Hanya Aku yang Bisa

 .

-o-

Di mana pun kamu berada, di situlah hatiku ada.

Rumahku itu, kamu.

~@hildabika

 .


“Pergilah, Ale. Biarkan aku sendirian.”

Perempuan cantik itu mendorong laki-laki di belakangnya dengan kasar. Airmata berurai di parasnya yang mulus.

Lelaki itu tidak menjawab. Namun bahasa tubuhnya sudah menyuarakan jawaban, jauh melebihi kata-kata lisan yang dapat diucapkan.

Lelaki itu sedari tadi bertahan memeluk erat si perempuan. Dan sekuat apapun perempuan itu berusaha memberontak, postur laki-laki itu terlalu tinggi dan tegap untuk digoyahkan.

 .

Lelaki itu bahkan masih memakai setelan kerja yang sudah agak kusut. Pertanda dia tak sempat lagi berganti baju apalagi mengurus penampilannya, dalam usahanya menemukan si gadis.

Meski begitu, wajah tampannya tidak tampak lelah. Sebaliknya, wajahnya justru menyiratkan keteguhan sementara sorot matanya memancarkan kehangatan cinta yang luar biasa pada sosok yang dipeluknya dari belakang itu.

 .

Go away, Al. For your own sake, please leave me alone.

Perempuan itu benar-benar tidak tahu lagi apa yang harus dia lakukan untuk menyakiti laki-laki ini. Ah, lebih tepatnya, untuk menyakiti dirinya sendiri dengan menjauh dari sahabat terbaiknya itu.

 .

No. You know i can’t leave you, Bi. And you know i won’t,” bisik lelaki itu.

“Tapi kenapa, Al?” ujarnya putus asa.

 .

Perempuan itu berbalik ketika pelukan laki-laki itu merenggang.

Mereka kini berhadap-hadapan.

Mata hitam mereka saling bersitatap.

 .

“Aku tidak akan pernah meninggalkanmu sendirian, Bi. Tidak akan.”

Seulas senyum sinis mendadak muncul di wajah perempuan itu.

 .

“Aku sudah tidak percaya lagi dengan kata ‘selamanya’. Selamanya itu bullshi*t, Al. Kamu tahu itu.”

“Aku tahu. Aku juga tidak pernah percaya pada kata itu, Bi.”

 .

Angin dingin berhembus mengacak rambut panjang si gadis. Membuat si lelaki ingin mengulurkan tangan dan merapikannya. Namun dia memutuskan untuk bergeming.

“Aku tidak pernah berjanji bahwa kita akan terus bersama selamanya, Bi. Aku juga tidak berjanji aku akan bersamamu sepanjang waktu.”

Perempuan itu masih menatapnya tajam.

 .

“Aku hanya berjanji pada diriku sendiri bahwa selama aku masih bernapas, aku tidak akan pernah membiarkanmu merasa sendirian dan kesepian.”

 .

Aku tidak akan pernah membiarkanmu kesepian.

Perempuan itu mengerjap. Sekali. Dua kali.

Entah mengapa, kalimat itu terasa tidak asing baginya.

 .

Ada jeda, sebelum akhirnya perempuan itu kembali angkat bicara.

“Tapi kamu tahu kan, Al, aku ini parah. Bisa dibilang sakit jiwa.”

Perempuan itu tertawa. Menertawai dirinya sendiri yang begitu menyedihkan.

 .

“Menunggu pria yang bahkan sudah tenang di alam sana. Menunggu mempelai yang sudah pergi jauh, bertahun-tahun yang lalu, seolah dia bisa muncul sewaktu-waktu. Seolah kami tidak terpisah dua dunia berbeda. Bodoh kan, Al?”

Perempuan itu menarik napas dan menggeleng.

“Bukan. Bukan hanya bodoh. Gila. Gila, Al. Aku tahu aku sudah gila. I’m totally a mess. Damsel in distress.”

 .

Perempuan itu meracau sementara wajah lelaki itu masih seteguh tadi. Andai tidak ada kehangatan yang memancar kuat dari kedua bola matanya, wajah lelaki itu akan nyaris tanpa ekspresi. Tak terbaca.

I know, Bi. I know who you are, more than you know yourself. Remember?”

 .

Perempuan itu menghela napas panjang. Tidak habis pikir. “Kalau begitu, kenapa kamu bahkan masih mau mencariku, dengan sabar menungguiku, dan sanggup bertahan di sisiku selama ini? Kenapa?”

 .

Selama beberapa detik, laki-laki itu terdiam. Seolah menimbang, mana yang akan dia utarakan dari ribuan pernyataan yang berputar di kepalanya.

