Rawe-Rawe Rantas

a-trip-along-jalan-braga2

-o-

Karena, aku mungkin akan mati besok.

-o-

.

.

.

Ini gila.

Gadis itu menelan ludah, menarik napas dalam-dalam, berulang kali mengusap telapak tangan ke rok yang dipakainya. Telapaknya selalu berkeringat tiap kali ia gugup.

Kebisingan lalu lintas jalan raya di sekitarnya malam itu seakan sirna. Seolah hanya ada dia dan lelaki di hadapannya. Bahkan detak jantungnya yang berdegup seribu kali lebih kencang terasa sampai ke kerongkongan.

Belum pernah gadis itu senekat ini.

Mendadak membeli tiket dan berangkat ke kota yang ratusan kilometer jauhnya, hanya untuk momen ini. Momen yang ia bahkan tidak tahu ending-nya akan seperti apa.

Tanpa menghiraukan “Tapi, kan…” atau “Gimana kalau nanti…” maupun pemikiran-pemikiran sejenis yang biasanya menghantui kepalanya.

Belum pernah dia bertindak segila ini.

Selama ini dia gadis yang pasif. Terbiasa dikejar oleh para lelaki membuatnya tidak pernah repot melakukan sesuatu yang hanya akan meruntuhkan harga diri jika gagal.

Tapi ia sudah bertekad. Kali ini dia akan nekat. Ya, tidak peduli bagaimana respon yang akan dia dapatkan.

Lagipula, belum pernah dia sebegini jatuh hati.

Belum pernah dia seyakin ini pada seorang lelaki.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Dan ketika akhirnya kalimat pengakuan meluncur keluar dari bibir si gadis, lelaki di hadapannya mengerjap. Tidak menyangka si gadis akan sejujur itu. Pengakuannya terdengar tulus dan tidak main-main.

Namun, sebelum ia sempat membuka mulut untuk bertanya, si gadis mendahuluinya;

“Karena mungkin saja aku besok mati. Dan aku tidak mau jadi hantu penasaran yang gentayangan karena perasaanku belum tersampaikan. Kamu juga pasti nggak mau aku hantui, kan? Itu aja sih.”

Si lelaki terpana mendengar alasan gadis itu.

Lalu, sedetik kemudian, tawanya mengudara.

Si gadis, yang tadinya gugup setengah mati, pun jadi ikut tertawa. Entah karena menertawakan kekonyolan jawabannya sendiri atau karena tawa lelaki yang dicintainya itu menular.

Mungkin juga karena keduanya.

.

.

.

Malam itu, tawa mereka menyatu di udara.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Puluhan tahun kemudian, si gadis masih belum mati.

Begitupun si lelaki.

Namun, berkat kenekatan malam itu, mereka menikah, punya anak-cucu, bersama hingga tua.

Memang banyak sekali yang mereka lalui. Tak melulu indah memang. Tapi mereka berjuang bersama.

Karena, di situlah serunya pahit-manis kehidupan. Momen sedih, senang, bertengkar, baikan, menangis, tertawa, dan sebagainya.

.

.

.

Tapi yang jelas, mereka;

Bahagia.

Berdua.

Selamanya.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

-o-

Mungkin terkadang,

yang kita butuhkan hanyalah kepingan kenekatan,

kejujuran tulus dari hati,

tanpa termakan ego dan gengsi.

-o-

.

.

.

.

.

.

.

.

Fiksi ini ditulis dalam rangka #NulisRandom2015

.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s