.Awal Mula.

.weheartit.

 

“So many fail because they don’t get started – they don’t go. They don’t overcome inertia. They don’t begin.”

-W. Clement Stone, author-

 

How fast time flies. Rasanya saya belum melakukan apa-apa dan tahu-tahu saja sudah pergantian tahun. 2011 ke 2012.

Di malam pergantian tahun 2012 kemarin, saya bahkan tidak melakukan sesuatu yang berarti. Saya di kamar, menangis terharu — dan bukan karena evaluasi diri — melainkan karena menonton drama seri korea yang super romantis. Rasa-rasanya, tidak ada yang istimewa dengan bergantinya tahun. Saya hanya menikmati saat-saat senggang saya. Melakukan hal-hal santai yang saya sukai, seperti maraton menonton DVD dan membaca novel.

Namun, beberapa hari yang lalu, saya resah. Saya tidur dengan gelisah. Mengalami malam-malam dengan mimpi buruk. Kemudian, bangun dengan perasaan yang resah luar biasa. Saya sedih luar biasa sehingga rasanya ingin menangis keras-keras. Kegagalan terbayang di depan mata saya.

Aneh. Ini sangat aneh. Karena saya bukan tipe orang yang cemas berlarut-larut seperti ini. Saya tipe orang yang selalu memandang hidup dengan optimis. Lalu, mengapa saya luar biasa cemas seperti ini?

Akhirnya, kemarin malam saya merenung. Saya melihat kembali ke belakang. Saya menguraikan semua perasaan cemas saya. Saya mengupas semua masalah yang membuat resah. Dan saya menyadari, bahwa saya memang harus membenahi beberapa urusan yang tertunda. Urusan yang bercokol dalam pikiran saya. Yang menggelayut dan menghantui saya beberapa malam ini.

Saya menyadari satu hal.

Saya hanya harus memulai.

Saya tidak akan menyelesaikan urusan-urusan itu jika saya bahkan tidak memulai mengambil tindakan untuk membereskannya.

Kalau dipikir-pikir lagi, terkadang kita bukannya gagal. Kita hanya belum memulainya. Kita takut memulainya. Bagaimana kita bisa menilai diri kita sendiri gagal jika kita bahkan belum mencobanya, dan takut untuk memulainya?

 

Ya. Mungkin hari ini bukan 1 Januari.

1 Januari sudah lewat sepuluh hari.

Tapi ini merupakan awal mula bagi saya.

Bukankah memulai tidak selalu harus dari tahun baru?

Memulai tidak harus selalu karena alasan tahun baru, umur baru, atau apapun. Memulai tidak selalu harus menunggu alasan-alasan itu muncul.

 

Memulai, bagi saya, bisa setiap hari.

Kapan pun yang saya mau.

 

Dan saya memilih untuk memulai,

sekarang juga.

 

Selamat Tahun Baru 2012!

Selamat memulai!

 

11 Januari 2012,

(hil)

Run Hilda, Run!

.weheartit.

 

You can take everything I have. You can break everything I am
Like I’m made of glass. Like I’m made of paper
Go on and try to tear me down. I will be rising from the ground
Like a skyscraper. Like a skyscraper

Bukan. Saya bukan sedang patah hati atau apa.

Ini bukan tentang cinta. Ini tentang hidup dan all that sh*t.

Kadang masalah dalam hidup begitu rumit hingga masalah tentang cinta terasa remeh.

Kadang, saya bahkan tidak sempat untuk mengurusi cinta-cintaan.

Atau kadang, saya malah sengaja menggalaukan diri dalam masalah cinta, untuk ‘mengalihkan perhatian’ dari segala masalah hidup.

Tapi, seperti lirik lagunya Demi Lovato yang saya kutip di atas, saya tidak akan menyerah.

Go ahead. Jatuhkan saya. Saya akan bangkit dan berdiri lagi, like a skyscraper.

Satu yang saya tahu pasti. It will pass.

