Jingga di Ujung Senja

-o-

.

“Kamu belum menjawab pertanyaanku pagi itu…”

Pria tampan dengan muka serius di sebelahku mendadak meletakkan garpunya, bersedekap, dan tampak kesal. Membuatku menoleh dengan heran.

.

Jembatan Ampera di hadapan kami tampak megah berlatar langit yang berwarna jingga. Kami sedang early-dinner-late-lunch nan romantis di resto terapung Riverside. Sungai musi di hadapan kami tampak berkilauan senja ini.

Sebenarnya aku tak seharusnya ada di kota ini. Tapi aku memaksa ikut Bayu, pria tampan di sebelahku a.k.a kekasihku ini, ketika dia ditugaskan dinas di kota Palembang untuk tiga hari.

Selain karena sangat kangen dengannya dan tidak ingin terpisah lagi meski cuma tiga hari, aku kan juga ingin menikmati pempek Palembang di kota aslinya. Hihihi. Biar saja alasanku konyol. Yang penting aku berhasil membujuknya membawaku ikut serta ke Palembang.

.

“Pagi yang mana?” tanyaku polos, sengaja memancing reaksinya.

Dia menoleh memicingkan mata dengan tatapan kamu-pasti-tahu-pagi-mana-yang-kumaksud.

.

Aku mendengus menahan tawa. Bayu, Bayu… kamu lucu sekali kalau lagi marah begitu.

Tentu saja aku tahu pagi yang mana. Bagaimana bisa aku mengabaikan pagi paling romantis dalam hidupku ketika Bayu memberikan kejutan paling manis dengan melamarku dengan cincin-tergantung-di-pohon seusai dia memaksaku lari pagi berdua?

Tapi, memang dasar akunya saja yang sengaja mengulur-ngulur waktu menjawabnya. Hihihi.

.

“Hmm.. Aku mau menikah denganmu…”

Kulirik sekilas, mukanya berubah cerah dan senyumnya mengembang.

“Tapi dengan satu syarat!” potongku, membuat airmukanya berubah menjadi cemberut lagi.

“Apa?”

.

Aku tersenyum geli mendengar kekhawatiran dalam suaranya. Dasar bodoh. Tentu saja aku mau menikah dengannya tanpa syarat. Tapi aku tidak bisa menahan diri untuk tidak menggodanya. Aku suka melihatnya cemberut begitu. Muka tampan-dan-sangat-seriusnya mendadak jadi lucu ketika cemberut.

Seorang Bayu yang selalu serius dan tampak ‘dingin’ di depan semua orang, bisa menampakkan sisi kekanak-kanakannya di hadapanku. Hanya di hadapanku. Bagiku itu sangat cute.

.

“Aku mau melihat cantiknya jingga di ujung senja ketika menikah…”

Dia terpana sejenak mendengar perkataanku. Mungkin disangkanya aku akan mengajukan entah-syarat-aneh-atau-berat-apa.

“Kamu mau kita menikah saat senja?”

.

Aku mengangguk. Dia menghembuskan napas lega, memelukku erat-erat, dan mencubit pipiku keras-keras.

“Dasaaar! Gini aja lama banget jawabnya. Pake ngajuin syarat segala. Kirain apa syaratnya. Bikin deg-degan aja!”

.

Aku tertawa. Dia tertawa.

Tawa kami menyatu di udara senja.

Hari itu, semburat jingga di ujung senja tampak begitu cantik di mataku.

 .

.

***

.

.

“Bi? Bi? Biyan?”

Ale mengguncang-guncang bahuku, membuat lamunanku buyar.

Dia memandangku dengan tatapan khawatir. “Kamu nggak papa, Bi?”

.

Secepat kilat kupalingkan wajah dari langit jingga di atas Sungai Musi Palembang di hadapanku ini, dan kuhapus bulir-bulir yang menetes di pipiku. Aku tak mau sahabat terbaikku itu tahu aku menangis lagi.

Ah, Biyan bodoh! Cengeng! Kalau begini buat apa kamu nekat datang ke tempat penuh kenangan ini? Ini bunuh diri namanya! Aku merutuki diriku sendiri dalam hati sambil menoyor kepalaku sendiri tanpa sadar.

.

“Hey.. hey.. Bi…” Ale menangkap tanganku yang tengah menoyor-noyor kepalaku sendiri.

Kemudian dia memelukku erat.

.

Hangat.

.

Dipeluk dengan penuh sayang begitu, malah membuat perasaanku tak karuan. Aku menangis sejadi-jadinya dan membenamkan diri di dadanya yang hangat.

“Jingga.. di ujung.. senja… tak pernah sama lagi, Al…”

.

Ya. Jingga di ujung senja tak akan pernah sama lagi di mataku.

Karena langit jingga di ujung senja tepat di hari pernikahanku dua tahun yang lalu, mengambil calon mempelaiku.

Langit jingga di ujung senja mengambil Bayu.

Untuk selamanya.

.

.

****

 .

.

*fiksi ini adalah rangkaian kisah Biyan-Bayu-Ale. Baca kisah mereka di Jadilah Milikku, Mau? , Dag Dig Dug, 4 Juni , dan The Stranger

.

Advertisements

6 thoughts on “Jingga di Ujung Senja

  1. keren ih keren.. 🙂 aku baru aja membaca semua kisah banyu-ale-biyan… salut.. salam kenal ya, hilda.. 🙂

  2. Aku baru baca ini… Gegara bahasan kita di grup LINE kemarin.

    Ini Bayu-nya kenapa, mbak??? Awalnya udah ikutan berbunga-bunga, sweet banget eh tp endingnya… Demi apa pengen nangis… T.T

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s