Kerudung Merah

.

-o-

When love feels like magic, It’s called Destiny.

When Destiny has a sense of humor, it’s called Serendipity.

~Serendipity (2001)

 -o-

.


 .

.

“Ndin, aku jalan-jalan bentar ya,” pamitku sambil membuka pintu kamar penginapan.

Andin, sahabat sekaligus roommate-ku dalam liburan ini, mendongak kaget dari iPad-nya mendengarku tiba-tiba pamit. “Hah? Mau kemana? Ini udah malem lho, Ra…”

“Bentar, liat-liat Danau Toba doang. Nggak jauh-jauh kok. Lagian, aku bosen bengong di kamar sementara kamu bercinta dengan video-video Super Junior-mu itu…” Aku sengaja menekankan kalimat terakhir agar dia merasa bersalah mengabaikanku hanya karena streaming konser-entah-apa-itu-namanya dari Suju.

Andin menampakkan cengiran-polos-tak-berdosanya. “Hehehe.. Oke, oke, baiklah.. Have fun ya, darling. Jangan sampe ilang atau tersesat lho. Nanti aku yang repot!”

 .

Aku mencibir. Pura-pura kesal padanya. Aku tak habis pikir, apa gunanya jauh-jauh ikut tur wisata ke Danau Toba, kalau cuma untuk mendekam dalam kamar dan nonton video para-pria-yang-menari-nari-yang-menurutnya-sangat-tampan-dan-menggemaskan itu. Tapi separah apapun Korean-freak-nya dia, aku tetap tidak bisa marah padanya. Bagaimana pun juga, dia itu sahabat terbaikku, aku harus menghargai kegemarannya.

“Aku cuma mau jalan-jalan sejam-dua jam. Apa sih yang bisa terjadi dalam waktu sejam?”

“Iya deh iyaaa..” Andin mengalah dan melambaikan tangan pertanda dia ingin segera kembali menonton video-video itu dan membiarkanku pergi.

 .

Saat itu aku tak tahu, bahwa BANYAK yang bisa terjadi dalam waktu tidak sampai satu jam. Dan bahwa dalam kurun waktu itu, aku mengalami kejadian paling ajaib dalam hidupku yang sudah berjalan 24 tahun ini.

 .

“Eh, Kara.. tunggu!” panggil Andin, membuatku kembali melongok ke dalam kamar, setengah berharap dia berubah pikiran dan mau ikut jalan-jalan bersamaku menikmati keindahan Sumatera Utara di malam hari.

Tapi alih-alih bangkit dari kasur penginapan kami yang nyaman, Andin cuma memicingkan mata dan berbisik pelan dengan serius, “Hati-hati sama serigala ya…”

“Hah?”

Aku merasa salah dengar. Hati-hati sama serigala?

Oke. Nasihat yang sama sekali tidak masuk akal.

Melihatku melongo, Andin menunjuk jilbab yang kukenakan.

“Hah?”

Apa sih? Apa kepala Andin terbentur sesuatu dan sudah mulai tidak waras? Mendadak aku merasa bersedih dan kasihan dengannya. Apa otak Andin sudah teracuni video-video yang ditontonnya?

 .

Andin memutar bola mata ketika mendapatiku menatapnya dengan tatapan ya-ampun-Andin-jadi-gila-ya-ampun-kasihan-banget-sih-Andin.

“Kerudung merah, Ra. Kerudung merah… Serigala. Kerudung merah… Serigala!” ujarnya dengan nada seolah sedang menjelaskan pada anak TK bahwa satu ditambah satu itu sama dengan dua.

Gantian Andin yang menatapku dengan tatapan ya-ampun-Kara-lemot-banget-sih.

Hah? Kerudung merah? Serigala?

Astaga!

Seketika aku paham. Kerudung merah. Little Red Riding Hood.

.

Ya Tuhan, aku benar-benar nggak paham bagaimana sahabatku itu sempat-sempatnya bercanda menasihatiku dengan mengaitkan jilbab merah yang aku pakai. Aku kan tidak berpikir sejauh itu. Aku mengerucutkan bibirku.

Tanpa komentar, aku segera menutup pintu kamar sebelum aku ikut-ikutan jadi segila Andin. Aku bahkan sempat mendengar teriakannya dari dalam kamar,

“Yuhuuu~ Dadaaah Kerudung meraaah! Hati-hati diterkam serigalaaa yaa!”

 .

***

 .

Oke. Setelah hampir satu jam menyusuri pesisir Danau Toba yang dihiasi oleh berbagai kafe, aku mulai merasa lelah. Apalagi tempatku berdiri sekarang sudah sepi, hanya tinggal semak-semak dan sebuah batu yang lumayan besar dan panjang.