Segala cobaan ini hanyalah fase dalam hidup. Roda terus berputar. Tak selamanya kita di atas. Tak selamanya pula kita di bawah.

Jadi, ketika masalah menghantam, saya membisiki diri sendiri, “It will pass.”

Saya pasti bisa melaluinya. Badai pasti berlalu.

Saya telah membuktikannya berkali-kali, asal ada usaha dan doa, akan selalu ada jalan. Tuhan tidak akan memberikan kesulitan di luar batas kemampuan umat-Nya.

Kalau ujian terasa begitu berat, anggap saja kita sudah dianggap mampu, bahwa kita sudah level advance.

Akhir-akhir ini, saya mengingat sebuah cerita bagus – yang saya lupa saya baca di mana – tentang Petani, Anjing, dan Kelinci.

Alkisah, seorang Petani menyuruh Anjing mengejar seekor Kelinci yang mencuri wortel-wortelnya. Namun, si kelinci selalu lolos. Akhirnya, si petani marah dan gemas, kemudian bertanya pada sang Anjing. “Ada apa denganmu? Aku menyuruhmu mengejarnya dan menangkapnya. Kenapa dia selalu lolos?”

Si Anjing menjawab, “Ya, aku memang mengejarnya. But, but i am running for fun. If i couldn’t catch him, it’s not a big deal for me, though…

Lalu, Petani mendatangi kelinci, dan bertanya, “Kenapa kamu bisa selalu lolos dari kejaran anjing?”

Kelinci pun menjawab, “Yang kulakukan hanyalah berlari. I am running for life. If i didn’t run for life, i will die. Semudah itu.”

Kira-kira seperti itu kisahnya.

Ada dua hal yang bisa dipetik di sini. Run for life. Run for fun.

We have to run for life. Hidup ini keras. Kecuali kalau kita lahir dalam keluarga kaya raya yang bahagia sejahtera aman sentosa dan sehat sampai akhir hayat. Tapi, bagi kebanyakan orang, termasuk saya, life is hard. Kalau tidak mau tumbang oleh keadaan, kita harus berjuang. Kita harus bekerja kalau kita mau makan dan hidup enak. Tidak ada istilahnya kita ongkang-ongkang kaki, santai-santai, lalu uang akan jatuh begitu saja dari langit. Run! Run for life!

Tapi jangan lupa untuk bersenang-senang. Run for fun. Kejar target, impian, dan harapan sebagai cara untuk bersenang-senang. Lakukan untuk bersenang-senang! Jadi, ketika yang kita inginkan tidak terlaksana, kita tidak akan kecewa.

Saya juga bolak-balik berusaha menanamkan run for fun itu, agar saya tidak terlalu kecewa ketika keinginan-keinginan saya tidak terpenuhi. i’ll do it for fun, rite?

Jadi, ketika masalah menghantam saya, menjatuhkan saya ke tanah, saya akan bangkit, mengangkat dagu, dan berlari. Saya terus berseru pada diri saya sendiri, “Run Hilda, Run!”

Run for life. Run for fun.

Run for life. Saya akan menyelesaikan masalah saya. Berjuang untuk hidup.

Run for fun. Saya akan melakukannya untuk bersenang-senang.

 

Dan saya tidak akan bosan-bosan mengatakan ini :

Hidup ini hanya sekali. Mari kita nikmati.

 

 

Keep running,

(hil)

 

.I’ve Learned.

we only live once. let's living life to the fullest. no regret. 🙂

 

I’ve Learned

by Omer B. Washington

 

I’ve learned that you cannot make someone love you.
All you can do is be someone who can be loved.
The rest is up to them.
I’ve learned that no matter how much I care,
some people just don’t care back.
I’ve learned that it takes years to build up trust
and only seconds to destroy it.
I’ve learned that it’s not what you have in your life
but who you have in your life that counts.
I’ve learned that you can get by on charm for about fifteen minutes.
After that, you’d better know something.

