Aku Benci Kamu Hari Ini

.weheartit.

 

“Ah, kamu mah beraninya lewat telepon doang. Aku udah bosen kamu gombalin lewat sms, telepon, twitter. Bosen! Kamu pasti nggak berani bertindak di depan orang banyak.”

“Kata siapa aku nggak berani? Mau bukti di depan orang banyak?”

“Ah, pasti kamu nggak berani.”

“Eh, kamu nantangin nih? Kamu minggu depan ada di kota mana? Aku bisa cuti minggu depan. Aku samperin deh kamu.”

“Ahahaha. Beneran bisa cuti? Aku minggu depan di Jogja. Emang kamu mau ngapain?”

“Iya, beneran bisa cuti. Liat aja nanti. Jangan kabur lho ya.”

Sebuah taruhan. Yang kuanggap bercanda. Tanpa kusangka, tanpa kuduga, kamu benar-benar membuktikannya.

***

PLAK!! Kutampar wajahmu keras-keras.

Dapat kurasakan mukaku memerah. Udara di sekitar Malioboro mendadak terasa panas luar biasa. Argh! Aku malu luar biasa. Ingin rasanya aku membelah tanah di bawahku dan tenggelam sekarang juga.

“AKU BENCI KAMU!”

“Tunggu!” Kamu menarik lenganku. Menahanku. “Kamu marah?”

“Pake nanya!!”

Tiba-tiba kamu memelukku erat-erat.

“Lepasin!” Aku meronta sekuat tenaga. Namun, semakin aku meronta, pelukanmu semakin mengerat. Sampai akhirnya aku kelelahan dan terdiam. Tak tahu harus berbuat apa.

“Maaf ya..” Kamu mengangkat daguku dengan tanganmu, hingga mau tak mau aku menatap kedua matamu. Kedua matamu yang hangat dan dalam.

Sialan, mana bisa aku marah ditatap seperti itu. Aku bisa merasakan persendianku melemas.

“Kan kamu yang nantangin aku…”

Mendengar kata-katamu barusan, amarahku tersulut lagi. “Iya. Iya, aku tahu aku yang nantangin! Tapi, juga bukan dengan menciumku di depan orang banyak! Di depan teman-temanku, di tempat parkir ramai, di Malioboro pula!”

Aku masih bisa merasakan panas di wajahku. Mukaku pasti seperti kepiting rebus. Masih terbayang jelas bagaimana reaksi teman-temanku tadi, ketika melihat semuanya. Mereka shock, kemudian meledekku, dan bersiul-siul.

“Kalau tahu kamu bakal segini marah, aku nggak bakal menciummu tadi. Ya udah, besok-besok aku nggak nyium lagi deh. Mau?”

ARGH! Bukan begitu juga sih.

“AKU BENCI KAMU HARI INI!” jeritku, memukul-mukul tubuhmu sebisa jangkauanku. Mengentak-entakkan kaki meski tak bisa kemana-mana. Menutup mata erat-erat menolak memandangmu, biar tak luluh.

Aku benci, benci, benci!

Lama kamu terdiam –tetap memelukku erat-erat seakan aku akan kabur kalau kamu merenggangkan sedikit saja pelukanmu.

“Tapi, kita jadi punya cerita buat anak cucu kita nanti,” bisikmu.

Aku memilih diam. Ngambek.

Hmm.. Sebenarnya kalau dipikir-pikir, lucu juga sih. Baru kali ini ada pria gila yang berani menciumku di depan banyak orang, di tempat umum, di depan semua orang. Seakan kamu mau bilang, “Hei dunia, aku cinta pada perempuan ini.”

Ah, kamu memang gila. Tapi aku cinta.

Aku tersenyum geli sendiri. Kubuka mataku pelan-pelan. Ternyata kamu sedang menatapku dalam-dalam dan tersenyum sedemikian tampan.

“Aku tetep benci kamu hari ini,” bisikku, menyipitkan mata.

Kamu mengecup dahiku dengan sayang, dan menjawab, “Iya deh, kamu boleh benci aku hari ini. Asalkan kamu cinta aku…

…selamanya.”

***

 

 

*FIKSI ini ditulis dalam rangka #15HariNgeblogFF hari ke-8 dengan judul “Aku Benci Kamu Hari Ini.”

*PS: Suatu saat nanti, kamu harus menciumku di menara Eiffel, Paris.

Advertisements

32 thoughts on “Aku Benci Kamu Hari Ini

  1. Pingback: Coffee Shop « I. Love. Life

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s