Jadilah Milikku, Mau?

.weheartit.

 

Aku selalu suka kejutan.

Seperti dirimu yang tiba-tiba datang membawakanku sarapan. Dan seperti biasa, mencuri satu-dua kecupan.

Padahal baru kemarin aku ngambek dengan omelan, ketika kamu bilang tugasmu di luar kota itu masih diperpanjang hingga entah kapan, padahal kita sudah lama sekali tak berkencan.

Kemudian, kamu menarikku keluar untuk jogging bersama, meski rupaku masih berantakan. Dengan manisnya, kamu bahkan sempat memakaikan syal agar aku tak kedinginan. Pagi ini memang luar biasa dingin karena hujan turun semalaman.

“Sayang? Kita mau berlari berapa putaran?” ujarku terengah, berhenti berlari karena kecapekan. Payah memang, aku sudah tumbang meski baru dua putaran.

Kamu tersenyum dan ikut berhenti berlari. “Sudah capek, sayang? Mari kita pulang,” ujarmu sambil menggandengku menuju rumahku yang sudah terlihat beberapa meter di depan.

Kita pun tak lagi berlari. Kita berdua berjalan sambil bergandengan tangan. Dan tiba-tiba kamu berhenti sebelum kaki kita menyentuh halaman.

“Tutup matamu,” katamu sambil tersenyum tampan.

Aku memandangmu dengan heran. Ada lagi kejutan? Ah, kamu memang selalu pintar memberi kejutan. Kututup mataku dengan deg-degan, kamu menutup kedua mataku dengan kedua tanganmu untuk memastikan.

Kita berjalan selangkah demi selangkah, namun di dalam dadaku, jantungku berloncatan.

“Nah, sampai!” ujarmu, melepas tanganmu yang menutup mataku dengan perlahan.

Oh, Tuhan.

Kudekap mulutku dengan kedua tangan.

Sebuah cincin sederhana tergantung manis di ranting pohon di halaman.

Kamu melangkah ke depan, melepaskan ikatan cincin itu, dan berbalik. Memandangku dengan hangatnya tatapan.

“Aku mau selamanya bersamamu. Berbagi pagi seperti ini berdua denganmu. Maka, jadilah milikku, mau?”

***

 

Aku selalu suka kejutan. Dan kamu, selalu memberiku kejutan. Tapi kali ini, bukan ini yang kuharapkan.

“Biyan…”

Suara Ale, sahabatku, terdengar samar dan begitu pelan. Aku tahu dialah yang menjagaku ketika aku tadi pingsan. Tetap bertahan memelukku sampai sekarang, karena aku terus-menerus gemetaran.

Masih dalam balutan gaun cantik ini, mulutku membisu menatap makammu yang terbentang di hadapan.

Memori kejutan dan kecupan darimu pagi itu terlintas tanpa bisa kutahan. Masih jelas dan segar dalam ingatan, raut wajahmu yang bertanya dengan senyum tampan, “Aku mau selamanya bersamamu. Jadilah milikku, mau?”

Tangisku pun pecah, tak karuan.

Kamu pergi meninggalkanku selamanya, tepat di hari pernikahan.

***

 

 

 

*ditulis dalam rangka #15HariNgeblogFF hari ke-5

*penggalan kisah Biyan yang lainnya dapat dinikmati dalam FF Dag Dig Dug dan cerpen 4 Juni di buku #Ber2belas

Advertisements

19 thoughts on “Jadilah Milikku, Mau?

  1. Pingback: The Strangers « I. Love. Life
  2. Pingback: 4 Juni « I. Love. Life
  3. Pingback: Jingga di Ujung Senja « I. Love. Life

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s