Kuputuskan untuk duduk sejenak di atas batu itu karena kakiku sudah mulai pegal-pegal. Kumasukkan kamera pocket-ku ke dalam saku jaket.

Angin malam di sekitar Danau Toba yang berhembus kencang membuatku menggigil dan merinding. Kutengok kanan-kiriku.

Sunyi.

Fine. Sepertinya aku harus segera kembali ke penginapan. Bergelung di tempat tidur yang nyaman dan hangat mendadak menjadi ide yang sangat menyenangkan ketimbang nantinya bertemu makhluk apapun yang membuat bulu kuduk merinding.

 .

Baru saja aku hendak bangkit berdiri dari batu besar tempatku duduk ketika sesuatu yang besar dan berat, mendadak menabrakku, membuatku jatuh terduduk di atas batu lagi.

Jantungku mencelos.

Aku menjerit sekuat tenaga.

“AAAAA~”

 .

Namun, jeritanku langsung berhenti karena dibekap sesuatu — oh, oke — seseorang. Karena ‘sesuatu’ pasti tidak akan bisa menyentuh, apalagi membekap mulutku kan?

“Sssssshh!” bisik orang itu dengan nada panik dan memohon.

 .

Aku menoleh ke belakang melihat siapa yang membekapku. Dari jarak sedekat ini — praktis orang ini hampir bisa dikatakan setengah memelukku dari belakang dalam rangka membekap mulutku — aku bisa mencium wangi yang khas menguar dari tubuh orang ini.

Bukan, bukan wangi kamboja ala kuburan, tapi wangi parfum cowok yang sangat enak dan menenangkan.

Dan seketika jeritanku berhenti dan lenyap ketika melihat sosok yang membekapku. Aku terbelalak.

 .

Kalau ada lelaki yang bisa membuat lutut para wanita lemas hanya dengan memandangnya, mungkin lelaki yang sedang membekapku inilah orangnya.

Rambutnya gondrong-berantakan-super-ganteng. Matanya hitam berkilau agak meruncing ke samping. Hidungnya mancung. Dan senyumnya… Oke, aku tak tahu apa dia memang seramah itu pada orang yang baru saja ditemuinya, atau dia sedang berusaha membuatku percaya bahwa dia orang baik dan menenangkanku agar tidak menjerit.

Tapi yang pasti… He has the-most-georgeous-smirk-i’ve-ever-seen.

 .

Merasa aku sudah tidak menjerit lagi — Oh yeah, yang benar saja. Jangankan menjerit. Sekarang ini, mengeluarkan bisikan pun aku tak mampu — akhirnya dia melepaskan tangannya dari mulutku dan secepat kilat melompat ke balik batu besar tempatku duduk, bersembunyi hingga tubuhnya lenyap dari pandangan.

Aku masih terbengong-bengong dan belum pulih dari kekagetanku akan ulah dan ketampanan lelaki yang baru saja membekapku, ketika beberapa lelaki berderap ke arahku.

 .

Oke, apalagi ini?

Apa ini salah satu dari hari-orang-orang-ajaib-tiba-tiba-muncul-kehadapanmu?

 .

“Apa barusan ada seorang pria tinggi berambut gondrong lewat sini?” tanya salah seorang diantara para lelaki itu.

Aku baru menyadari mereka semua berkostum sama persis. Kemeja putih, jas hitam, bercelana hitam, dan earphone tampak jelas menggantung di salah satu telinga.

Tinggal tambahkan kacamata hitam, maka penampilan mereka akan persis sama seperti agen rahasia di film-film blockbuster Hollywood yang kutonton.

 .

Sekuat tenaga kukatupkan kembali rahangku yang sempat menganga melihat pemandangan aneh di hadapanku ini. Kukerjapkan mata berkali-kali. Berharap ini hanya mimpi atau aku salah lihat atau kepalaku terbentur sesuatu atau apa.

Siapa mereka? Men in Black? CIA? FBI?

 .

Tunggu! Ini Danau Toba kan? Bagaimana mungkin ada orang-orang berjas hitam di malam hari di tepi Danau Toba mengejar lelaki super tampan berambut gondrong yang bersembunyi di balik batu?

BAGAIMANA MUNGKIN?

 .

Aku merasa kepalaku pening.

This. Is. Too. Weird. To. Be. Truth.

 .

Aku menoleh ke kanan dan ke kiri dengan waspada.

Apa aku tanpa sengaja memasuki area syuting film? Karena ini persis seperti di film-film Hollywood itu. Kecuali, kawanan Men in Black di hadapanku sama sekali tidak mengacungkan pistol dan setting tempat film-film semacam ini biasanya bukan di Danau Toba sih.

Ah, tapi tak terlihat kru film satupun.

