Dalam Diam

.weheartit.

 

Aku menyukai keheningan. Bahkan kadang aku melamun tanpa sadar di tempat-tempat umum. Seringnya, aku tenggelam dalam duniaku dan hanya mengamati orang yang berlalu lalang.

Seperti saat itu, saat aku sedang bosan setengah mati menunggu temanku. Yang kulakukan hanya mencopot high heels yang membuat kakiku kram dan duduk diam mengamati orang yang berlalu lalang di gedung pameran ini. Tanpa peduli siapa yang ada di kiri atau kananku.

Aku hanya diam. Mengamati.

Sampai akhirnya aku menyadari keberadaanmu yang tepat berada di sampingku, ketika tawa kita menyatu dalam udara.

Kebetulan yang menyenangkan.

Kita sama-sama menoleh. Terkejut mendapati kita ternyata mengamati dan menertawakan hal yang sama.

Lalu kamu tersenyum, memamerkan senyum lucu, dan mengulurkan tangan menyebut nama. Berkenalan. Tapi sebatas itu saja. Saat itu, kamu dan aku bahkan tidak berusaha saling mengenal satu sama lain lebih dalam.

Kita, dua orang asing yang kebetulan duduk berdampingan di sebuah pameran. Kita sama-sama kembali tenggelam diam dalam keheningan.

Namun takdir sepertinya punya jalannya sendiri, karena tak lama kemudian, kita kembali tertawa bersamaan dan saling berpandangan.

Lagi dan lagi. Berbagi hening dan berbagi tawa melihat hal-hal yang terjadi di sekililing kita. Hal-hal remeh seperti dua anak perempuan sekitar lima tahun yang saling menjambak hanya karena berebut pita, anak lelaki gendut yang sudah besar namun masih didorong di troli bayi, atau remaja yang tersandung kabel dan hampir terjerembap jatuh.

Saat itu aku tak tahu, bahwa nantinya aku akan jatuh hati dalam-dalam pada pecinta diam sepertimu. Pada lelaki asing berwajah lucu dan berkacamata dari pameran.

Saat itu aku tak tahu, bahwa nantinya kita akan terus berbagi keheningan yang nyaman seperti ini. Selama bertahun-tahun kemudian.

Seperti hari ini, tiga tahun kemudian dari saat itu, aku dan kamu duduk berdampingan, di tempat yang ramai, dalam keheningan yang nyaman.

Aku menoleh. Menatapimu yang asyik membaca buku. Entah berapa banyak orang yang berlalu lalang di sekitar kita. Entah berapa lama kita saling berbagi keheningan seperti ini. Namun, kamu tetap tenggelam dalam duniamu sendiri.

Kamu. Si pendiam yang membuatku jatuh cinta dalam-dalam.

“Ada apa?” kamu tiba-tiba menoleh, membetulkan letak kacamatamu. Ternyata kamu menyadari aku cukup lama memandangimu.

Aku tersenyum dan menyandarkan kepalaku di bahumu yang bidang dan nyaman. “Nggak papa…” bisikku, memainkan jari-jariku di sela-sela jemarimu yang sedari tadi menggenggamku erat.

Kamu tertawa, “Kamu aneh..”

“Memangnya kamu nggak aneh?” cibirku, mendongak memandangmu.

Kamu tertawa lagi, memamerkan senyuman hangat yang sama dengan tiga tahun yang lalu, saat kita pertama bertemu.

“Kita memang pasangan yang aneh, bukan?” kecupan lembut mendarat di puncak kepalaku.

Kini kamu melingkarkan tangan dipundakku.

Memelukku. Hangat.

Aku tersenyum bahagia. Keheningan menenangkan ini memang milik kita.

 

Dalam diam, aku tahu kamu mencintaiku dalam-dalam.

***

 

 

 

*Fiksi ini terinspirasi dari pertemuan sekilas, berbagi hening dan tawa bareng mas berkacamata dari Bandung yang duduk di sebelah saya di pameran tadi pagi :p

Advertisements

2 thoughts on “Dalam Diam

    • Hihihihihi.. :”>
      Ini endingnya fiksi kok yuuu, soalnya kenyataannya tadi aku harus balik dari pameran tanpa bisa pamit ke lelaki asing ituh, hihihihi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s