Sepanjang Jalan Braga

.

-o-

Can Once In A Lifetime Happen Twice?

~Serendipity (2001)

-o-

 

.


 .

Aku tidak pernah percaya yang namanya keajaiban. Tidak. Sebelum aku bertemu dengan pria itu.

Pria-misterius-yang-super-tampan.

Buronan. Oh entahlah. Aku tak tahu apakah dia buronan atau bukan. Yang jelas dia dikejar-kejar oleh kawanan Men in Black — oh, bukan, bukan alien — maksudku, gerombolan pria berpakaian sejenis, yaitu hitam-hitam seperti agen rahasia di film-film blockbuster Hollywood.

Aku tak tahu apakah dia atau kawanan Men in Black itulah penjahat yang sesungguhnya. Tapi, itu tak menjadi masalah buatku. Toh penjahat atau bukan, dia tetap bersalah karena membawa lari hatiku.

 .

Well, kalau kalian mendadak bertemu dengan pria-super-tampan yang dikejar-kejar kawanan lelaki berpakaian bak agen rahasia, dan itu terjadi di malam hari, di tepi Danau Toba — Iya, kalian tidak salah baca, memang benar-benar TEPI DANAU TOBA, bukannya Miami atau Vegas — dan kejadian itu berlangsung tidak lebih dari setengah jam, ditambah lagi fakta bahwa kalian sedang sendirian ketika mengalami itu….

…apa kalian akan berpikir bahwa itu hanya mimpi? atau bahwa kalian sedang berhalusinasi? atau kalian mulai gila?

 .

Karena aku mengalami itu semua.

Dan kurasa aku jadi tidak waras semenjak kejadian itu.

 .

Karena sejak itu aku meracau ingin bertemu dengannya. Tapi, sisa trip tiga hariku bersama sahabatku, Andin, di Sumatera Utara itu berakhir dengan mengecewakan karena aku sama sekali tidak dapat menemukan jejaknya atau jejak kawanan Men in Black.

Nol.

Nihil.

Nada.

 .

Andin berusaha menghiburku — yang menurutku sama sekali tidak menghibur — dengan mengatakan bahwa mungkin aku salah lihat.

BAGAIMANA AKU BISA SALAH LIHAT COWOK SETAMPAN ITU?

For God’s Sake!

Tidak mungkin aku salah lihat! Ya, kan?

 .

***

 .

Kususuri jalan Braga tanpa semangat. Padahal kanan-kiriku berdiri megah bangunan dengan arsitektur Belanda. Kilau lampu dari tiang-tiang di sepanjang jalan tua yang menjadi ikon Bandung ini bahkan tak mampu membangkitkan minatku. Kamera pocket kesayanganku masih tersimpan aman di postman bag yang tersampir di bahuku.

Dalam keadaan normal, harusnya aku sudah berlari kesana-kemari mengabadikan keunikan bangunan di sepanjang jalan Braga ini. Tapi weekend gateaway kali ini terasa hampa.

 .

Aku dan Andin punya kebiasaan melakukan weekend gateaway tiap beberapa bulan sekali ke berbagai tempat di Indonesia. Sebagai hadiah kami atas kerja rodi kami selama beberapa bulan itu. Kebetulan kami sama-sama pecinta travelling.

Oh, kuralat. Sama-sama pecinta travelling sebelum Andin keracunan boyband asal Korea, Super Junior. Kini, setiap kami sedang weekend gateaway, dia lebih banyak menatap iPadnya daripada menjelajah ke berbagai tempat wisata di Kota yang kami datangi.

 .

Tapi liburan ke Bandung kali ini adalah hasil paksaan Andin — yang sudah tak tahan melihatku melamun atau meracau padanya seperti orang gila.

Menurutnya, karena aku sudah jadi jomblo lebih dari setahun sejak putus dari mantanku, aku akan menjadi jomblo seumur hidup dan tidak akan bisa mencintai pria lain kalau aku tidak menyembuhkan ‘halusinasi’-ku pada Pria-Danau-Toba-ku ini. Yeah, kayak dia bisa sembuh dari lelaki-lelaki idolanya yang dia tatapi tiap hari di iPadnya saja.