Apa aku masuk di salah satu reality show yang suka ngerjain orang itu? Hmm.. tak terlihat candid camera sekeras apapun aku memicingkan mata.

Oh, oke. Sepertinya otakku mulai tidak waras karena keracunan ketampanan-lelaki-yang-kini-sedang-bersembunyi-di-balik-batu itu.

Mungkin aku mulai berhalusinasi yang tidak-tidak.

 .

Muka lelaki setengah botak yang bertanya padaku — mukanya mengingatkanku pada Agen Smith di film Matrix Trilogy anyway — tampak tidak sabar menunggu jawabanku dan berdeham keras, membuatku terlonjak dan tersadar ini bukan halusinasiku semata.

Aku menelan ludah dengan susah payah, berusaha keras tidak menoleh pada batu di belakangku, dan diam-diam berdoa dalam hati agar mereka tidak menoleh pada batu itu. Meski aku tidak mengenal siapa lelaki tampan itu, naluriku berkata aku harus melindungi lelaki itu dari kawanan Men in Black ini.

“Hah? Cowok gondrong? Enggak tuh, om…”

 .

Lelaki setengah-botak itu menaikkan alis dan menatapku galak. Entah karena dia memang galak atau dia tersinggung dengan panggilan ‘om’ yang aku lontarkan barusan. Well, kalau dikira-kira dari umurnya — mungkin 50-an — dan botaknya, dia memang om-om kok menurutku.

Om setengah botak itu menyipitkan mata dengan curiga, “Tapi tadi saya seperti mendengar jeritan dari arah sini, nona. Apa itu jeritan anda?”

Sial.

Kupasang tampang paling polos sebisa mungkin.

 .

“Hah? Jeritan? Saya dari tadi menyanyi om, mungkin om salah dengar…” ketika Om Setengah Botak itu masih memasang tampang curiga, buru-buru kunyanyikan lagu yang pertama terlintas di kepalaku sekencang mungkin,

In another LAAAAAAA~iiifff, AAAAA~ii would be your girl…

 .

Om Setengah Botak tampak menutup telinganya secara otomatis, begitu pula kawanan Men in Black di belakangnya.

Bahkan mereka menatapku dengan pandangan apa-gadis-ini-baru-saja-lepas-dari-rumah-sakit-jiwa?

 .

Baiklah. Ini memalukan. Sangat memalukan.

Kalau ini siang hari, aku yakin mereka pasti bisa melihat mukaku yang seperti kepiting rebus. Aku bisa merasakan pipiku merona saking malunya.

 .

Demi apa aku menyanyi seperti orang gila untuk melindungi cowok yang baru saja kutemui tidak sampai 5 menit itu? Demi APA?

Bagaimana kalau lelaki-gondrong-super-tampan itu ternyata buronan? Penjahat kelas kakap? Pembunuh berdarah dingin?

Pembunuh…

.

YA TUHAN! JANGAN-JANGAN AKU MELINDUNGI PEMBUNUH!

 .

Tapi kepanikan-dan-khayalan-aneh-paranoid-tentang-pembunuh itu buyar mendengar berbagai dengusan yang terdengar jelas. Di belakang si Om Setengah Botak, kawanan Men in Black itu sepertinya berusaha keras menahan tawa mendengar nyanyianku yang sangat parah tadi.

Aku yakin mereka akan tertawa terbahak-bahak jika si Om Setengah Botak ini tidak menoleh dan menatap mereka dengan tatapan apa-kalian-semua-ingin-mati.

Bagus. Aku mempermalukan diriku sendiri di hadapan orang-orang ini.

 .

Si Om Setengah Botak menatapku setengah curiga sekali lagi dan memandang sekeliling — yang berarti hanya ada semak-semak dan Danau Toba — kemudian menghela napas panjang. “Baiklah, sepertinya dia memang tidak ke arah sini…” dia bergumam, lebih kepada dirinya sendiri ketimbang berkata padaku.

Dia berbalik dan pergi begitu saja. Seperti pasukan perang yang dipimpin oleh panglimanya, kawanan Men in Black mengikutinya pergi.

 .

Tunggu! Mereka pergi semudah itu?

Aku melongo setengah tidak percaya tipuan agak-tidak-waras ku itu berhasil.

 .

Aku masih berdiri linglung selama entah berapa lama ketika tiba-tiba saja lelaki tampan yang tadi kulindungi dengan mengorbankan seluruh harga diriku ini sudah berada di depan hidungku, membuat jantungku nyaris copot.

Dan dia menampakkan senyum-pembuat-lutut-lemas itu lagi.

Sial.

Aku segera duduk di atas batu, supaya tidak jatuh pingsan atau semacamnya.

Ribuan pertanyaan berputar di kepalaku, tapi tak ada satupun yang keluar dari mulutku.

