About Learning

2017-03-05-17-25-44ㅤㅤ
ㅤㅤ

-o-

“Education is what remains after one has forgotten what one has learned in school.”

~ Albert Einstein

-o-


ㅤㅤ

Pembahasan beberapa hari yang lalu tentang pendidikan, membuat saya tergelitik untuk menulis postingan ini. Tapi saya akan menyebutnya bukan sebagai pendidikan, melainkan pembelajaran.

Karena menurut pendapat saya pribadi, pendidikan hanyalah formalitas. Esensi penting yang sebenarnya, ada pada pembelajaran. Apa yang kita serap, pelajari, dan membuat kita menjadi pribadi yang lebih baik lagi.

Sebelum saya membahas tentang itu, saya mau cerita suatu hal. Waktu saya dibacakan dan diajarkan oleh guru ngaji saya sebuah ayat yang maknanya adalah kita harus mengetahui ilmunya terlebih dahulu sebelum melaksanakannya, saya merinding.

Saya jadi terpacu untuk belajar lebih banyak lagi. Saya jadi haus akan ilmu agar saya semakin paham.

Inilah lucunya manusia ya. Ketika pendidikan itu adalah formalitas, biasanya kita akan lebih cenderung ‘melaksanakannya tapi sebenarnya kita tidak menyerapnya’, dan kita cenderung mengabaikannya.

Sebaliknya, kalau itu berasal dari niat dan keinginan pribadi, hasilnya akan lebih meresap, bahkan sampai ke hati.

Sama ketika saya masih kecil dulu. Ketika hal itu saya anggap tidak menarik, saya hanya akan menggugurkan kewajiban. Jadi ranking 1 di sekolah hanya karena saya ingin orangtua saya bangga. Belajar hanya untuk formalitas.

Tapi semakin dewasa, ketika diberi kebebasan untuk belajar, di situlah justru penyerapan ilmu yang paling banyak. Karena berasal dari kemauan dan ketertarikan.

Seperti pembelajaran menulis, saya dengan bersemangat ikut seleksi kelas pembuatan novel yang diadakan oleh salah satu penerbit. Meskipun tempatnya jauh dan lumayan menyita waktu, dengan senang hati saya mengikutinya.

Sama halnya dengan pembelajaran ilmu komunikasi dari seminar dan buku, saya dengan semangat belajar karena itu aplikatif dalam pekerjaan saya.

Pada akhirnya, yang benar-benar tertanam di otak kita itulah pembelajaran yang sesungguhnya.ㅤㅤ
ㅤㅤ

Termasuk pembelajaran dalam hidup. Universitas kehidupan adalah pembelajaran yang akan kita jalani sepanjang hidup kita.

Pembelajaran inilah yang paling penting.

Bagaimana mental kita harus kuat dalam menjalani berbagai cobaan. Bagaimana agar kita tidak terjerumus ke hal-hal yang negatif. Bagaimana harus bersikap dalam menghadapi pahit manis kehidupan.

Dan itu semua saya dapatkan di luar pendidikan formal.ㅤ
ㅤㅤ

Alhamdulillah saya termasuk yang hobi baca. Ketertarikan saya di bidang psikologi pada waktu kecil, membuat saya melahap banyak buku-buku motivasi remaja ketika masih kecil.

Sehingga ketika masalah hidup mulai menyapa, saya sudah punya tameng untuk bagaimana harus bersikap. Untuk tidak jatuh. Untuk tidak menyerah.ㅤㅤ
ㅤㅤ

Meski begitu, menurut saya tetap saja pendidikan itu penting, walaupun awalnya sebagai paksaan.

Contoh terpentingnya adalah mengaji.

Dari pengalaman pribadi saya, sewaktu kecil saya mengaji hanya karena turunan, hanya karena disuruh orang tua. Tapi tetap saja ada ilmu-ilmu dasar yang tertanam di hati saya. Yang menjadi landasan kuat ketika masalah hidup berdatangan.

Jadi, paksaan dari orangtua itu perlu untuk sesuatu yang sangat penting dan fundamental.

Karena itu sangat berguna sebagai bekal menjalani kehidupan.

Selebihnya, dari yang saya pelajari selama ini, akan sangat efektif jika pendidikan diarahkan ke minat dan bakat si anak.ㅤㅤ
ㅤㅤ

Kesimpulan ini saya dapatkan ketika bercermin dari pengalaman saya yang menjalani perkuliahan S1 yang salah jurusan.

Waktu itu memang saya menurut jurusan yang pilihkan oleh bude karena bude sayalah yang berjasa membiayai uang masuk kuliah saya.

Tapi bukan berarti saya menyesalinya. Karena kalau tidak masuk jurusan itu, saya mungkin tidak akan menjadi saya yang sekarang :)ㅤ
ㅤㅤ

Nah, ngomong-ngomong masalah salah jurusan sewaktu S1. Saya dulu sempat diam-diam memendam keinginan untuk melanjutkan kuliah S2, tapi dengan jurusan yang saya inginkan.

Tapi keinginan itu terkubur dalam-dalam dan terlupakan dikarenakan banyak hal. Dikarenakan saya masih sibuk bekerja demi keluarga, masih membenahi banyak hal, dan saya ingin menikah terlebih dahulu.

Terbiasa untuk mengutamakan keluarga (papa, mama, dan adik-adik) membuat saya melupakan impian itu. Fokus saya pada bekerja lalu menikah. Apalagi selama ini beban hidup menumpuk untuk dilunasi. Memikirkan itu saja membuat saya menyingkirkan impian saya jauh-jauh.
ㅤㅤ

Sampai beberapa hari yang lalu, topik ini terangkat. Membangkitkan kembali impian saya yang sempat terkubur dalam-dalam.