 .

Jadi, menurut Andin, aku harus berlibur, mencari pria-tampan-masuk-akal yang bisa kujadikan gebetan. Siapa tahu ada cowok tampan Bandung yang entah bagaimana bisa jatuh cinta dan mau menjadikan aku yang keracunan ini pacarnya.

 .

Menurutku, kemungkinan aku mendapatkan gebetan cowok tampan Bandung di kala aku masih saja keracunan cowok-Danau-Toba-ku adalah sama besarnya seperti kemungkinan aku tiba-tiba menjadi presiden RI dalam tiga hari.

Alias tidak mungkin. Sama sekali tidak mungkin.

Sayangnya, kemungkinan aku bisa bertemu kembali dengan cowok-Danau-Toba-ku juga sama parahnya dengan itu.

 .

Dan untuk menghiburku dan membantuku melupakan halusinasi-pria-super-tampan-yang-dikejar-kejar-kawanan-Men-in-Black, Andin bahkan rela meninggalkan iPad (lebih tepatnya video-video Super Junior kesayangannya) di rumah.

Lalu, dimana Andin sekarang? Mengapa aku berjalan sendirian di sepanjang Braga? Oh, tentu saja dia sudah terlelap manis di kasur nan empuk penginapan kami. Sekuat apapun aku berusaha membangunkannya, sekuat itulah dia memeluk bantal. Apalagi dia seharian berlari-lari dari satu butik ke butik lainnya di Paris Van Java. Jelas dia tepar dan tak bisa bangun malam ini. Huh. Gitu mau menghiburku, katanya?

 .

Alhasil, aku meratapi nasibku menyusuri jalan indah ini sendirian. Ini hari terakhir kami di Bandung. Sepertinya keajaiban Danau Toba tidak akan terjadi di Bandung.

Mungkin kejadian di Danau Toba itu once in a lifetime.

Tidak mungkin terjadi dua kali.

Yeah, benar.

Tidak mungkin….

“ADUH!”

 .

Karena sibuk melamun dan meratapi nasib yang parah ini, aku tidak melihat jalan. Aku tidak sengaja bertabrakan dengan sesuatu — err, seseorang — err, seorang pria yang wangi lebih tepatnya. Karena badan orang yang bertabrakan denganku itu besar dan tinggi hingga membuatku terhuyung ke belakang dan sukses jatuh terduduk. Dan aku bisa merasakan wangi…

Tunggu! Wangi ini!

Aku mendongak begitu cepat hingga leherku tertarik sakit. “Aw..”

 .

“Ah, maaf! Saya sedang terburu-buru sampai tidak sempat melihat jalan…” Pria di hadapanku ini sedang minta maaf dan mengulurkan tangan untuk membantuku berdiri meski wajahnya separuh tertutup topi dan sedang menoleh kesana-kemari dengan cepat seakan dia mencari — atau dicari sesuatu.

Ya Tuhan!

Tidak salah lagi. Aku tidak mungkin salah mengenali dia.

“KAMU!” tanpa sadar aku menjerit dan entah kenapa buru-buru membekap mulutku sendiri

 .

Ya Tuhan, ini tidak mungkin!

Pria bertopi itu akhirnya menoleh ke bawah, ke arahku, mungkin setengah bingung, kenapa aku tidak menyambut uluran tangannya dan malah menjerit.

Dia menelengkan wajahnya ketika menatapku, seperti mengingat-ingat.

“Kamu… kerudung merah?”

 .

Mendapatinya mengenaliku, mendadak aku benar-benar bersyukur pada kecanduanku dengan kerudung berwarna merah sejak kejadian-Danau-Toba itu.

Andin bilang aku sudah benar-benar gila  dengan mengoleksi dan membeli segala jenis dan motif jilbab yang bewarna merah, hanya agar cowok-halusinasiku mengenaliku bila entah bagaimana kami bertemu lagi. Belum lagi, sejak itu aku benar-benar selalu memakai koleksi berbagai jilbab merahku itu.