“Karena… aku tahu kamu pasti akan melakukan hal yang sama untukku.”

 .

Perempuan itu tertegun. Kata-kata itu entah mengapa menyentil lubuk hatinya yang paling dalam. Membuatnya menyadari sesuatu yang selama ini dia lupakan. Sesuatu yang sebenarnya memang sudah ada sejak dulu.

 .

Selama beberapa saat, keheningan kembali melanda mereka berdua.

Sebelum akhirnya si perempuan berbisik lemah. “Kamu pasti sudah gila, Al.”

“Iya, aku sudah gila. Bukankah kamu tadi bilang bahwa kamu sendiri juga gila? Mungkin, kita memang sepasang manusia gila yang ditakdirkan bersama, Biyan.”

Perempuan itu terpaku. Mendadak jantungnya berdebar jauh lebih kencang lebih dari yang seharusnya.

 .

Berusaha keras mengabaikan debur di dadanya, perempuan itu memutuskan mengalihkan pembicaraan dengan mengajukan pertanyaan yang selama ini selalu ingin ditanyakannya.

“Lalu, bagaimana kamu bisa tahu aku berada di sini? Bagaimana caramu menemukanku, Al? Tak peduli sejauh apapun aku berlari dan bersembunyi, mengapa kau selalu bisa menemukanku?”

 .

Laki-laki itu mendadak mengerling jenaka mendengar pertanyaan ini. Seulas senyum mengembang di wajahnya.

“Aku kan jago, Bi. Bukankah memang hanya aku yang bisa menemukanmu?”

 .

Bukankah hanya aku yang bisa?

Kata-kata itu seakan bergema di udara. Perempuan itu lagi-lagi terpana. Kehabisan kata.

 .

Namun, beberapa detik kemudian, perempuan itu menggeleng keras. Seolah dengan menggeleng, dia akan bisa mengenyahkan semua rasa yang membuncah di dada.

“Ah, tapi pasti karena kebetulan. Kamu memang sering ke sini kan, Al?”

“Nggak. Aku tidak pernah tahu tempat ini sebelumnya dan aku tidak pernah ke sini, Bi.”

“Tapi… kenapa?”

 .

Laki-laki itu menatapnya tajam. Dalam-dalam.

“Aku juga tidak tahu, Biyan. Aku juga tidak mengerti bagaimana caranya. Aku hanya mengikuti instingku. Entah bagaimana, aku bisa menemukanmu begitu saja… — perlahan diusapnya berkas butiran bening pada wajah cantik di hadapannya itu dengan ibu jarinya —

…persis seperti kamu yang selalu menemukanku sewaktu kita kecil dulu.”

 .

***

 .

Laki-laki kecil itu mengigil ketakutan. Dia tersesat.

Bodoh. Jelas-jelas dia hanya ingin melarikan diri dari rumah. Melarikan diri dari kenyataan bahwa orang tuanya baru saja meninggalkannya lagi. Untuk ke sekian kali. Berangkat ke entah negara mana dalam waktu entah berapa lama.

 .

Dia sudah benar-benar muak ditinggal sendirian bersama jejeran pengasuh di rumah sebesar istana itu.

Tapi, kenapa kali ini dia lengah dan begitu bodoh hingga tidak memperhatikan kemana dia berlari?

 .

Dadanya berdegup kencang. Ingin rasanya dia menangis keras-keras. Tapi kata ayahnya, seorang pria tidak boleh cengeng. Menangis itu cengeng. Dan dia tidak mau dibilang cengeng.

Sial.

Dia ketakutan setengah mati. Hari sebentar lagi akan gelap. Dia sudah berputar-putar selama satu jam, dan belum juga menemukan jalan yang dikenalinya. Dia memilih untuk meringkuk dan bersembunyi di balik semak. Setengah mati ditahannya airmatanya agar tidak jatuh.

 .

Hampir saja pertahanannya pecah, ketika dia mendengar sebuah suara cempreng yang sangat dikenalnya, berteriak memanggil namanya.

“ALE!!”

 .

Wajah dekil penuh debu gadis kecil berambut panjang itu mendadak muncul entah darimana. Tiba-tiba saja tangan mungil gadis itu sudah terulur dan menariknya berdiri sebelum dia bahkan sadar apa yang terjadi.

“Kamu darimana aja sih, Al?! Yuk Inah bingung banget nyariin kamu, tau!”

Ale tak bisa bicara. Dia mendadak kehilangan suara. Kehangatan dan kelegaan luar biasa menjalari seluruh tubuhnya saat melihat gadis itu menemukannya.

 .

