Coffee Shop

.weheartit.

 

“Mau minum yang dingin-dingin?”

Kamu mengerling ke arah coffee shop yang tak jauh dari kita. Aku mengangguk. Tak tahu harus bagaimana lagi. Sepertinya ide minum Iced Caramel Frappuccino bisa mendinginkan kepalaku. Terutama setelah rombongan teman-temanku meninggalkanku berdua denganmu. Setelah insiden gila-tapi-romantismu itu kepadaku.

Setelah duduk di salah satu sofa di coffee shop itu, kuedarkan pandang keliling coffee shop. Siapa tahu ternyata teman-temanku ternyata ada di situ. Untunglah tak nampak satu pun hidung teman-temanku di situ.

Ada sepasang kekasih di dekat jendela. Lelaki tampan berkaos biru dan perempuan manis dengan rok kuning. Yang satu asyik mengguratkan sesuatu di kertasnya. Yang lain tenggelam dengan buku. Beberapa saat kemudian, kulihat si tampan mengecup punggung tangan si manis. Aih, manisnya mereka.

Kemudian di salah satu meja, pasangan lain sedang seru bercerita, ransel di kaki meja mereka dan berbagai barang terserak di meja mereka. Sepertinya mereka akan pergi bersama ke suatu tempat. Ah, mengingatkanku akan rencana liburan kita yang tertunda.

“Pengin kayak mereka?”

Aku menoleh, kamu mengedik ke arah pasangan dengan ransel itu. Ternyata sedari tadi aku membisu mengamati sekelilingku tanpa menyadari kamu memperhatikanku.

“Memang bisa?” tanyaku skeptis. Kamu tak pernah bisa cuti dari liputanmu. Kamu bahkan membatalkan trip kita ke Bangkok hanya karena ada liputan perhelatan basket terbesar se-Indonesia yang tidak bisa kamu tinggalkan itu. Belum lagi jadwal pekerjaanku yang juga gila-gilaan. Kita selalu gagal mengatur janji bertemu.

Kamu menghela napas. “Buktinya aku sekarang bisa cuti menemui di sini?”

Kamu menatapku dalam-dalam. Aku mengalihkan pandang ke arah lain. Tak sanggup menatap matamu. Di seberang meja, ada dua wanita cantik yang sedang mengobrol serius. Bulir air mata menghias wajah mulus wanita yang berjilbab.

Diam-diam hatiku menangis seperti wanita itu. Bisakah hubungan ini terus berjalan?

Kamu dengan kesibukanmu, aku dengan kesibukanku. Kamu di Jakarta. Aku di Surabaya. Bahkan untuk bertemu pun, kita harus mengambil titik tengah Jogja.

Selama beberapa saat, aku dan kamu membisu. Membuat kita seperti pasangan manis yang saling berdiam diri di dekat jendela itu. Sama-sama hening.

Tapi ini keheningan yang berbeda. Ada ribuan tanda tanya dan rasa khawatir di benakku.

Kamu memecah keheningan dan mengacak rambutku. “Hei, bukankah kamu yang bilang. Meskipun raga kita berjarak, namun hati kita selalu bersama? Hatiku dan hatimu….”

“…tak berjarak.” sambungku. Mau tak mau aku tersenyum. Kamu masih ingat kata-kataku.

Hatiku dan hatimu. Tak berjarak.

Entah waktu sudah berjalan berapa lama hingga pasangan yang membawa ransel tadi pergi dengan bergandengan tangan melewati kita. Senyum bahagia terpancar di wajah mereka berdua. Ah, betapa irinya aku akan kebersamaan itu.

Kurasakan tanganmu menggenggam tanganku. Hangat.

“Suatu saat nanti. Pasti. Aku dan kamu akan selalu bersama. Kita akan pergi kemanapun yang kamu mau. Berdua saja.”

Kuhela napas panjang. “Suatu saat itu kapan?”

Kamu mempererat genggaman tanganmu. “Kamu percaya padaku, kan?”

Bodoh. Kamu sudah tahu jawabanku dengan pasti. Selelah apapun aku akan hubungan jarak jauh ini, aku selalu percaya padamu. Kamu bahkan menepati janjimu, menemuiku di kota ini dan memberiku kejutan yang tak disangka-sangka itu.

Kutatap sekilas wanita yang tadi menangis, kini dia sudah tertawa bersama teman perempuannya. Mereka bersinar. Kualihkan pandangan lagi ke pasangan di dekat jendela. Tertangkap mataku, si tampan mengecup kilat bibir si manis. Mereka semua bahagia.

Lalu, aku kembali berpaling padamu. Kutatap matamu. Ada kesungguhan dan ketulusan yang terpancar di situ.

Hmmm, percaya padamu?

Aku tersenyum dan menjawab,

“Selalu.”

***

 

 

*ditulis karena terinspirasi dari fiksi-fiksi keren yang saling menyambung milik @adit_adit, @firah_39, @WangiMS, @_raraaπŸ™‚

*fiksi ini lanjutan dari fiksi Aku Benci Kamu Hari Ini.

Advertisements

8 thoughts on “Coffee Shop

  1. Pingback: Someone Like You « Think about me!
  2. Pingback: #FFBerantai [5] Coffee shop | 15 Hari Menulis Flash Fiction
  3. huaaa… kena banget di hati ini buat yang lagi LDR..
    settingnya di jogja pula, kemarin pun aku juga ambil jalan tengah di jogja lho
    hilda berminat ikutan kontes FF?
    Rekonsiliasi Rampung IWP 10% PNS Pusat dan Daerah Otonom Tahun 2011

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s