Kalau Odol Lagi Jatuh Cinta

.weheartit.

 

When I look into your eyes… It’s like watching the night sky, or a beautiful sunrise…

Sayup-sayup suara Jason Mraz mengalun dari speaker supermarket 24 jam ini. Kupandangi dirimu yang sedang mengambil beberapa makanan ringan dari rak dan memasukkannya dalam troli yang sedang kudorong pelan di sampingmu.

Berantakan. Kaus oblong dengan rambut yang dibiarkan tergerai kusut seadanya. Raut mukamu masih sekusam saat kita berangkat tadi. Sepanjang jalan tadi mulutmu tak berhenti berkeluh kesah tentang dia. Tentang lukamu. Luka di hatimu karena ditinggalkan olehnya.

Tapi seperti biasa, aku akan menjadi pendengar setiamu. Menemanimu kemanapun kamu mau. Berada di sisimu kapanpun kamu membutuhkanku.

“And when you’re needing your space… to do some navigating.. i’ll be here patiently waiting.. to see what you find…”

Masih dengan setengah melamun, kamu masukkan sabun dan odol ke dalam troli. Aku menyadari sesuatu. “Ngapain kamu beli odol lagi? Bukannya baru beli yang besar kemarin?”

Kamu menepuk dahimu. “Astaga!”

Melihat matamu yang kembali meredup dan pandanganmu trance entah kemana, aku tahu pikiranmu pasti sedang tidak di sini.

Melihatmu terus-terusan bersedih seperti ini, membuatku tak tahan lagi. Kuambil odol dari tanganmu, kupalingkan mukamu agar melihatku, menatapku.

“Kamu tahu odol ini?”

“Hah?” Raut mukamu kebingungan mendapati pertanyaan anehku.

“Kalau odol lagi jatuh cinta menurutmu dia bakal jatuh cinta pada apa?”

“Apaan sih? Aneh!” Kamu meninju lenganku pelan.

Tapi melihatku yang masih terdiam memegang odol di tanganku sambil menunggu jawabanmu, kamu mengalah, menghela napas dan menelengkan kepalamu, berpikir.

“Hmmm.. Kalau odol jatuh cinta ya? Maka dia jatuh cinta pada… Gigi? …Sikat gigi?”

Aku menggeleng.

Sebelah alismu terangkat. “Bukan?”

Aku tersenyum. “Kalau aku jadi odol, maka aku adalah odol yang jatuh hati pada jerawat.”

“Jerawat??” Kamu terbahak hingga kepalamu tersentak ke belakang. Aku memandangmu tanpa berkedip. Aku selalu suka tawa lepasmu.

Ini dia. Tawa khasmu yang lepas tanpa beban. Inilah kamu. Inilah kamu yang aku kenal sejak kita masih belajar ini-ibu-budi dari ibu guru.

Bukan kamu yang berkubang dalam kesedihan sejak ditinggal pergi oleh kekasihmu yang tak tahu diri itu.

“Kok bisa jerawat?” kamu masih tersenyum geli, secara tak sadar tanganmu terangkat meraba-raba jerawat di dagumu sendiri.

“Karena aku ingin menyembuhkan luka.”

Suara Jason Mraz masih mengalun merdu, menyuarakan isi hatiku. “I won’t give up on us… Even if the skies get rough… I’m giving you all my love..”

Ya. Aku tak akan menyerah. Kalau dia melukaimu, maka aku yang akan menyembuhkanmu.

Kalau aku adalah odol. Maka aku akan jatuh cinta padamu. Si jerawat bandel yang terluka.

Aku memang odol yang aneh. Odol yang keras kepala. Bukan gigi atau sikat gigi yang aku inginkan. Yang aku inginkan cuma kamu. Si bandel yang terluka.

Aku dan kamu masih sama-sama terdiam di lorong supermarket itu. Kamu masih menatapku.

Mata hitammu bertemu mata coklatku.

“Karena aku ingin menyembuhkan lukamu,” tegasku.

***

 

 

 

*ditulis dalam rangka #15HariNgeblogFF dengan judul “Kalau Odol Lagi Jatuh Cinta.”

Advertisements

16 thoughts on “Kalau Odol Lagi Jatuh Cinta

  1. Hollaaa Hilda.. Ya ampun w nyasar kemana-mana.
    Btw ini emg udah ditentuin ya judulnya? Soalnya aku pernah baca yang titlenya kaya gini juga di blog lain tapi beda ceritanya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s