Pagi Kuning Keemasan

.

 -o-

Pagi itu kamu;

Kekuatanku untuk memulai dan menjalani hari.

 -o-

.

“Tunggu!”

Aku menoleh. Kamu berhenti beberapa anak tangga di bawahku, membungkuk tersenggal dengan tangan di pinggang.

“Masih.. jauh?” tanyamu dengan nada putus asa. Mukamu berkeriut sementara tanganmu mengelap peluh di dahimu.

.

Aku tersenyum melihatmu. Mukamu yang memerah itu terlihat semakin imut dan cantik. Kuputuskan untuk turun beberapa anak tangga menghampirimu.

“Bentar lagi sampai puncak, sayaaang,” kucubit pipimu dengan gemas. “Masak gini aja udah nyerah? Katanya cewek jagoan? Ayo! Nanti nggak keburu lho.”

.

Kamu menggerutu dan cemberut, dengan berat hati tetap mengikuti instruksiku naik tangga yang melingkar tinggi itu.

“Nah gitu dong!” ujarku memberi semangat, kali ini membiarkanmu mendaki duluan, dan separuh mendorong pundakmu dari belakang untuk membantumu naik sampai puncak.

“Awas kalau ternyata pemandangannya nggak secantik itu…” kamu terus menggerutu sambil naik. Kalau saja aku tidak menjanjikan kamu akan melihat sunrise tercantik, aku yakin kamu pasti tidak akan mau kuajak berlibur di Pulau Lengkuas, Belitung ini. Apalagi mendaki mercusuar setinggi 12 lantai ini.

.

Akhir-akhir ini kamu memang selalu memasang tampang cemberut dan selalu menggerutu. Selalu marah pada semua orang, terlebih padaku.

Ah, andai kamu tahu, sayang. Pemandangan cantik yang sebentar lagi kita lihat ini sebenarnya tak sebanding dengan kecantikanmu. Iya, kamu. Kamu, yang dulu selalu tersenyum ceria dan menyinariku seperti mentari di pagi hari.

.

Senyummu adalah kekuatanku untuk menjalani hari.

.

Dadaku berdegup kencang. Kalau pemandangan yang satu ini tak juga bisa membuatmu kembali tersenyum, entah apa lagi yang harus kuperbuat.

Tiba-tiba gerutuanmu mendadak terhenti, seperti juga langkahmu.

Pendar kilau kuning keemasan menerpa wajahmu.

.

“…..”

Kamu terpaku.

Aku tersenyum penuh kemenangan.

“Cantik kan?” tanyaku memastikan, setengah khawatir akan reaksimu.

Kamu masih terdiam, terpaku memandang pagi kuning keemasan yang terhampar indah di hadapan kita ini.

Berdua kita tenggelam dalam keheningan kemilau pagi ini.

.

“….”

“Yah…”

Aku menoleh mendengarmu memanggilku.

Dan kamu… sedang tersenyum menatapku.

Akhirnya. Senyum itu. Senyum seindah pagi itu. Senyum yang selalu menjadi kekuatanku itu tercetak manis wajahmu lagi.

Meski angin dingin berhembus kencang, entah mengapa tubuhku dijalari kehangatan yang menyenangkan.

.

“Terima kasih, ayah. Ini cantik sekali…” ucapmu, tak lebih keras dari bisikan, namun aku masih menangkap tiap kata dengan jelas.

Ada kilau bening di matamu. Bulir-bulir bening menitik di pipimu.

Kamu menghambur memelukku erat-erat. Tenggorokanku tercekat.

Apa sekarang kamu terhibur, nak?

Mataku memanas. Kupererat dekapanku ditubuh mungilmu. Kembalilah ceria seperti dulu, nak. Tinggal kamu satu-satunya harta paling berharga milikku. Teruslah tersenyum, sayang.

.

Tiba-tiba kudengar suara serakmu bertanya, “Apa… di atas sana… pemandangannya secantik ini, Yah? Apa ibu… di atas sana… bisa menikmati pemandangan secantik ini, Yah?”

Tenggorokanku makin tercekat. Sambil menelan ludah dengan susah payah, aku mengangguk.

“Pasti, sayang. Pasti.”

.

***

 .

*fiksi ini ditulis dalam rangka #15HariNgeblogFF

Advertisements

2 thoughts on “Pagi Kuning Keemasan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s