4 Juni

.

 -o-

When love is not madness, it is not love. 

~Pedro Calderón de la Barca. (Spanish Poet and Writer)

 -o-

.

.

Empat Juni. Hari yang paling kunanti dalam satu putaran bumi.

Aku melangkah pelan menuju rumahmu. Sementara dadaku berdebar dalam irama cepat. Seakan ada kembang api yang membuncah di dada, membayangkan dirimu nanti menyambutku dengan senyuman hangat dan mata teduhmu.

Debur ombak yang terdengar sepanjang jalan menuju rumah itu bahkan terdengar merdu di telingaku. Seolah mereka menyanyikan lagu bahagia kita.

Aku tersenyum, mengingat rumah cantik di tepi pantai ini akan menjadi rumah kita berdua. Tempat kita akan merajut segala cinta dan cita.

Kaulah yang mewujudkan segala khayalan indahku akan rumah di tepi pantai. Katamu, kita akan duduk setiap sore di pantai, menatap kilau mentari yang mengucap salam perpisahan untuk bumi.

Berdua saja.

.

Kemudian, aku akan bergelung dalam pelukan lenganmu yang hangat. Dan kau akan mencuri kecup di pundak atau pipiku. Seperti biasa.

Seperti senja ini. Senja indah yang akan menjadi milik kita berdua. Hari bahagia kita. Sesuai permintaanku untuk menikah tepat saat tebaran kilau senja menyirami bumi.

Ekor gaun putihku menyeret tanah. Gaun putih luar biasa cantik milik nenek buyutmu. Gaun yang kau persembahkan khusus untuk kupakai di hari bahagia ini.

.

Aku tak sabar menunggu reaksimu melihatku memakai gaun warisan turun-temurun dari keluargamu ini. Kau tahu betapa bahagianya aku ketika kau memintaku menjadi pendamping hidupmu?

Sayang ibu dan nenekmu tak sempat melihat hari bahagia kita, karena dipanggil oleh Yang Kuasa terlebih dulu. Belasan tahun yang lalu. Sama seperti ayah dan ibuku.

Lihat. Betapa kita amat serupa.

Sepasang anak manusia yang sebatang kara. Saling mencinta.

Ya. Berdua kita akan mengarungi dunia. Seperti janjimu padaku. Iya kan, sayang?

 .

Sial. Sudut mataku mulai terasa panas. Kudongakkan kepala dan kuhirup napas dalam-dalam. Aku tidak boleh menangis. Ini hari bahagiaku. Riasan maskaraku tidak boleh luntur oleh airmata.

Kurasakan genggaman di lenganku mengerat. Aku tersenyum, menoleh ke sampingku. Ke arah pria yang menuntunku.

Ah, setidaknya aku masih beruntung. Aku mempunyai Ale, sahabat terbaik yang pernah kumiliki, sebagai pengiring pengantin.

Aku tersenyum mengingat kau pernah bertanya padaku, kenapa tidak Ale saja yang kunikahi. Mengingat betapa seringnya aku dan Ale bertengkar lalu kemudian baikan lagi.

Bodoh. Ale itu sahabatku. Sedangkan kau, satu-satunya pria yang aku cintai.

Pria manapun tidak akan ada yang bisa menandingi tahtamu di hatiku, sayang.

 .

Nah. Sampailah aku ke tempat pernikahan kita. Sebuah taman cantik di halaman belakang rumah.

Itu dia. Wajahmu yang tampan luar biasa. Menyambutku di sana.

Kutatapi wajahmu yang tersenyum gagah. Senyum yang mengisi ribuan malamku. Senyum yang mampu membuat seluruh persendianku luluh satu persatu.

Kemudian mata teduh itu. Mata yang menghangatkan malamku. Mata yang membiusku sejak pertama kita bertemu.

 .

“Aku datang, sayang…” bisikku.

Sesuatu menghangat di pelupuk mataku, yang aku yakin sebentar lagi akan tumpah.

Kau tetap tersenyum. Diam seribu bahasa.

Kutatap wajahmu lekat-lekat. Keheningan yang mencekam bahkan terasa mencekik pernapasan.

Tak ada jawaban.

 .

Bulir bening yang mengumpul di pelupuk mataku akhirnya luruh. Maafkan aku. Aku tahu aku telah berjanji padamu untuk tidak menangis lagi.

