Tak Perlu Tahu

 .

-o-

“So, I love you because the entire universe conspired to help me find you.”

~ Paulo Coelho

-o-

.

Cinta bisa ditemukan di mana saja.

Bisa di tepi Danau Toba. Di malam hari yang penuh misteri. Dibumbui dengan adegan pertemuan tak sengaja dengan pria-super-tampan-yang-bahkan-namanya-pun-kau-tak-tahu. Disempurnakan dengan adegan memalukan-tak-masuk-akal yang melibatkan kawanan pasukan lelaki berpakaian ala agen rahasia film-film Hollywood.

 .

Bisa juga di jalanan Braga. Saat kau yakin kau sudah benar-benar gila atau terlalu banyak berhalusinasi. Dan tiba-tiba sosok misterius yang menjadi alasan ketidakwarasanmu itu muncul lagi di hadapanmu secara mendadak. Kemudian dia menggandengmu berlari sepanjang jalan Braga. Namun kembali menghilang begitu saja.

 .

Bahkan bisa juga di pertemuan ketiga yang tak terduga.

Di tempat asing yang bahkan namanya sangat susah untuk kau lafalkan.

Di saat akhirnya kau merasa bahwa alam semesta benar-benar berkonspirasi untuk mempertemukan kalian.

 .

Itulah yang terjadi denganku.

Saat aku bertemu dengannya di pertemuan ketiga yang tak terduga ini, aku langsung tahu.

Bahwa alam semesta menyimpan sesuatu.

Untuknya dan untukku.

 .

Tak ada rangkaian aksara di udara memang.

Sejak tadi kami hanya saling terdiam dan memandang.

Aku bisa merasakan bahwa dia sama terkejutnya denganku.

 .

Ada jeda entah berapa lama, sebelum akhirnya dia bereaksi. Dia tampak menimbang-nimbang sesuatu.

Membuatku berpikir, apa kali ini dia akan lenyap lagi dari pandanganku seperti dua kesempatan sebelumnya?

 .

Namun kali ini, dia hanya memandangiku lekat-lekat.

Aku bisa melihat pantulan bayanganku di bola matanya ketika dia akhirnya angkat bicara.

“Aku ingin mengajakmu pergi bersamaku.”

.

.

Hah? Apa dia bilang?

 .

Dia maju selangkah lebih dekat ke hadapanku.

“Mari kita pergi bersama-sama. Mau?”

 .

Kalau tadinya aku berpikir bahwa aku yang tidak waras, sepertinya aku keliru.

Pria yang berdiri di hadapanku ini lebih dari sekedar tidak waras.

Mengajakku pergi bersamanya? Begitu saja? Apa dia sudah gila?

 .

Ketika kurasakan jemarinya menyentuh jemariku dan menggenggamnya erat-erat,

kudengar diriku sendiri bergumam padanya,

“Kau tahu? Aku bahkan tak tahu namamu.”

 .

Mendengar kata-kataku barusan, seulas senyum mengembang di wajahnya.Perlahan, dia mencondongkan wajah hingga berjarak hanya beberapa senti dari wajahku. Dan napasnya menggelitik telingaku ketika dia berbisik,

 .

.

.

“Kau tahu? Aku bahkan tak perlu tahu namamu…

untuk bisa jatuh hati kepadamu.”

 .

.

***

 .

.

.

*fiksi ini lanjutan dari Kerudung Merah  dan Sepanjang Jalan Braga.

.

Advertisements

3 thoughts on “Tak Perlu Tahu

  1. kalau alam semesta berkonspirasi, tentu ga ada yang bisa menggagalkan karena dalang konspirasinya adalah Tuhan semesta alam..^ ^

    -sekedar mampir, jalan-jalan liat blog orang.. hehe..-

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s