Do it with Passion

passion happiness

.

-o-

Passion is energy. Feel the power that comes from focusing on what excites you.

~Oprah Winfrey

-o-

.

.

.

“Kamu betah ya di sana?”

.

Entah berapa banyak saya mendapat pertanyaan semacam ini. Pertanyaan ini sepertinya selalu muncul di manapun saya bekerja. Seperti yang sudah pernah saya tulis di postingan : Passion.

Postingan itu saya buat tahun 2009. waktu saya masih bekerja di DetEksi Jawa Pos. Hahaha. Mungkin karena saya cenderung masih bertahan sementara hampir seluruh teman kerja sudah silih berganti datang dan pergi.

.

Lalu, kenapa saya cenderung bertahan lama di suatu tempat kerja? (DetEksi Jawa Pos dulu hampir 4 tahun, Nova Kompas-Gramedia dulu juga 2 tahun, Teamwork sekarang jalan 2 tahun)

Seperti yang sudah pernah saya posting tahun 2009 itu, jawabannya cuma satu :

Passion.

.

Apapun yang kita kerjakan, selama kita mengerjakannya dengan passion, semua akan terasa mengasyikkan dan fun. Seberat apapun itu, selelah apapun itu, semenjengkelkan apapun itu.

Passion lah sumbunya. Koreknya. Pemicunya.

Pemicu semangat untuk melakukan semuanya dengan sepenuh hati.

.

Kalau DetEksi sih jelas passion saya : menulis.

Kalau Nova, passion saya : traveling (roadshow keliling penjuru Jawa gitu kan) dan membuat event.

Nah, kalau Teamwork (perusahaan tempat saya bekerja sekarang), passion saya adalah komunikasi yang dinamis.

.

Bekerja di advertising agency itu sangat dinamis dan asyik.

Saya belajar banyak sekali hal baru karena ranah pekerjaan ini sangat luas dan berhubungan dengan kreatifitas.

Sangat fun!

(Cerita mengenai bagaimana asyiknya bekerja di advertising agency mungkin akan saya bahas di postingan tersendiri besok-besok yaa, soalnya kayaknya bakal panjang banget, hahaha.)

Apalagi saya bisa bertemu dengan banyak orang-orang hebat. Klien-klien saya orang-orang hebat semua.

Mulai dari perusahaan Oil and Gas, perusahaan semen, perusahaan otomotif, grup dari perusahaan rokok raksasa, dan banyak lagi.

Dan sebagai Account Executive, saya berhubungan terus dengan klien. Bahkan, ada klien yang sudah seperti kakak cewek sendiri, saking baiknya hubungan kami. Dia makein saya pensil alis, ngasih tips tentang kesehatan, nyaranin dokter gigi, sharing tentang traveling, dll. Apalagi saya kan anak pertama, nggak punya kakak, jadi seneng banget punya klien yang kayak kakak cewek sendiri.

Asyik banget kan?

Kenalan banyak, belajar ilmu baru, dinamis pula.

.

Lalu, mungkin semua bertanya, “Nggak capek?”

Lelah? Wajar.

Bukan manusia namanya kalau tidak lelah. Namanya juga manusia, pasti ada masa-masa capeknya juga. Hihihi.

Istirahat sejenak, refresh, lalu lakukan lagi dengan sepenuh hati.

.

Yang paling gampang:

Pikirkan satu alasan kuat kenapa kita melakukan ini atau bertahan di pekerjaan ini.

.

Kalau saya pribadi sih, alasan paling kuatnya : keluarga.

.

Kemudian pasti ada pertanyaan lagi : Lho, tapi kan kerja buat keluarga bisa kerja dimana aja? Kenapa nggak cari yang lebih baik?

Iya sih. Tapi, jawaban saya : Pikirkan plus minusnya.

.

Satu yang saya pelajari dari seluruh pengalaman saya selama delapan tahun bekerja :

Semua perusahaan dan pekerjaan ada plus-minusnya.

.

Tidak ada yang sempurna.

Mau nyari sesempurna seperti apapun, pasti tetep aja ada minusnya.

.