 .

Lelaki di hadapanku ini mengeluarkan topi dari ranselnya — ngomong-ngomong, aku baru menyadari dia memakai ransel di punggungnya — dan memakainya untuk menyamarkan rambut gondrongnya.

Dan yang dia lakukan selanjutnya, benar-benar di luar dugaanku dan hampir membuatku pingsan. Lelaki itu menepuk-nepuk pelan (atau mengusap-usap? Entahlah, otakku mendadak macet) kepalaku, masih dengan senyuman-mematikan-nya itu.

“Terima kasih banyak ya, Kerudung Merah! You saved my life.”

 .

Lelaki bersenyum-pembuat-lutut-lemas itu sudah hendak pergi ketika akhirnya aku menemukan kembali pita suaraku.

“Tunggu!”

 .

Dia berhenti sejenak, kemudian menoleh.

“Si.. siapa kamu? Siapa mereka? Kenapa kamu lari dari mereka?”

 .

Lelaki itu terdiam sejenak dengan ekspresi datar, yang membuatku mengira dia akan meloncat ke arahku kemudian mencekikku atau mengeluarkan pistol dan membunuhku — seperti penjahat-penjahat di film-film — untuk melenyapkan saksi mata.

Tapi lagi-lagi reaksinya di luar dugaanku. Dia malah tertawa — yang bagiku seperti nyanyian surga, errr.. oke, maksudku terdengar sangat renyah dan ramah untuk ukuran pembunuh berdarah dingin.

“Lebih baik kau tidak mengenalku, Kerudung Merah. Tapi, aku sudah berutang budi padamu. Jadi akan kuberitahu kalau seandainya ada keajaiban kita bertemu lagi. Sampai jumpa, Kerudung Merah!”

 .

Lelaki itu tersenyum lebar dan melambai ke arahku. Ketika dia tersenyum lebar, matanya menyipit hingga benar-benar menutup. Dan dia punya lesung pipit di pipi kanan-kirinya.

Luar. Biasa. Tampan.

 .

Aku masih terpana dengan senyumannya ketika aku menyadari dia sudah berlari ke arah yang berlawanan dengan kawanan Men in Black tadi dan lenyap dari pandangan.

Begitu kembali menjejak alam nyata, aku menyesali diriku yang sangat lambat bereaksi.

Sial! Kenapa aku tadi tidak mengejarnya — oh oke, paling tidak menahannya atau diam-diam membuntutinya jika mengejar dikategorikan terlalu ekstrim.

Dan dia.. dia sudah kulindungi dengan susah payah dan sudah membuatku terlihat seperti tidak waras dengan bernyanyi seperti itu, tapi dengan entengnya dia pergi begitu saja bahkan tanpa memberitahu namanya.

How come?

 .

Kuhentakkan kaki dengan kesal. “LELAKI MACAM APA DIA?!” jeritku kesal pada angin malam, yang tentu saja hanya bisa menjawabku dengan hembusan dinginnya.

Lelaki super tampan yang membuat jantungmu berdebar dan membuatmu penasaran setengah mati, Kara.

Aku merutuki bisikan dari hati kecilku itu.

 .

Tiba-tiba tergiang nasihat bercanda Andin sebelum aku berangkat tadi. Hati-hati bertemu dengan serigala.

Aku tersenyum geli. Serigala, eh? Andin pasti akan shock jika tahu aku bertemu dengan serigala paling tampan sedunia.

 .

Secepat kilat aku bergegas kembali ke penginapan dengan hati tak karuan. Antara super senang, berdebar-debar kencang, luar biasa tak percaya, dan bertanya-tanya.

Siapa lelaki tampan misterius itu? Apa dia penduduk setempat? Apa dia jatuh dari langit?

Kemana dia pergi?

Siapa kawanan Men in Black itu?

Mengapa lelaki tampan misterius itu melarikan diri dari kawanan Men in Black? And.. what on earth are they doing in this Toba Lake?

 .

Ini gila. The craziest things that ever happened to me.

.

Ini bukan mimpi kan? Kucubit keras-keras lenganku. Aku tertawa bahagia mendapati rasa sakit menusuk-nusuk bekas cubitanku.

Ini benar-benar bukan mimpi.

Ya Tuhan, kuharap aku bisa bertemu dengannya lagi.

.

.

.

***

 .

 .

.

.

*fiksi ini ditulis dalam rangka #15HariNgeblogFF2 dengan ide yang tercetus begitu saja di kepala dan tanpa sadar ternyata jadinya panjang banget .__.

Advertisements

3 thoughts on “Kerudung Merah

  1. Pingback: Sepanjang Jalan Braga « I. Love. Life
  2. Pingback: Tak Perlu Tahu « I. Love. Life

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s