I’ve learned that you shouldn’t compare yourself
to the best others can do,
but to the best you can do.
I’ve learned that it’s not what happens to people,
It’s what they do about it.
I’ve learned that no matter how thin you slide it,
there are always two sides.
I’ve learned that you should always have loved ones with loving words.
It may be the last time you’ll see them.
I’ve learned that you can keep going
long after you think you can’t.

I’ve learned that heroes are the people who do what has to be done
When it needs to be done,
regardless of the consequences.
I’ve learned that there are people who love you dearly,
but just don’t know how to show it.
I’ve learned that sometimes when I’m angry I have the right to be angry,
but that doesn’t give me the right to be cruel.
I’ve learned that true friendship continues to grow even over the longest distance.
Same goes for true love.
I’ve learned that just because someone doesn’t love you the way you want them to
doesn’t mean they don’t love you with all they have.

I’ve learned that no matter how good a friend is,
they’re going to hurt you every once in a while
and you must forgive them for that.
I’ve learned that it isn’t always enough to be forgiven by others.
Sometimes you have to learn to forgive yourself.
I’ve learned that no matter how bad your heart is broken,
the world doesn’t stop for your grief.
I’ve learned that our background and circumstances may have influenced who we are,
but we are responsible for who we become.
I’ve learned that just because two people argue, it doesn’t mean they don’t love each other.
And just because they don’t argue, it doesn’t mean they do.

I’ve learned that sometimes you have to put the individual
ahead of their actions.
I’ve learned that two people can look at the exact same thing
and see something totally different.
I’ve learned that no matter the consequences,
those who are honest with themselves go farther in life.
I’ve learned that your life can be changed in a matter of hours
by people who don’t even know you.
I’ve learned that even when you think you have no more to give,
when a friend cries out to you,
you will find the strength to help.

I’ve learned that writing,
as well as talking,
can ease emotional pains.
I’ve learned that the people you care most about in life
are taken from you too soon.
I’ve learned that it’s hard to determine where to draw the line between being nice
and not hurting people’s feelings and standing up for what you believe.
I’ve learned to love
and be loved.
I’ve learned…

 

I’m Possible :)

Universitas Indonesia

Nothing is impossible, the word itself says “I’m possible”!

~Audrey Hepburn~

“Ah, nggak mungkin…”

“Mana mungkin kamu bisa”

Kata-kata tersebut sering kita dengar dari orang di sekeliling kita ketika kita melontarkan mimpi atau keinginan kita.

Ya kan?

Padahal, kata-kata tersebut bisa menjadi dinding penghalang dalam perjalanan menuju impian kita.

Kata-kata tersebut biasanya bakal bikin kita minder dan berpikir ulang, “Iya ya, kayaknya nggak mungkin deh aku bisa”

Kata-kata “Impossible” itulah penghalang mimpi kita.

Bagaimana kita bisa sukses meraih mimpi kita itu, kalau belum-belum, kita sudah minder karena merasa nggak bisa?

Padahal, nggak ada yang nggak mungkin di dunia ini asalkan kita mau berusaha.

Ya kayak kata-katanya Audrey Hepburn diatas, nothing is impossible, the word itself says “I’m possible”

Jujur saja, dulu saya juga sering minder gara-gara denger kata “Nggak mungkin kamu bisa” dari orang-orang di sekeliling saya.

Tapi sekarang saya sadar, bahwa rasa minder itu hanya akan menjadi penghalang untuk mencapai impian saya.

Sebenarnya, yang kita semua butuhkan adalah: fokus, berusaha sekuat tenaga, dan mengeluarkan kemampuan yang terbaik untuk mencapai impian.

Kalau ada yang meragukan kemampuan, katakan saja: “Watch me!”

There are so many people out there who will tell you that you can’t. What you have got to do is turn around and say, “watch me!”

Salah satu contoh keberhasilan mencapai impian adalah adik saya, Fikar.

