The Stranger

.weheartit.

 

“Espresso satu.”

Begitu masuk ke coffee shop ini, aku langsung menuju bar pemesanan. Aku mau pesan langsung, kepalaku masih sakit sekali akibat semalam, sepertinya aku terlalu banyak minum. Tadi bahkan aku hampir menabrak seorang perempuan yang sama-sama masuk ke coffee shop ini.

Perempuan di balik meja kasir memandangku dengan terpana, sebelum akhirnya pipinya bersemu merah ketika aku mengulangi pesananku lagi sambil menyerahkan uang.

 

“Atas nama siapa mas?”

“Ale,” jawabku tanpa memandangnya. Kepalaku masih berdenyut-denyut. Aku butuh kopi itu secepatnya.

 

Seorang perempuan lagi yang sedang membayar memandangiku beberapa saat sebelum pergi. Entah mengapa perempuan-perempuan ini selalu memandangku seakan mereka ingin melumatku. Padahal aku bahkan belum mandi. Rambutku kubiarkan acak-acakan. Kaos merah polos dan celana selutut ini pun hasil asal sambar saja.

Kulayangkan pandang cepat ke seluruh coffee shop untuk mengambil tempat duduk. Shoot! Kenapa coffee shop ini ramai sekali sih? Segera kusesali keputusanku untuk asal saja masuk ke Coffee Shop terdekat. Banyak pasangan yang tengah bercakap-cakap, ada juga yang merenung sendirian.

 

Deg!

Pandanganku berhenti pada seorang wanita dengan gaun berwarna gading yang cantik.

Gaun pengantin.

 

Sial! Aku sudah pergi jauh-jauh meliburkan diri ke kota yang aku yakin aku tidak mengenal siapapun di sini, eh malah bertemu dengan perempuan yang mengingatkanku padanya.

Tapi entah kenapa hatiku miris melihat perempuan itu. Wajahnya bersih tanpa polesan makeup, matanya sembab, dan masih terlihat jelas untaian mawar dan melati di rambutnya yang terjalin rapat. Demi apa dia masih berpakaian pengantin ke coffee shop?

 

Seperti ada magnet yang menarikku, kulangkahkan kaki menuju mejanya.

Aku melewati pasangan yang sedang bercumbu mesra, melewati pasangan yang sedang bicara serius sambil bergenggaman tangan di atas meja. Kemudian sempat menyenggol gadis di depan pria berkacamata dan meminta maaf sekilas.

 

Perempuan bergaun pengantin itu masih mematung sambil mengaduk-aduk minuman pesanannya. Wajahnya tampak trance, pandangannya kosong entah kemana. Dia belum sadar aku berhenti di depan mejanya sampai kutarik bangku dan duduk begitu saja.

Kupasang senyumku. Dia terbelalak kaget dan bingung memandangku.

 

“Melarikan diri? Pernikahan paksa?” Pertanyaan meluncur begitu saja dari mulutku tanpa bisa kutahan.

Dia membisu dan matanya masih terbelalak. Mungkin saking shock-nya melihat orang asing seenak jidatnya mengambil tempat di depannya dan memberondongnya dengan pertanyaan-pertanyaan sensitif.

 

Tapi aku tak peduli, bahkan aku tak peduli jika dia mengusirku karena menyangkaku orang gila.

Toh aku memang orang gila. Orang gila yang sedang tergila-gila sahabatnya yang gila. Sepertinya aku juga masih mabuk, sampai mendatangi perempuan asing yang tak kukenal hanya karena dia mirip dengan Biyan, sahabatku.

Untungnya dia masih diam saja. Jadi, kutopang daguku dan kata-kata mengalir deras begitu saja,

 

“Kamu membuatku teringat pada sahabatku. Dia selalu bergaun sepertimu pada satu hari khusus di setiap tahun. Berdandan cantik bergaun pengantin di tanggal itu setiap tahun. Bisa kaubayangkan? Setiap tahun.”

Aku hampir menertawai diriku sendiri karena mengoceh seperti ini.

 

“Setiap tahun?” akhirnya wanita bergaun pengantin itu bersuara, keningnya mengernyit.

Aku takjub mendapati dia mendengarkanku. Kukira dia akan membisu terus. Hmmm… Mungkin dia juga sedang butuh pengalihan dari apapun itu masalah yang membuatnya berantakan seperti ini.

 

Aku mengangguk, melanjutkan, “Di tanggal pernikahannya, sahabatku itu dengan setia menunggu mempelainya.”

Hatiku tiba-tiba berdenyut sakit ketika mengingat Biyan yang luar biasa setia.

 

“Kenapa dengan mempelainya?”

“Meninggal. Tepat di hari pernikahannya. Empat tahun yang lalu.”

Wajah cantik itu memucat.

 

“Dan dia segila itu menunggu mempelainya setiap tahun. Berdandan cantik bergaun putih di tanggal itu. Menatap makam bisu. Dan aku segila itu…” aku menelan ludah. Kata-kataku hilang di tenggorokan.

“… menunggunya?” sambungnya tiba-tiba. “Kamu mencintai sahabatmu itu.”

 

Aku menelan ludah. Demi apa aku mengoceh seperti ini pada orang asing ini? Aku rasa aku sudah gila. Tapi aku harus memberitahu sesuatu pada perempuan ini.

