Dag Dig Dug

.weheartit.

 

Dag dig dug

Jantungku berdetak kencang.

Kuletakkan ponselku di atas meja rias. Sekitar satu jam setengah lagi dia akan sampai.

Rencana sederhana. Berdua selamanya.

Jantungku seakan melompat keluar menunggu detik-detiknya.

 

Dag dig dug

Kutatap cermin di hadapanku. Apakah ada suatu yang kurang?

“Luar biasa!”

Aku menoleh. Ale, sahabat karibku, memandangku terpana.

Aku tersipu. “Aku kan memang luar biasa.”

Dia terdiam memandangku. Agak lama, hingga membuatku jengah.

“Kenapa?” tanyaku.

Ale tersenyum. “Jangan cemas. Semua akan baik-baik saja.”

Aku terdiam. Ah, kata-kata Ale tepat pada sasaran. Aku memang tidak pernah bisa membohongi sahabatku itu. Meski mulutku tersenyum, jantung dag-dig-dug tak karuan.

Rambutku sudah tergerai sedemikian cantik. Riasanku sempurna.

Gaunku bahkan mengembang dengan sempurna.

Entah kenapa jantungku terus menerus berpacu sejak pagi tadi.

“Bayu sudah take off dari sana?”

Aku mengangguk. Jantungku makin berdebar kencang.

Sebentar lagi dia datang.

Sebentar lagi kami akan melangsungkan janji suci itu.

“Kalau aku sih, tak akan mau menikahi orang yang masih saja bekerja di detik-detik menjelang pernikahannya. Bikin sport jantung saja.”

Aku tertawa. Menimpuk Ale dengan bantal yang kuambil dari sofa. “Itu tuntutan profesinya, Al.”

 

Dag dig dug

Kusibakkan gaunku. Gaun putih cantik warisan dari neneknya.

Pernikahan ini memang sederhana. Pernikahan di tepi pantai di kala senja.

Dihadiri oleh orang-orang yang sangat terdekat saja.

Toh, aku dan dia sama-sama sebatang kara.

Aku tersenyum membayangkan hidup berdua dengannya. Berdua saja. Mengarungi dunia.

Selamanya.

 

Dag dig dug

Ponselku berbunyi. Tanpa melihat nomor yang tertera di layar, aku sudah bisa menduganya. Pasti Bayu! Pasti calon suamiku itu sudah sampai.

Jantungku makin berdetak tak karuan. Aku tak berani mengangkatnya. Kuserahkan ponselku pada Ale, biar dia yang bicara. Biar aku dan Bayu langsung bicara di depan altar saja.

Ale tertawa melihat tingkahku. Diangkatnya ponselku.

Aku berlari ke depan kaca. Memandang riasanku sekali lagi.

 

Dag dig dug

Semuanya sudah sempurna. Bahkan dapat kubayangkan senyum Bayu yang tercetak sempurna.

Sebentar lagi saatnya akan tiba.

“Biyan…”

 

Aku menoleh.

Ale pucat. “Pesawat Bayu… jatuh.”

 

DEG!

Kali ini, jantungku berhenti berdetak.

***

 

 

 

*ditulis dalam rangka #15HariNgeblogFF

*penggalan kisah Biyan-Bayu-Ale yang lain dapat dinikmati dalam cerpen “4 Juni” di buku #Ber2belas

Advertisements

13 thoughts on “Dag Dig Dug

    • hihihihi… *sodorin tisu*
      iya nih, entah kenapa aku suka bikin kisah-kisah yang tragis :p
      lanjutan kisahnya ada di cerpen yang ada di buku #ber2belas lho
      *eh *malah promosi hihihi :p

  1. Pingback: Jadilah Milikku, Mau? « I. Love. Life
  2. Pingback: The Strangers « I. Love. Life
  3. Pingback: 4 Juni « I. Love. Life
  4. Pingback: Jingga di Ujung Senja « I. Love. Life

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s