Tuhan, bagaimana mungkin aku tidak menangis?

 .

Biasanya, kau yang akan mengecup puncak kepalaku dan memelukku. Tanpa kata-kata, kau selalu sukses menghapus semua air mata.

Aku jatuh terduduk. Persendianku mendadak melemah.

 .

Empat Juni. Hari bahagia kita.

Kuputar cincin emas putih sederhana yang menjadi cincin pernikahan kita. Ukiran nama kita berdua berkilat di bagian dalamnya.

Kau bahkan belum sempat memasangkan cincin ini ke jemari manisku. Kita bahkan belum sempat mengucapkan janji suci sehidup semati.

Dengan susah payah kutelan ludahku. Pandanganku sudah kabur oleh airmata.

 .

“Aku sudah di sini, Bayu sayang. Siap mengucapkan janji suci kita. Kembalilah…”

Kuraba foto dirimu yang terpampang di batu nisan. Dirimu tetap membisu di foto itu. Entah kenapa yang terdengar hanyalah sengguk tangisku.

Lihatlah tempat cantik yang seharusnya menjadi altar pernikahan kita ini, sayang. Tepat di tempat inilah memang jasadmu dikebumikan. Sesuai permintaanku.

Berapa kali pun kupandangi fotomu, hasilnya akan tetap sama. Semacam ada silet yang menyayat hatiku.

 .

Kualihkan tatapanku ke arah potongan berita koran yang terpigura rapi di sebelah fotomu.

Berita tentang jatuhnya pesawat yang kau tumpangi saat menuju ke sini. Kecelakaan tanggal Empat Juni. Tepat di hari pernikahan yang suci ini akan digelar sore harinya.

 .

Aku tahu Ale sengaja membingkai berita itu di sini sebagai pengingatku bahwa kau telah pergi. Benar-benar pergi.

Tapi, seharusnya dia tahu. Bahwa meski empat kali Empat Juni sudah terlewati, kau tidak pernah bisa pergi dari hatiku, sayang.

 .

Bahkan sampai nanti puluhan Empat Juni datang silih berganti. Aku akan tetap setia padamu.

 .

Bukankah aku sudah pernah bilang, bahwa tahtamu di hatiku tak tertandingi oleh lelaki manapun?

Kurasakan cincin di jemariku sudah basah oleh airmata. Mengingat perihnya kehilangan dirimu yang diambil paksa oleh Yang Kuasa.

 .

Senja sudah pergi, berganti pekat malam yang membuat langit hitam berjelaga. Entah sudah berapa jam yang terbang bersama isak tangisku di atas makammu.

“Sudah larut malam, Biyan. Mari kita pulang,” suara Ale dibelakangku terdengar di antara hembusan angin malam. Semenjak tadi, dia memang terus di belakangku. Seakan takut aku akan jatuh pingsan, atau apa.

Aku menggeleng. “Kamu pulang saja duluan, Al..”

Meski begitu, tanpa menoleh ke belakang pun, aku tahu dia tidak beranjak dari tempatnya berdiri. Seperti biasa, dia akan tetap di situ.

 .

Sama seperti cintaku padamu, Bayu. Cintaku padamu tak akan bisa beranjak pergi.

Selalu dan selamanya.

Tidakkah kau melihatnya dari atas sana?

 .

Lihatlah. Aku tetap seperti aku yang selalu kau bilang keras kepala.

Ya. Aku memang keras kepala. Sebut aku gila. Tapi memang sebesar inilah cintaku padamu.

 .

Aku, akan selalu di sini. Setiap senja tanggal Empat Juni. Berdandan cantik bergaun putih.

Menunggumu kembali.

 .

.

.

***

 .

.

.

*Fiksi ini saya buat bersama partner di buku #Ber2belas. Yang saya post di sini adalah part yang saya buat. Mau tahu seperti apa kisah lengkap yang saya dan @putririzkyp (partner saya) buat? Kisah selengkapnya bisa dibaca di buku #Ber2belas 🙂

*Part-part lain yang saya buat untuk kisah Biyan-Bayu-Ale ini bisa dibaca juga di Jadilah Milikku, Mau? , Dag Dig Dug, dan The Stranger

.

Advertisements

One thought on “4 Juni

  1. Pingback: Jingga di Ujung Senja « I. Love. Life

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s