaan ini hanyalah fase dalam hidup. Roda terus berputar. Tak selamanya kita di atas. Tak selamanya pula kita di bawah.

Jadi, ketika masalah menghantam, saya membisiki diri sendiri, “It will pass.”

Saya pasti bisa melaluinya. Badai pasti berlalu.

Saya telah membuktikannya berkali-kali, asal ada usaha dan doa, akan selalu ada jalan. Tuhan tidak akan memberikan kesulitan di luar batas kemampuan umat-Nya.

Kalau ujian terasa begitu berat, anggap saja kita sudah dianggap mampu, bahwa kita sudah level advance.

Akhir-akhir ini, saya mengingat sebuah cerita bagus – yang saya lupa saya baca di mana – tentang Petani, Anjing, dan Kelinci.

Alkisah, seorang Petani menyuruh Anjing mengejar seekor Kelinci yang mencuri wortel-wortelnya. Namun, si kelinci selalu lolos. Akhirnya, si petani marah dan gemas, kemudian bertanya pada sang Anjing. “Ada apa denganmu? Aku menyuruhmu mengejarnya dan menangkapnya. Kenapa dia selalu lolos?”

Si Anjing menjawab, “Ya, aku memang mengejarnya. But, but i am running for fun. If i couldn’t catch him, it’s not a big deal for me, though…

Lalu, Petani mendatangi kelinci, dan bertanya, “Kenapa kamu bisa selalu lolos dari kejaran anjing?”

Kelinci pun menjawab, “Yang kulakukan hanyalah berlari. I am running for life. If i didn’t run for life, i will die. Semudah itu.”

Kira-kira seperti itu kisahnya.

Ada dua hal yang bisa dipetik di sini. Run for life. Run for fun.

We have to run for life. Hidup ini keras. Kecuali kalau kita lahir dalam keluarga kaya raya yang bahagia sejahtera aman sentosa dan sehat sampai akhir hayat. Tapi, bagi kebanyakan orang, termasuk saya, life is hard. Kalau tidak mau tumbang oleh keadaan, kita harus berjuang. Kita harus bekerja kalau kita mau makan dan hidup enak. Tidak ada istilahnya kita ongkang-ongkang kaki, santai-santai, lalu uang akan jatuh begitu saja dari langit. Run! Run for life!

Tapi jangan lupa untuk bersenang-senang. Run for fun. Kejar target, impian, dan harapan sebagai cara untuk bersenang-senang. Lakukan untuk bersenang-senang! Jadi, ketika yang kita inginkan tidak terlaksana, kita tidak akan kecewa.

Saya juga bolak-balik berusaha menanamkan run for fun itu, agar saya tidak terlalu kecewa ketika keinginan-keinginan saya tidak terpenuhi. i’ll do it for fun, rite?

Jadi, ketika masalah menghantam saya, menjatuhkan saya ke tanah, saya akan bangkit, mengangkat dagu, dan berlari. Saya terus berseru pada diri saya sendiri, “Run Hilda, Run!”

Run for life. Run for fun.

Run for life. Saya akan menyelesaikan masalah saya. Berjuang untuk hidup.

Run for fun. Saya akan melakukannya untuk bersenang-senang.

 

Dan saya tidak akan bosan-bosan mengatakan ini :

Hidup ini hanya sekali. Mari kita nikmati.

 

 

Keep running,

(hil)

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s