Jadi kenapa harus fokus ke minusnya? Kenapa nggak fokus ke plusnya aja? Bukankah lebih asyik kalau kita fokus ke sisi plusnya?

.

Selama bisa bertahan, kenapa harus pindah dan memulai lagi dari awal?

Selama masih bisa, kenapa harus menyerah?

.

Kalau mau menyerah, ingat lagi kenapa kita harus melakukan ini.

Coba deh ingat-ingat lagi semua sisi plusnya.

.

Nah, kalau sudah mentok tidak cocok, dan jauh lebih banyak sisi minusnya, barulah kita ambil tindakan.

Tapi ingat, ketika mengambil keputusan, jangan pernah mengambil keputusan pada saat kita emosi.

Pikirkan jauh ke depan.

Apakah sudah ada next job yang jauh lebih oke dari yang sekarang? Cari pekerjaan yang oke dan cocok itu nggak segampang membalikkan telapak tangan lho.

Kalau belum ada yang lebih baik, buat apa mengorbankan yang sudah terjalin selama ini?

.

Kecuali ada prioritas yang jauh lebih penting.

Seperti misalnya, saya resign dari DetEksi karena saya harus menyelesaikan kuliah. Waktu itu darurat, saya harus kembali ke bangku kuliah karena saya sudah terlalu lama mengabaikan kuliah.

.

Dengan begitu, kami (saya dan mantan perusahaan tempat saya bekerja dulu) selalu pisah secara baik-baik.

Hubungan saya dengan perusahaan-perusahaan saya yang sebelumnya selalu sangat baik sampai sekarang.

Kalau ketemu masih saling menyapa. Bahkan ada salah satu mantan bos, perempuan, Cece, waktu ketemu di mall masih menyapa saya dengan heboh (padahal waktu itu saya nggak lihat dia karena lagi buru-buru) trus ngajakin saya cipika-cipiki dan ngobrol.

Begitupun dengan bos-bos yang lain. Masih menyapa saya, nanya kabar di social media, dan sebagainya.

Jadi, silahturahmi tetap terjalin baik meskipun kami sudah sama sekali tidak ngomongin kerjaan lagi.

Alhamdulillah yah :’)

.

Oke, kembali lagi ke passion.

Jadi, ketika sudah merasa lelah dan jenuh dalam melakukan sesuatu, picu lagi passion kita.

Ingat-ingat semua hal yang bikin kita semangat.

Apapun itu.

.

Karena, sesuatu yang dikerjakan dengan ikhlas dan penuh semangat, biasanya hasilnya akan memuaskan.

Dan memuaskan itu tidak melulu dalam bentuk materi lho.

Kebanggaan akan karya dan pencapaian itu juga menyenangkan bagi saya.

.

Bisa bikin klien puas dan order terus, lagi dan lagi, bahkan klien merekomendasikan ke kenalan-kenalannya dan jadi punya project baru dengan klien baru lain itu sebuah pencapaian yang membahagiakan.

Atau kalau misalnya, hasil pekerjaan keren, trus muncul di TV atau di majalah atau tayang di manapun, dengan bangga bisa bilang, “Eh, itu perusahaanku yang bikin lho. Keren kan?”

Nah, kalau nantinya bonus materi bisa mengikuti sih, lebih Alhamdulillah lagi, hihihi.

Kalau belum, ya sabar aja. Pasti nanti ada kok.

.

Saya sih selalu yakin dan positive thinking bahwa tempat manapun saya bekerja, akan berkembang ke arah yang lebih baik.

.

Nah, biar perusahaan berkembang melesat, kita harus melakukan yang terbaik juga, bukan?

Jika kita melakukan yang terbaik dengan passion, perusahaan otomatis juga berkembang, jika perusahaan berkembang, otomatis kita yang di dalamnya ikut terangkat.

Bukan begitu?

.

Jadi, dalam bidang apapun kita bekerja, dan apapun yang kita lakukan, mari kita lakukan semuanya dengan passion 🙂

.

Surabaya, 04 Juni 2015

Yang mencintai yang dikerjakannya,

(hil)

.

#NulisRandom2015

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s