“Kamu melarikan diri dari pernikahanmu karena apa?”

Dia kembali terdiam.

“Tak cocok dengan pilihan orang tua? Sudah punya lelaki lain yang kamu cintai sepenuh jiwa raga?”

Masih tak ada jawaban. Tapi aku bahkan bisa menebaknya.

 

“Kalau begitu, carilah dia. Menikahlah dengannya. Larilah bersamanya kalau perlu. Bukankah cinta memang gila? Selama dia masih ada di dunia ini. Selama kalian masih bisa bersama. Dan kalau lelaki itu benar-benar mencintaimu, dia akan mencarimu. Dia akan menemukanmu.”

Ah, aku mengoceh lagi. Cepat-cepat kutandaskan Espresso-ku.

 

“Untuk kalian…”

Seorang perempuan manis membagikan sepotong kue tart cokelat pada kami. Kurasa dia mengira kami adalah pasangan.

“Terima kasih,” aku tersenyum pada gadis itu. Kulihat dia membagikan potongan-potongan yang sama pada pengunjung yang lain.

 

Kupandangi kue tart cokelat yang terlihat lezat itu. Kalau sedang bersedih, makanlah cokelat, cokelat dapat membuat perasaanmu lebih baik. Kata-kata Biyan menggema di telingaku.

Ah, tapi sakit kepalaku bahkan sudah membaik. Sepertinya perempuan bergaun pengantin di depanku lebih membutuhkan ini daripada aku.

 

Kusorongkan kue tart cokelat itu ke arahnya. “Makanlah. Coklat dapat membuat perasaan kita lebih baik.”

Dia terpaku memandang kue tart itu.

Aku tersenyum pamit, berdiri, dan berbalik untuk pergi.

 

“Hei…”

Aku berhenti dan menoleh. Ragu-ragu dia bertanya, “Siapa.. namamu?”

“Ale.”

Dia tersenyum untuk pertama kalinya. Ada sinar di wajahnya ketika dia tersenyum. Perempuan memang paling cantik jika tersenyum.

“Terima kasih, Ale. Aku Hanum.”

Kubalas dengan senyuman juga. “Sama-sama. Kamu tahu, Hanum? Lelaki yang kamu cintai itu…Ah, iya, siapa namanya by the way?”

“Bayu..”

 

Deg!

“Bayu?” ulangku, menatapnya tak percaya.

What a coincidence.

Bayu. Nama yang sama dengan lelaki yang sangat dicintai Biyan. Nama yang sama dengan yang selalu Biyan igaukan di sela-sela tidurnya jika dia tertidur di sampingku. Nama yang sama yang terpampang di nisan dan selalu ditatapi Biyan sedemikian rupa.

Ah, betapa para lelaki yang bernama Bayu ini luar biasa, sampai dicintai sedemikian rupa oleh perempuan-perempuan ini.

 

“Kenapa?” pertanyaannya membuyarkan lamunanku.

Aku tertawa. Kupandangi wajah polos di depanku itu. Ah, tidak perlu kuberitahu tentang nama-yang-kebetulan-sama itu. Aku tak ingin melihat wajah cantiknya berkubang dalam kesedihan lagi.

“Tidak apa-apa. Bayu-mu pasti lelaki yang sangat beruntung, dan aku yakin dia pasti sedang mencarimu sekarang. Goodluck untuk kalian berdua!”

You too. Semoga sahabatmu segera sadar ada lelaki luar biasa sepertimu yang mencintainya sedalam itu.”

Aku tersenyum dan mengamini dalam hati.

Semoga.

***

 

Aryasatya Syailendra (Ale)

 

 

*ditulis dalam rangka #FFBerantai dengan scene #CoffeeShop

*fiksi ini adalah Spin off dari #KisahBiyanBayuAle >> fiksi Jadilah Milikku, Mau? ; Dag Dig Dug ; dan cerpen 4 Juni di buku #ber2belas

*Spesial note : Bayu yang dimaksud Ale (tunangan Biyan yang meninggal di hari pernikahan, Bayu Putra Adhiyaksa) adalah orang yang BERBEDA dengan Bayu yang dimaksud Hanum (lelaki yang dicintai Hanum, Bayu M.Langit). Ale terkejut, karena lelaki yang dicintai Biyan dan Hanum, kebetulan sama-sama bernama Bayu.

Spesial note ini saya tulis karena ada beberapa pembaca yang mengira kisah “The Stranger” ini adalah kisah segitiga Ale-Hanum-Bayu. Padahal sebenarnya tidak. Posisi Ale di sini adalah Stranger yang kebetulan masuk ke dalam Coffee Shop ini dan mengobrol singkat dengan Hanum, sebelum akhirnya Ale pamit pulang dan pergi dari Coffee Shop itu. Dan Bayu yang disebut-sebut Ale dan Hanum adalah Bayu yang berbeda. ^^

 

Advertisements

8 thoughts on “The Stranger

  1. Pingback: #FFBerantai [24] The Strangers | 15 Hari Menulis Flash Fiction
  2. Pingback: 4 Juni « I. Love. Life
  3. Pingback: Jingga di Ujung Senja « I. Love. Life

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s