Kopi Tubruk

.weheartit.

 

Dua sendok kopi, satu sendok gula. Tuangkan air panas. Jadilah kopi tubruk yang akan menghangatkan badan sepanjang malam.

Suaramu menggema di suatu tempat di bilik memori. Kupandangi air yang menetes dan mengalir di kaca jendela. Di luar sana, deras hujan memukul-mukul atap rumah mungil kita.

Memoriku melayang pada suatu masa, di sudut favorit kita.

Kita akan duduk manis berdua. Bersandar di sofa dan berdekapan dengan nyaman. Menatap hujan yang mengguyur di luar sana.

Kamu menghirup kopimu sementara aku menyeduh tehku.

“Cobalah kopi ini,” bisikmu selalu.

“Pahit. Aku tak suka. Aku lebih suka teh yang manis.”

“Kamu sudah sangat manis, sayang. Minumlah yang pahit agar menyeimbangkan kadar gulamu.”

Aku tertawa.

“Kopi itu seperti hidup. Pahit tapi manis. Pahit tapi membuat kita kecanduan. Ingin merasakannya lagi dan lagi,” sambil mengatakan itu, matamu akan menerawang jauh entah kemana, sementara lenganmu mendekap hangat tubuhku.

Aku tersenyum memandangimu yang terlihat tampan dibalik kepulan asap kopi. Kamu sangat menikmati tiap detik dalam hidupmu seperti kamu menikmati tiap tetes kopimu.

“Aku menikmati kopi ini karena aku merasakan cinta di kopi ini, sayang. Kamu memang membenci kopi. Tapi, kamu selalu menyeduh kopi ini dengan penuh cinta untukku.”

Begitulah kamu berkata, seakan kamu dapat membaca pikiranku. Kamu tersenyum dan mengedip padaku. Kemudian kamu mengecupku. Lama dan hangat.

Rasa kopi, kataku. Rasa cinta, katamu.

 

Kopi tubruk. Hujan. Kamu.

Rindu menguar dari secangkir kopi tubruk di tanganku. Menusuk-nusuk setiap saraf dalam aliran darahku.

Rintik hujan masih menetes dan mengalir deras di kaca jendela, sama derasnya dengan air di pipiku.

“Kok kamu sekarang jadi suka kopi, sayang? Bukannya benci?”

Aku membayangkan kamu akan bertanya begitu dengan wajah tampanmu. Alis matamu akan naik separuh dengan penuh selidik.

 

Tahukah kamu mengapa kini aku menjadi pecandu kopi tubruk?

Karena, di antara wangi kopi yang menguar ini, aku menghirup wangimu.

Di antara rasa kuat kopi yang aku cecap ini, aku merasakanmu.

Dengan menghirup kopi tubruk favoritmu, aku dapat merasakan kehadiranmu.

Merasakan kembali kehadiranmu yang telah pergi selamanya.

 

Kamu. Di antara kepulan asap kopi. Memelukku mesra. Mendekapku hangat.

Melalui kopi tubruk favoritmu,

aku dapat merasakanmu ada.

***

 

 

 

*ditulis untuk FF dadakan yang diadakan oleh masmin #15HariNgeblogFF @momo_DM dengan judul “Kopi Tubruk.”

Advertisements

2 thoughts on “Kopi Tubruk

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s