Sehangat Serabi Solo

 -o-

.

“Ini namanya kue apa sih, Al?”

Kupandangi kue hangat di tanganku dengan seksama. Yuk Inah membelikan aku dan Ale — sahabatku — kue ini dalam perjalanan ke Pasar Klewer tadi.

Yuk Inah adalah bibik yang bertugas menjaga Ale karena papa dan mama Ale jarang sekali ada di rumah. Mereka selalu pergi ke luar negeri. Dan kali ini, Ale terpaksa ikut pergi bersama Yuk Inah yang pulang ke Solo untuk menjenguk anak Yuk Inah yang sakit.

Alhasil, Ale berhasil menculikku ikut serta untuk menemaninya ‘liburan’ di Solo ini. Aku sih senang-senang saja diajak liburan mendadak. Toh sekolah kami memang sudah libur.

Paman Chandra — sepupu dari ayah, yang merawatku sejak orangtuaku dua-duanya meninggal — juga sudah mengizinkan aku berlibur ke Solo. Paman tidak pernah mengizinkanku pergi keluar kota dengan teman-temanku yang lain, tapi kalau bersama Ale, Paman selalu mengizinkan kemanapun Ale ‘menculikku’. Curang kan?

.

Jadilah sore ini aku dan Ale sedang duduk-duduk santai di atas becak di pinggir Pasar Klewer, menunggu Yuk Inah membeli entah apa di dalam pasar.

“Serabi Solo. Emm.. Serabi Notosuman!” Ale membaca kotak kue di tangannya. “Enak ya, Bi?”

“He’em!” Kuanggukkan kepala kuat-kuat. Kue bertabur misis yang manis dan hangat ini benar-benar enak! Ah, aku jatuh cinta pada kue ini.

“Kalo udah gede nanti, aku mau cari suami yang senyumannya sehangat serabi Solo ini ah!”

Entah kenapa tiba-tiba saja keinginan itu terlontar dari mulutku.

.

Ale menoleh dengan kaget. Terdiam dan melongo sesaat. Kemudian tiba-tiba tertawa terbahak sampai terbungkuk-bungkuk dan keluar airmata.

Spontan aku merasa pipiku memerah karena malu. Memangnya tadi ucapanku aneh ya? Kenapa dia sampai ketawa geli begitu?

“Al! Al! Udahan ah ketawanya! Kok malah diketawain sih? Jahat ih kamu!” Kukerucutkan bibirku kesal sambil memukul-mukul lengannya, sementara tawa Ale malah makin menjadi melihat wajahku.

.

“Habisnya kamu lucu sih, Bi! Kita kan masih SD, kamu udah kepikiran mau nyari suami yang kayak gimana. Udah gitu, syaratnya punya senyum yang sehangat serabi Solo pula… syarat apaan tuh… muahahahaha…” Ale kembali tertawa terpingkal-pingkal yang sukses membuatku merasa malu setengah mati.

Huh, tahu gitu aku tadi tidak usah mengucapkannya di depan Ale. Aku jadi menyesal melihatnya puas menertawaiku seperti itu.

Lihat saja. Pokoknya kalau sudah besar nanti, aku mau nyari suami yang senyumannya sehangat Serabi Solo ini.

Titik!

 .

.

***

.

“Ini serabinya, Tuan Putri!”

Ale muncul di hadapanku, dengan sekotak serabi di tangan dan senyuman lebar, membuyarkan lamunanku akan kejadian 19 tahun yang lalu, ketika kami masih SD dan ikut liburan kilat bersama Yuk Inah.

Kini, aku dan Ale kembali ke Pasar Klewer Solo. Namun, kali ini kami ke Solo dalam rangka tugas dinas dari kantorku.

.

Awalnya, hanya aku yang ke Solo. Kemudian, aku memaksa Ale ikut.

Lebih tepatnya, aku hanya tinggal menekan tombol call, bilang aku sangat kesepian di Solo ini dan ingin ditemani makan Serabi olehnya — err, sebenarnya alasan ini terdengar konyol kan? — namun, seperti biasanya, Ale langsung datang.

Dia benar-benar datang ke Solo untuk menemaniku. Begitu saja.

Padahal aku tahu dia sedang bekerja, sedang supervisi beberapa outlet miliknya di Singapura. Tapi ajaibnya dalam hitungan jam, dia sudah ada di sini, di hadapanku.

Di kota Solo, bukannya di Orchard Road.

Dan entah kenapa, kenangan 19 tahun yang lalu berputar begitu saja di kepalaku begitu kami menginjakkan kaki di Pasar Klewer ini lagi.

.

Aku mengerjap beberapa kali ketika menatap senyuman yang muncul di hadapanku ini.

Senyum itu… senyuman sehangat Serabi Solo?

.

“Kenapa?” tanyanya bingung melihatku menatapinya tanpa bicara sepatah katapun.

“Hah? Nggak.. Nggak papa..” ujarku tergagap.

