Sumpah di Dadaku

                          

 

.

Aku tidak mengerti. Mengapa kau tega melakukan ini padaku?

Di mana sumpahmu dulu? Kau bilang kau selalu mencintaiku.

Katamu, kita akan selalu bersama. Dalam suka dan duka.

Sumpahmu, kau akan selalu menjagaku.

 .

Mana janjimu? Mana sumpahmu dulu?

Apa sumpahmu palsu?

Dengarkan aku. Ayo bicara padaku. Hadapi aku sekarang.

 .

Katanya kau pahlawan. Kata mereka kau pejuang hebat.

Kau membela negara sedemikian rupa. Kau selalu tampak luar biasa gagah.

Lalu, mengapa kau di sini sekarang? Kenapa kau diam saja sekarang?

Mana bukti sumpahmu dulu padaku?

 .

Mengapa kau melanggar janji yang kaubuat sendiri?

Kau membuat sosok yang paling kucintai menangis diam-diam.

Huh. Aku benci padamu. Benci, benci, benci.

Iya. Aku benci padamu. Kau dengar?

Ayo, jawab aku!

 .

Baiklah. Karena kau diam saja, aku bersumpah.

Lihatlah. Aku bersumpah. Akan meneruskan sumpahmu.

Untuk menjaganya segenap jiwa raga.

 .

Mungkin aku memang belum bisa menjaga negara sepertimu.

Tapi… Aku bersumpah untuk menjaganya.

 .

Ayah, ijinkan aku menjaga ibu, ya?

Kau bisa tenang di atas sana. Ada aku yang menjaga ibu.

 .

.

Oh, ngomong-ngomong.

Meski kau telah melanggar sumpahmu padaku,

Aku… Emm… Oh, baiklah Yah,  aku mengaku.

Aku mencintaimu.

Dan selalu bangga menjadi anakmu.

.

***

 .

 .

.

#15HariNgeblogFFDadakan

Advertisements

5 thoughts on “Sumpah di Dadaku

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s