Adik saya berhasil mencapai impiannya, masuk ke Fakultas Hukum Universitas Indonesia lewat jalur SPMB.

Iya, UI!

Iya, SPMB!

Padahal, banyak yang bilang “Nggak mungkin, Fik”

Termasuk saya.

Saya ingat sekali, waktu itu saya bilang padanya,

“Ngapain kamu daftar SPMB fik? FH UI pula! Nggak mungkin keterima. Buang-buang duit pendaftaran aja fik. Kan kamu uda keterima di FH Unair. Udahlah, nggak mungkin bisa keterima FH UI spmb. Kursinya lho cuma diterima 30, yang daftar ratusan ribu. Mana mungkin!”

Jadi ceritanya, waktu itu adik saya sudah keterima PMDK Prestasi.

Keterimanya nggak main-main. Di semua tempat yang ia daftarkan. Di empat universitas yang berbeda sekaligus.

*iya, adik saya yang satu ini emang jenius luar biasa. Dia masuk akselerasi. Huah, betapa irinya saya pada kepintarannya, hehehe*

Yaitu, di Unair, UGM, Unibraw, dan UI. Tapi, UI-nya jurusan ilmu sejarah.

Nah, adik saya yang kepingin masuk Hukum, memilih melepas UI dkk, dan mengambil yang FH Unair.

Meski begitu, adik saya ini masih penasaran setengah mati.

Sebab, impiannya adalah bisa masuk FH UI.

Jadi, dia ngotot pengin ikut tes SPMB.

Padahal, peluang masuknya sangat kecil. cuma diterima 30 orang dari ratusan ribu yang mendaftar.

Hebatnya, Fikar nggak mau menyerah, dia nggak menghiraukan kata-kata “Nggak mungkin” dari semua orang.

Dia mau mencoba dan berusaha sekuat tenaga.

Waktu itu dia bilang, “lihat aja nanti!”

Dan benar! hasilnya, dia keterima!

Saya sangat shock saat tahu dia berhasil.

Dia bilang ke saya,” Tuh kan? aku bisa kan? dulu mbak bika bilang, aku nggak mungkin bisa. Nih, buktinya aku bisa, hahaha!” sambil tertawa dengan penuh kemenangan.

See? Adik saya, berhasil membuktikannya. Dia mencapai impiannya.

jaket almamater yang ditunjukkan pada saya saat Fikar pulang sebentar sebelum MOS dimulai.

Pelajaran berharga yang saya dapatkan dari adik saya adalah

Jangan pernah menyerah dalam menggapai impian.

Take a chance. Ambil tiap kesempatan yang ada.

Jangan hiraukan bisikan-bisikan yang mengatakan “Kamu nggak mungkin bisa.”

Ingat, “I’m Possible!

Believe yourself

Berikan kemampuan terbaik

Kalau sudah begitu, tinggal serahkan semuanya pada Tuhan.

Kita berusaha, Tuhan yang menentukan.

Kalaupun nanti ternyata gagal, setidaknya, kita sudah mencoba dan berusaha sekuat tenaga.

At least, kita bisa bilang, “I’ve tried

Daripada kita tidak pernah mencobanya dan menyesal di kemudian hari, alangkah baiknya kalau kita mencoba semua kesempatan yang ada.

Jangan pernah menggantungkan impian

Kejar terus sampai batas maksimal kemampuan

Ingat, hidup cuma sekali 🙂

Jadi, saya akan berusaha untuk mencapai impian-impian saya. Apa saja impian saya? Banyak. Nanti saja saya tulis di edisi khusus. Hehehe.

Semoga, impian-impian saya itu tercapai. Amiiinn 🙂

Yuk, raih impian kita!

xoxo,

(hil)

PS: Hei, Dzulfikar Kardawi Sabik, mbak-mu ini, Hilda Nurina Sabikah, sangat bangga padamu. Sangat bangga punya adik sepertimu. Thanks for inspiring me, little bro! 😉