Rusa Berkaki Tiga

.

-o-

“Temui rusa berkaki tiga. Di balik pohon kenanga.”

 -o-

 .

“Kamu nyari apa sih, K? Dari tadi muter-muter nggak jelas.”

Anya yang menemaniku berkeliling kebun binatang siang ini, mulai mengomel. Dia sudah mogok jalan. Memilih untuk duduk di bangku dan memijit-mijit kakinya sendiri.

Matahari memang sedang ganas-ganasnya siang ini. Dan aku sangat berterima kasih pada teman baikku itu, karena dia sudah berbaik hati mau menemaniku menjalani misi yang kurahasiakan darinya ini. Misi super aneh yang sebenarnya aku sendiri tidak yakin akan keberhasilannya. Tapi nekat kulakukan karena aku benar-benar penasaran.

 .

Sudah tiga malam ini aku mendapatkan mimpi yang sama.

Suara-suara. Menggema berulang-ulang. Menyuruhku menemui rusa berkaki tiga di balik pohon kenanga.

Agak mengerikan memang. Bukankah kenanga identik dengan kematian dan kuburan?

Tapi aku benar-benar penasaran. Dan karena aku tidak mungkin mencari rusa ke kuburan, jadilah aku menjelajahi kebun binatang ini.

Kebun binatang. Satu-satunya tempat yang terlintas dalam pikiranku untuk mencari si rusa.

 .

“Rusa berkaki tiga,” gumamku menjawab pertanyaan Anya. Siap menerima ledakan kemarahannya atas jawabanku yang terdengar tidak masuk akal.

Tanganku tanpa sadar memutar-mutar toples mini yang berisi miniatur rusa kecil. Sejak kecil aku memang gemar membaca buku-buku fantasi dari negeri dongeng. Aku bahkan punya banyak miniatur yang berbau fairy tale sebagai hiasan kamar.

Entah kenapa tadi terlintas di pikiranku untuk membawa toples kaca mini ini. Seolah toples kaca berisi rusa mini ini akan membawaku pada rusa berkaki tiga.

 .

Ada hening sejenak, sebelum Anya mengerutkan alis kebingungan. Mungkin merasa salah dengar.

Kemudian akhirnya dia paham dan membelalakkan mata.

“Rusa berkaki tiga?!” tanyanya dengan nada tinggi.

Aku mengangguk. Mengabaikan tatapan marah Anya. Kemudian kembali memicingkan mata sejauh yang aku bisa di tengah sengatan matahari, untuk mencari-cari pohon kenanga.

 .

Ah, mungkin ini misi yang sia-sia. Mana ada pohon kenanga di kebun binatang ini? Dan sejauh yang aku lihat di kawasan rusa, tidak ada rusa ajaib berkaki tiga.

Mungkin aku benar-benar harus mencarinya di kuburan? Aku bergidik ngeri memikirkannya. Mungkin aku harus mengabaikan fantasi dan intuisiku kali ini. Mungkin memang tidak ada rusa berkaki tiga.

 .

“Astaga, Kania. Apa kemarin kamu baca buku dongeng sebelum tidur? Kamu seriusan nyari rusa berkaki tiga? Astaga. Buat apa, coba? Sadar dong. Kita ini bukan anak kecil lagi. Kita udah 24 tahun, for God’s sake.”

Anya mulai menggerutu panjang lebar, dan akhirnya aku tak tahan lagi.

“Oke. Fine. Kita pulang.” Kuangkat kedua tanganku pertanda menyerah. Toh sudah tiga jam kami berputar-putar tidak jelas begini. Wajar jika dia mengamuk begitu.

 .

Dan ketika akhirnya aku membalikkan badan untuk terakhir kali, sebelum aku mengucapkan salam perpisahan pada kebun binatang ini, aku menemukannya.

Pohon kenanga.

Berkilau di tengah rimbun pepohonan di kebun binatang ini. Tak jauh dari tempatku berdiri.

Daunnya panjang, halus dan berkilau. Bunganya hijau kekuningan, menggelung seperti bentuk bintang laut.

Persis seperti deskripsi dalam buku yang pagi tadi sengaja kubaca agar tidak salah mengenali pohon kenanga.

Kenapa sedari tadi aku tidak melihatnya?

 .

Mendadak jantungku berpacu kencang.

Pohon kenanga.  Rusa berkaki tiga.

Aku berlari menuju pohon tersebut. Tak kuhiraukan teriakan Anya di belakangku yang memanggil namaku.

Aku benar-benar penasaran.

Napasku terengah-engah ketika sampai di pohon kenanga. Kuputar badan dengan tergesa. Mencari-cari batang hidung sang rusa berkaki tiga.

Nihil.

Sejauh aku memandang, hanya ada pepohonan.

Ya Tuhan. Mungkin Anya benar. Mungkin aku yang terlalu berimajinasi.

Aku mendesah kecewa dan menunduk lesu.

 .

.

.

“Kamu sedang mencari sesuatu?”

Aku terlonjak kaget mendengar sebuah suara muncul begitu saja dari belakangku.

Perlahan, kubalikkan badan. Kemudian terdiam.

 .

Bukan. Bukan rusa berkaki tiga yang kutemui di balik pohon kenanga.

Melainkan lelaki muda berbaju jingga.

 .

Usianya mungkin hanya 2-3 tahun di atasku. Dia memakai pakaian santai. Celana kargo pendek dan kaus jingga. Kamera SLR tergantung di lehernya.

Dengan raut muka sangat penasaran, lelaki itu memandangi toples kaca bening mungil berisi miniatur rusa yang masih kugenggam erat di tanganku.

.

Setelah beberapa saat yang luar biasa hening, dia tersentak dan mengernyit seolah menyadari sesuatu.

Lalu dia mendongak dan menatapku tajam,

“Apa yang kau bawa dalam toples kaca itu…

rusa berkaki tiga?”

 .

.

.

Terkadang, alam menyimpan misteri dan punya caranya sendiri untuk mempertemukan kami.

 .

.

***

 .

.

Fiksi ini ditulis dalam rangka #15HariNgeblogFFDadakan

PS: Somehow, i still believe in magic.  Yes, the magic of  love :’)

.

Advertisements

One thought on “Rusa Berkaki Tiga

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s