Doa Diam-Diam

 .

Kupandangi wajah penghulu di depanku. Kupandangi wajah ibu yang terharu.

Tanganku mulai berkeringat. Inilah saatnya. Momen sakral sekali seumur hidup.

.

Dalam diam, aku berdoa.

Aku akan dicintai selamanya.

Dalam diam, aku berdoa.

Cintaku tak akan luntur selamanya.

 .

Ah, tentu saja. Aku tahu. Kau tahu.

Bahkan jika tak ada satu patah kata pun yang meluncur dari bibirku. Kau sudah tahu.

Kau selalu tahu seluruh isi hatiku.

 .

Dalam diam, aku berdoa dalam-dalam.

Ini hanya antara kita berdua. Kau dan aku.

Dunia tak perlu tahu. Dirinya tak perlu tahu.

 .

Dalam diam, aku berdoa dalam-dalam.

Dan ketika kulirik wajahnya yang sedang mengucap ijab kabul di sebelahku, aku tahu bahwa doa diam-diam ini sudah dikabulkan.

Kau menganugerahkanku dirinya sebagai pendamping hidupku. Pendamping hidup yang bisa menuntunku untuk selalu mengingat-Mu dan mencintai-Mu.

Maka, nikmat-Mu yang manakah yang akan kudustakan?

 .

.

Dalam diam, aku berdoa pada-Mu dalam-dalam.

Dan dalam diam, aku tahu, Kau mencintaiku dalam-dalam.

.

.

***

 .

.

#15HariNgeblogFFDadakan

Advertisements

4 thoughts on “Doa Diam-Diam

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s