Karena selama ini saya selalu mengutamakan keluarga, ketika nantinya saya berkeluarga, saya juga mau memprioritaskan keluarga kecil saya. Suami dan anak-anak saya.

Jadi, yang selama ini terpikirkan adalah, bagaimana nanti saya akan merawat dan membesarkan anak saya sendiri. Saya bahkan ingin ketika sudah bekeluarga, saya berwirausaha atau bisnis online. Atau menulis. Atau pekerjaan apapun yang bisa saya kerjakan dari rumah.

Karena saya ingin melihat dan merawat anak saya tumbuh. Saya tidak ingin kehilangan masa-masa emasnya.

Tumbuh dengan didikan dan limpahan kasih sayang semasa kecil dari mama, membuat saya ingin anak saya nanti mendapat perhatian yang sama besarnya dari saya dulu.

Mama saya dulu seusai sholat maghrib, mengajari saya belajar di meja belajar. Mama menunggui saya dan mengajari saya. Itulah mengapa saya selalu meraih juara kelas, paling minim tiga besar.

Dan ketika berbagai masalah menerjang, semua sesi itu menghilang, satu yang paling saya rindukan dari mama adalah sesi-sesi belajar bersama mama seusai maghrib.

Jadi, saya ingin anak saya nanti mendapat perhatian penuh dari saya. Impian saya yang itupun terlupakan seiring berjalannya waktu.ㅤㅤ
ㅤㅤ

Nah, ketika topik pendidikan itu terangkat, saya kembali terusik.

Hal itu membuat saya bertanya dan berdiskusi dengan teman dan kakak sepupu saya yang melanjutkan kuliah di luar negeri, membawa suami dan anaknya.

Tentang bagaimana kemungkinannya.

Bagaimana pembagian waktu bersama suami dan anak.

Bagaimana biayanya.

Dan sejenisnya.
ㅤㅤ

Hasilnya membuat saya sangat bersemangat.

Karena inti dari yang mereka sampaikan, semua tergantung dari dukungan suami. Semua bisa dikomunikasikan dan diatur. Yang paling penting adalah ridho suami dan dukungan suami.ㅤㅤ
ㅤㅤ

“Kuliah dan kerja itu hanyalah bagian dari hidup. Yang paling penting adalah ada yang menemani jalan hidup itu.”

~ Elvitria Intan, teman kuliah yang sekarang kerja di Bosnia bersama suami dan anaknya.
ㅤㅤ

Malah suami dan anak-anak mereka ikut ke negara mereka. Dalam kasus kakak sepupu saya, yang dulu ambil kuliah S2 di Perth, suaminya ikut bekerja di sana. Dia membawa pula anaknya ke sana. Dan anaknya jadi jago banget bahasa inggris. Mungkin karena waktu kecil tumbuh di sana kali ya, hahaha.ㅤ
ㅤㅤ

That would be so nice if I can do it someday.
ㅤㅤ

Kalian tahu bagaimana rasanya menemukan kembali impian lama yang telah terkubur dalam-dalam? Menyadari impian itu muncul ke permukaan? Menemukan bahwa kemungkinan itu ada?

Rasanya tak terdefinisikan.

Bahagianya. Semangatnya.

Soalnya dengan latar belakang S1 yang berbeda dengan passion saya, keinginan dan dahaga untuk memperdalam ilmu yang saya sukai itu lama tersimpan di hati saya.ㅤㅤ
ㅤㅤ

Yang kembali memicu sumbunya adalah dia.

Hal ini mungkin tidak disadarinya. Tapi kemampuannya untuk menyalakan sumbu dan membangkitkan kembali impian terpendam saya, membuat saya semakin berterima kasih padanya.ㅤ
ㅤㅤ

It makes me grow.

And that would be nice if we can grow together.
ㅤㅤ

Sekarang, prioritas utama saya tetap menikah, menyempurnakan agama, dan mempunyai keturunan yang sholih dan sholihah.

Saya akan tetap memprioritaskan pertumbuhan anak saya di masa emasnya, karena di situlah mental dan pondasi seorang anak dibentuk.

Tapi ketika itu semua sudah berjalan aman, semoga suatu saat impian saya itu bisa tercapai. Aamiin.ㅤ
ㅤㅤ

Nah, sementara saya masih menunggu entah siapa yang jadi suami saya nanti, saya sambil banyak belajar.

Terutama ngaji. Saya sampai ditanya sama orang kantor karena saya selalu buru-buru pulang begitu waktu pulang tiba.

“Lho, sekarang ngajinya kok tiap hari?”

Bisa dibilang begitu, memang hampir setiap hari, karena saya mau menuntut ilmu. Mengejar ketertinggalan. Ilmu yang sangat penting dan saya merasa ketinggalan sangat banyak.

Sangat sangat banyak.ㅤㅤ
ㅤㅤ

Doakan lancar barokah ya 🙂

Saya doakan semoga semua yang membaca postingan ini dimudahkan segala urusannya dan dapat mencapai semua impiannya, aamiin.

ㅤㅤ
ㅤㅤ

Surabaya, 05 Maret 2017

(hil)

ㅤㅤ
ㅤㅤ

-o-

“Live as if you were to die tomorrow. Learn as if you were to live forever.”

~ Mahatma Gandhi

-o-

ㅤㅤ
ㅤㅤ

Credit image from Pinterest.
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s