 .

Lamunanku buyar ketika tiba-tiba dia menarik lenganku untuk berdiri dan menggandengku kemudian berlari kencang, membuat aku ikut berlari — atau terseret lebih tepatnya — dan memegang erat tali postman bag-ku yang melambai-lambai.

Dengan tangan hangatnya yang menggenggam erat tanganku saat kami berlari sepanjang jalan Braga, aku masih tercengang.

 .

Apa aku berhalusinasi lagi?

Apa aku melamun terlalu jauh hingga membayangkan Pria-Danau-Toba-ku mendadak muncul di hadapanku lagi setelah berbulan-bulan tanpa secuil jejak. Dan munculnya di Bandung. Malam ini. Di Jalan Braga, Tempat aku sedang berjalan-jalan putus asa.

 .

Can Once In A Lifetime Happen Twice?

 .

Apa aku benar-benar bertemu lagi dengannya, dan dia saat ini sedang menggandeng erat tanganku?

Apa ini artinya aku juga bisa jadi Presiden RI?

Bagus. Sepertinya aku benar-benar makin tidak waras.

 .

Aku masih termangu menatapnya ketika akhirnya dia membawaku menyelinap ke gang sempit dan berhenti mendadak. Dia mengintip ke jalan sebentar, sebelum menatapku.

Oke, bahkan tampangnya yang penuh keringat itu tampak berkilauan. Sekujur tubuhnya basah oleh keringat, membuat jaket abu-abunya yang dibiarkan terbuka dan kaus putih polos yang dipakai di dalam jaket itu tampak menempel di tubuhnya. Membentuk dengan jelas abs yang tersembunyi di balik kaos itu. Kualihkan pandangan dengan cepat dari pemandangan-yang-membuat-dada-berdebar-lebih-cepat-dari-yang-seharusnya itu.

 .

Setelah mengambil napas, dia mulai berkata, “Jadi… kamu.. kok bisa ada di sini?”

Bagaimana dia bisa menanyakan pertanyaan yang sama persis dengan yang akan kuajukan padanya? Apa dia mind-reader? Atau kami memang jodoh?

Yeah, you wish, Kara. Batinku merutuki kegeeranku sendiri.

 .

“Liburan… kamu sendiri, ngapain di sini?” aku takjub mulutku bisa mengeluarkan kata-kata selancar itu sementara jantungku berloncatan seakan mau keluar dari dadaku.

Alih-alih menjawab pertanyaanku, dia melepaskan topinya, mengelap keringat dengan punggung tangannya. Sekuat tenaga aku menahan diri untuk tidak mengulurkan tangan untuk membantunya mengelap keringat.

Rambutnya kini dipotong pendek rapi, tidak segondrong pertama kali bertemu dengannya, namun dengan keadaan rambut basah seperti ini, pria ini malah terlihat lebih ganteng.

 .

“Wow… benar-benar kebetulan ya, kita bisa bertemu lagi…” sambil berkata seperti itu, dia tersenyum-sangat-manis dan tampak sangat takjub.

Apa dia tahu kalau dia sendiri itu menakjubkan?

Great. Bertahanlah, Kara. Jangan pingsan.

 .

“Dengar… kita harus pergi ke arah yang berlawanan, kamu ke kiri, aku ke kanan. Aku tidak bisa lama-lama di sini…” ujarnya membuatku makin lemas. Kali ini karena sedih mendengar kata-katanya.

“Mereka mengejarmu lagi?” potongku, sangat penasaran.

Dan mungkin tanpa sengaja aku terbelalak begitu lebar, karena mendadak dia tersenyum geli begitu melihat ekspresiku saat ini.

 .

Sial. Senyum itu muncul lagi.

Iya. Betul. Itu senyum-yang-mampu-membuat-lutut-wanita-lemas-seketika.

Aku berpegangan pada tembok di sebelahku agar tidak merosot ke jalanan di bawahku.

 .

“Aku baik-baik saja. Tenang saja, Kerudung Merah,” ujarnya manis.