Entah mengapa, dari tadi aku tidak bisa mengalihkan pandanganku dari wajahnya dan kurasa… jantungku mulai berdebar tak karuan.

.

Apa ini?

Perasaan apa ini?

.

Aneh. Selama aku bersahabat dengannya sepanjang umurku, baru kali ini aku merasa panas-dingin begini.

.

Ale mengernyit sekilas melihat tingkah anehku, namun tidak ambil pusing dan mulai melahap serabinya.

Hmm.. Bahkan dari samping, ketika mulutnya sedang penuh dengan serabi, sahabatku ini tampan luar biasa.

.

“Eh, btw, kamu nggak dicariin pacar-pacarmu nih?”

Ale menoleh mendengar pertanyaanku. Kemudian, Ale mulai tertawa. Tawa yang membuatku terpana.

.

Hmmm.. Sejak kapan tawanya jadi setampan ini?

.

“Ngeledek nih?” tanyanya ketika sudah berhenti tertawa, sambil menjitak dahiku. “Aku kan udah jomblo lama, sejak…” — dia menghitung dengan jarinya, kemudian berhenti dan menggeleng frustasi — “…ah, entah sejak berapa lama.”

Aku mencibir, “Huh. Pacar nggak ada. Tapi gebetan banyak. HTS-an banyak. Kayak aku nggak tau penjahat macam kamu aja…”

“Lho? Kok gitu? Kok penjahat? Aku kan udah tobat, Bi… Masak kamu nggak percaya sih sama aku? Aku kan udah bilang ke kamu kalau aku sekarang mau fokus serius kerja dan cari istri… Masak kamu lupa sih…” Ale memasang tampang terluka yang begitu memelas dan lucu hingga membuatku tertawa geli.

.

Setelah dipikir-pikir, sebenarnya memang sudah lama sekali aku tidak melihat Ale berkencan dengan cewek-cewek yang saking banyaknya sampai tak bisa kuingat namanya satu per satu itu. Apa dia benar-benar sudah bertobat?

.

Aku masih tertawa geli ketika tiba-tiba kulihat mimik Ale berubah lagi jadi tersenyum lega. “Nah, gitu dong. Akhirnya ketawa…”

“Hah? Apa..?” kupandang dia dengan bingung.

Ale mengedikkan bahu sekilas. “Yaaa.. dari tadi kan kamu diem aja. Bikin aku khawatir. Aku lega kamu udah bisa ketawa. Aku suka liat kamu ketawa lepas begitu. Bikin mukamu makin bersinar…”

Ale mengucapkan itu dengan enteng. Dengan senyuman hangat yang tak lepas dari wajahnya. Wajah yang sudah kukenal sepanjang umurku. Wajah yang selalu menemaniku kapanpun aku mau.

.

Kembali berputar di kepalaku, kejadian beberapa minggu yang lalu. Tepatnya, tanggal 4 Juni tahun ini. Tanggal 4 Juni yang seharusnya sama seperti 4 Juni sebelum-sebelumnya. Sama seperti 4 Juni setahun, dua tahun, tiga tahun, hingga empat tahun yang lalu. Tanggal 4 Juni tahun ini seharusnya sama. Namun jadi berbeda karena tahun ini Ale tiba-tiba meledakkan semuanya. Melakukan sesuatu yang membuatku akhirnya sadar dari kegilaanku selama ini.

.

Aku memang berpura-pura tidak terjadi apa-apa sejak itu. Tapi hati kecilku tidak bisa dibohongi.

Mataku telah terbuka. Hatiku telah terbuka.

.

Iya. Ini dia.

Akhirnya aku menemukannya. Senyuman yang aku cari.

.

Senyuman sehangat serabi Solo.

.

Dulu, aku kira aku sudah menemukannya di wajah Bayu, almarhum calon mempelaiku yang meninggal lima tahun yang lalu.

Tapi aku baru sadar, ternyata aku sudah menemukannya jauh sebelum itu. Jauh sebelum aku bertemu dan jatuh cinta dengan Bayu. Ternyata selama ini, senyuman yang aku cari itu sudah selalu ada di sisiku. Aku saja yang terlalu bodoh tidak menyadarinya.

.

“Al!”

Dia menoleh, terperanjat ketika tiba-tiba kupeluk erat-erat.

.

“Aku menemukannya, Al! Aku menemukan senyuman sehangat Serabi Solo!”

“Hah?” Meski kebingungan, Ale balas memelukku erat-erat.

.

Hangat. Tubuh Ale hangat.

.

See?

Bukan hanya senyumnya,

pelukan Ale pun sehangat Serabi Solo.

.

.

***

.

.

*fiksi ini ditulis dalam rangka #15HariNgeblogFF dengan judul Sehangat Serabi Solo dengan setting Pasar Klewer.

*Penggalan-penggalan lain dari kisah Biyan-Bayu-Ale dapat dinikmati di sini: klik di sini.

.

Advertisements

3 thoughts on “Sehangat Serabi Solo

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s