“Aku sampe takut setengah mati tadi. Aku nggak bisa nemuin kamu di tempat-tempat biasa kamu sembunyi.” Gadis itu bergidik ngeri. “Kamu ngapain sih ngilang-ngilang terus, Al? Nggak lucu tau sembunyi kayak gitu terus. Nggak lucu!”

Gadis kecil itu terus mengoceh dan mengomel, sementara tangan mungilnya menggenggam erat tangan laki-laki kecil itu saat menunjukkan laki-laki itu jalan pulang. Menggenggam erat seakan tidak akan pernah melepaskannya. Seakan takut lelaki kecil itu bakal menghilang dari sisinya lagi.

 .

“Biyan…”

“Apa?”

“Kamu ngapain susah-susah nyari aku sih, Bi?”

“Hah?” Gadis itu menelengkan wajahnya memandang langit. Berpikir sejenak.

 .

“Emm… Soalnya aku nggak mau kamu kesepian, Al. Aku nggak mau kamu sendirian.”

“Kata siapa aku nggak suka kesepian?” potong lelaki kecil itu defensif.

 .

“Kata aku. Aku aja nggak suka kesepian. Kesepian itu nggak enak. Kamu pasti juga nggak suka. Jadi, aku mau nemenin kamu terus biar kamu nggak kesepian.”

Laki-laki kecil itu tidak menjawab. Kata-kata gadis itu terlalu tepat pada sasaran dan membuatnya terharu.

 .

Gadis polos itu terus bercerita dan mengungkapkan perasaannya. “Lagian, aku kan cuma punya kamu, Al. Kalau nggak ada kamu, nanti aku sama siapa?”

Bocah itu masih terdiam. Dipandanginya tangannya sendiri yang digenggam posesif dan sangat erat oleh gadis itu.

Dalam hati, lelaki kecil ini mendadak berjanji sekuat tenaga untuk melindungi gadis yatim-piatu ini semampu yang dia bisa.

 .

Kemudian tiba-tiba tercetus pertanyaan yang selama ini bercokol di kepalanya. “Eh, ngomong-ngomong, darimana kamu tau aku ada di mana, Bi? Kok kamu bisa nemuin aku, sih?”

Gadis itu menoleh menatapnya, mengangkat bahu, dan nyengir lebar.

 .

“Aku kan jago, Al. Cuma aku yang selalu bisa nemuin kamu dan semua tempat persembunyianmu. Cuma aku yang bisa!”

Gadis mungil itu tersenyum bangga sementara laki-laki kecil itu memandangnya terpana.

 .

“Tapi, tadi itu aku nggak sembunyi. Aku… kesasar.”

Gadis kecil itu mengerjap dan melongo sesaat, lalu tertawa terbahak-bahak.

Mendapati gadis itu menertawainya, laki-laki kecil itu langsung menyelanya. “Alaaaah. Paling kamu sering main ke tempat tadi. Kamu udah hapal daerah tadi itu? Ya kan, Bi?”

.

“Enggak kok.”

“Hah?”

“Aku juga belum pernah ke tempat tadi. Aku juga nggak tau, Al. Cuma tiba-tiba aja pengin nyari kamu ke sana. Yakin aja kamu di sana. Ternyata kamu beneran ada di sana.”

 .

Laki-laki kecil itu kembali terpana. Kehabisan kata.

Berusaha mencerna dan memahami semua keanehan itu.

 .

Sebenarnya dia sudah tidak habis pikir mengapa gadis yang terlihat rapuh namun sangat pemberani itu selalu bisa menemukan tempat persembunyiannya tiap kali laki-laki kecil itu marah atau melarikan diri dari orangtuanya maupun pengasuhnya.

Tapi kejadian sore ini benar-benar membuatnya kaget dan takjub. Bagaimana mungkin gadis aneh yang selalu menempelnya kemanapun dia pergi dan bermain ini bisa menemukannya di tempat nun jauh, yang dia sendiri bahkan tidak tahu itu dimana?

Ah, entahlah. Mungkin suatu hari nanti, dia akan menemukan jawabannya.

 .

Laki-laki kecil dan gadis kecil itu kini mulai bersenandung ringan. Kemudian tertawa. Berdua.

Masih bergandengan tangan erat, langkah-langkah kecil mereka menapak mantap menuju senja.

Menuju rumah.

Menuju cinta.

Cinta luar biasa, yang tanpa mereka sadari, akan terus tumbuh dan mengikat kuat keduanya.

 .

.

.weheartit.

***

 .

.

*penggalan kisah Biyan, Ale, dan Bayu lainnya bisa dibaca >> di sini.

.

Advertisements

4 thoughts on “Hanya Aku yang Bisa

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s