Dan.. lagi. LAGI! Dia melakukan hal yang persis sama seperti malam-di-tepi-danau-Toba itu lagi. Dia menepuk-nepuk pelan (atau mengusap-usap? Aku tak tahu, karena lagi-lagi otakku macet) kepalaku, kemudian beranjak pergi.

 .

“Tunggu!”

 .

Dia berhenti dan menoleh mendengar panggilanku. Kemudian menatapku sejenak, menelengkan wajah, dan menepuk dahinya sendiri.

“Ah iya, aku lupa! Aku sudah berjanji padamu untuk memberitahu namaku jika kita bertemu lagi ya?”

 .

Aku spechless. Mendadak rasanya aku ingin sekali melakukan shuffle dance keliling Braga. Dia bahkan ingat janji itu! See? Aku tidak gila, kan? Saat itu aku tidak berhalusinasi, kan? Ini buktinya! Dia masih ingat janji itu! HORE!

“Namaku..”

 .

“JANGAN!” di luar kendaliku, aku berteriak menghentikannya menyebut namanya.

Entah kenapa — mungkin karena aku jadi semakin tidak waras atau karena mendadak aku teringat adegan salah satu film favoritku Serendipity — mendadak aku tidak ingin tahu namanya.

 .

Tidak. Tidak sekarang.

Tidak di saat dia akan kembali menghilang dalam sekejap dan aku mungkin tidak akan pernah menemukannya lagi.

 .

Melihatnya kaget menatapku, aku tersenyum — semanis yang aku bisa.

“Buat apa aku tahu namamu, kalau aku ternyata tidak bisa bertemu denganmu lagi? Buat apa aku tahu namamu, kalau kita akan berpisah seperti ini?”
Hanya Tuhan yang tahu darimana kekuatan yang membuat kata-kata semacam ini bisa meluncur mulus, tegas, dan penuh keyakinan dari mulutku.

Dia tampak terpaku. Sebelah alisnya naik. Menatapku penuh minat.

 .

Serasa mendapat kekuatan lebih, kuhirup napas dalam-dalam dan berkata,

“Beritahu aku namamu, ketika entah bagaimana kita dapat bertemu lagi. Beritahu aku namamu dan semua rahasiamu, ketika kamu sudah tidak akan pergi kemana-mana lagi. Ketika kamu tidak akan menghilang lagi dari hadapanku…

…Saat itu terjadi, beritahu aku semuanya.”

 .

.

.

cr. elfish.

***

 .

.

*fiksi ini ditulis dalam rangka #15HariNgeblogFF2 dan lanjutan dari Kerudung Merah.

.

Advertisements

11 thoughts on “Sepanjang Jalan Braga

  1. Pingback: Sepanjang Jalan Braga « aineino
    • Ahahahhaha.. Makasiii 😀
      Nantikan kisah lelaki-misterius-yang-sangat-tampan ini selanjutnya yaaa… hihihi 🙂

    • Makasiiiiii wulan 🙂
      Oke, hari ke-6 besok aku coba bikin part ke-3 nya yaa…
      padahal kisah ini kemaren benar-benar spontan dibikin begitu saja di dini hari buta, eh kenapa jadi berlanjut jadi 2 part gini yak… hihihi 😀

  2. Wow.. This is really really amazing!
    Ceritanya ngalir banget, kenapa gak coba bikin novel? *sentil*
    Serendipity ya? Kisah cinta yg menghangatkan jiwa-jiwa yg dingin. #halah
    😀

    • Aw, terima kasiiiih atas pujiannya 😀
      Novel ya? Iya, ini lagi nyoba, tapi belum pernah bisa selesai… hihihihi :p
      Doain bisa jadi novel utuh ya 🙂

      • Amin, allahumma amin. Sakses ya mba broh..
        Mampir-mampir ke blog akunya boleh lho. :3
        Tapi masih jauh dari kece dibandingin blog kakak.. 😀

  3. Pingback: Tak Perlu Tahu « I. Love. Life

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s